• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Kota Bandung

Ngalap Berkah, DKM Masjid PWNU Jabar Gelar Doa Bersama Nisfu Sya’ban

Ngalap Berkah, DKM Masjid PWNU Jabar Gelar Doa Bersama Nisfu Sya’ban
​​​​​​​Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat menggelar doa bersama Nisfu Sya’ban yang jatuh pada Sabtu, 24 Februari 2024 atau bertepatan dengan 15 Sya’ban 1446 H. (Foto: NU Online Jabar)
​​​​​​​Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat menggelar doa bersama Nisfu Sya’ban yang jatuh pada Sabtu, 24 Februari 2024 atau bertepatan dengan 15 Sya’ban 1446 H. (Foto: NU Online Jabar)

Bandung, NU Online Jabar
Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat menggelar doa bersama Nisfu Sya’ban yang jatuh pada Sabtu, 24 Februari 2024 atau bertepatan dengan 15 Sya’ban 1446 H.

 

Pengurus DKM Masjid PWNU Jabar, ustadz Nur Zabidin mengatakan, kegiatan doa bersama di malam Nisfu Sya’ban merupakan tradisi yang sudah dilakukan oleh para ulama terdahulu. 

 

“Amalan di malam Nisfu Sya’ban itu bermacam-macam, khusus jamaah thoriqah Qadariyah Naqsabandiyah biasanya melakukan shalat sunnah sebanyak 100 rakaat. Namun, karena di masjid ini jamaahnya macam-macam kita ambil yang paling sederhana saja yakni membaca surat Yasin sebanyak tiga kali,” tuturnya.

 

Ustadz Nur Zabidin menjelaskan, di antara fadilah membaca surat Yasin di malam Nisfu Sya’ban salah satu di antaranya yakni memohon dipanjangkan umurnya, dilapangkan rezekinya dan dikuatkan imannya.

 

“Menurut para ulama menyampaikan salah satu fadilahnya yakni pertama, agar dipanjangkan usianya. Kedua diberikan rezeki yang banyak, yang berkah, yang halal, dan baik. Ketiga, dikuatkan imannya agar tidak goyah untuk memasuki bulan Ramadhan biar bisa bertemu Ramadhan dalam keadaan iman yang kuat sehingga bisa menjalankan ibadah yang maksimal,” ujarnya.

 

Melansir NU Online, malam Nisfu Sya'ban merupakan malam istimewa yang penuh berkah. Pada malam ini, Allah melimpahkan rahmat dan ampunan kepada hamba-Nya. Karena itu, alangkah baiknya kita menghidupkan malam ini dengan berbagai amalan ibadah.

 

Hal ini yang dipraktikkan oleh para ulama Salaf (generasi terbaik umat Islam) terdahulu. Keterangan ini diceritakan Syekh Ibnul Hajj dalam bukunya Al-Madkhal, dimana mereka selalu menyambut malam Nisfu Sya'ban dengan penuh kesungguhan dan melakukan banyak ibadah. 

 

وكان السلف رضي الله عنهم يُعَظِّمونها -أي: ليلة النصف من شعبان-، ويُشَمِّرُون لها قبل إتيانها، فما تأتيهم إلا وَهُمْ متأهِّبون للقائها، والقيام بحرمتها على ما قد عُلِمَ من احترامهم للشعائر على ما تَقَدَّم ذِكْرُه؛ هذا هو التعظيم الشرعي لهذه الليلة

 

Artinya; "Para pendahulu kita–semoga Allah meridhoi mereka–sangat memuliakan malam tersebut (yakni malam pertengahan bulan Sya'ban). Mereka mempersiapkan diri untuk menyambutnya sebelum malam itu tiba. Ketika malam itu datang, mereka telah siap untuk menyambutnya dan melaksanakan keutamaannya dengan penuh penghormatan terhadap syiar-syiar agama, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Inilah bentuk penghormatan yang syar'i terhadap malam tersebut. (Ibnul Hajj Al-Maliki, Al-Madkhal, [Kairo, Maktabah Dar Turats: 2008 ], Jilid I, halaman 292]

 

Sementara itu, terkait dengan hukum menghidupkan malam Nisfu Sya’an, para ulama klasik sepakat bahwa hukum menghidupkan malam Nisfu Sya'ban hukumnya sunah, seperti halnya menghidupkan malam-malam istimewa lainnya seperti 10 malam terakhir Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.     

 

Kesunahan menghidupkan malam nisfu Sya'ban ini, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ithafus Sadah karya Sayyid Murtadha Az-Zabidi, yang mengatakan dianjurkan memperbanyak amal kebaikan di malam-malam mulia tersebut.     

 

ومن المندوبات: إحياء ليالي العشر من رمضان، وليلتي العيدين، وليالي عشر ذي الحجة، وليلة النصف من شعبان، كما وردت به الأحاديث، وذكرها في "الترغيب والترهيب" مفصلة. والمراد بإحياء الليل: قيامه. وظاهره الاستيعاب، ويجوز أن يراد غالبه   

 

Artinya, "Dari sunah yang dianjurkan adalah memperbanyak ibadah di malam-malam 10 terakhir Ramadhan, malam dua Hari Raya, malam pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, dan malam Nisfu Sya'ban, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits dan dijelaskan secara rinci dalam kitab "Targhib wa Tarhib".     

 

Yang dimaksud dengan "memperbanyak ibadah di malam" adalah melakukan shalat malam. Secara lahiriah, hal ini mencakup segala bentuk ibadah, dan mungkin dimaksudkan kebanyakan dari itu. [Murtadha Az-Zabidi, Ithafus Sadah Syarah Ihya' Ulumiddin, [Beirut: Dar Kutub Al-Ilmiyah: 1971], Jilid III, halaman 708]

 

Pewarta: Agung Gumelar


Kota Bandung Terbaru