• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Hikmah

Padamnya Api Abadi Hingga Hancurnya Pasukan Abrahah Ini Sejumlah Peristiwa Menakjubkan Saat Kelahiran Rasulullah Saw

Padamnya Api Abadi Hingga Hancurnya Pasukan Abrahah Ini Sejumlah Peristiwa Menakjubkan Saat Kelahiran Rasulullah Saw
Padamnya Api Abadi Hingga Hancurnya Pasukan Abrahah Ini Sejumlah Peristiwa Menakjubkan Saat Kelahiran Rasulullah Saw (Ilustrasi: AM)
Padamnya Api Abadi Hingga Hancurnya Pasukan Abrahah Ini Sejumlah Peristiwa Menakjubkan Saat Kelahiran Rasulullah Saw (Ilustrasi: AM)

Rabiul Awal bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt dengan lahirnya Nabi terakhir Rasulullah Muhammad Saw. Beliau dilahirkan di kota Makkah menurut riwayat yang paling populer dan masyhur baginda dilahirkan pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun Gajah.


Kelahiran Rasulullah Saw disambut oleh semesta dan ditunggu-tunggu oleh umat manusia. Kehadirannya di dunia diutus oleh Allah Swt untuk menyempurnakan akhlak sebagaimana Hadis riwayat Ahmad dan Al-Hakim 


“Dari Abu Harairah radhiyallahu anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR Ahmad dan Al-Hakim).


Sebelum dan saat Nabi dilahirkan banyak peristiwa-peristiwa menakjubkan terjadi, semesta menyambutnya dengan penuh suka cita, bukan hanya oleh makhluk Allah di bumi, melainkan juga di langit. Malaikat di langit menyiarkan beritanya dengan suara riuh rendah. Jibril datang dengan suara gembira. Arasy bergetar. Para bidadari surga keluar menebarkan aroma wewangian. 


Malam kelahiran Nabi adalah malam yang bertaburan cahaya yang memancar dari langit biru bening. Kehadiran Nabi Muhammad, adalah anugerah besar bagi dunia manusia dan semesta raya.
 

Hancurnya Pasukan Raja Abrahah
Kehancuran pasukan Gajah Raja Abrahah yang hendak menyerang Ka’bah dipukul mundur dan bahkan hancur lebur oleh serangan kawanan burung Ababil. Peristiwa ini berlangsung pada tahun 571 M, atau tahun Gajah tepat pada tahun kelahiran Nabi SAW.   


Penyerangan oleh Raja Abrahah sendiri dipicu atas kecemburuannya melihat bangunan Ka’bah yang selalu ramai dikunjungi masyarakat Arab dari berbagai penjuru. Kendati sudah mendirikan gereja super megah sebagai tandingannya, namun masyarakat Arab tetap memilih berkunjung ke bangunan tua yang didirikan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut. Itulah alasannya Abrahah bertolak dari Yaman bersama pasukan bergajah untuk menghancurkan rumah Allah tersebut.


Namun, Allah berkehendak menyelamatkan rumah-Nya. Gajah-gajah Abrahah berhenti di tempat yang dikehendaki-Nya. Saat itulah Rabbul Ka‘bah menurunkan kawanan burung Ababil dari berbagai penjuru dengan membawa batu-batu dari tanah yang membara dengan api. Batu-batu tersebut kemudian ditimpakan dari atas ke kepala bala tentara Abrahah. Kedahsyatan peristiwa ini pun  diabadikan Al-Quran dalam surah al-Fil (5) ayat 1-5. Bahkan, hewan gajah sendiri menjadi nama surat yang mengisahkan peristiwa tersebut. (Lihat Sîrah Ibni Ishaq, Darul Fikr, Beirut, Cetatakan Pertama, halaman 59-62).


Padamnya Api Abadi Sesembahan Majusi
Agama Majusi merupakan salah satu aliran teologis yang sudah ada jauh sebelum kedatangan agama Islam. Pengikut agama ini dikenal sangat menyarkralkan salah satu unsur alam yaitu api. Bagi mereka, api adalah kekuatan yang bisa memberi perlindungan dari segala macam bahaya serta mampu menganugerahi kesejahteraan bagi umat manusia.    


Sebab itu, mereka meyakini api sebagai Tuhan yang harus disembah. Konon, mereka punya api yang tidak pernah padam selama ribuan tahun. Hanya, api ini padam saat Nabi Muhammad lahir. Dalam satu riwayat Imam al-Baihaqi disebutkan:


لما كانت الليلة التي ولد فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم ارتجس إيوان كسرى، وسقط منه أربع عشرة شرفة، وخمدت نار الفرس، ولم تَخمُد قبل ذلك بألف عام، وغاضت بحيرة سَاوة   


Artinya, “Pada malam kelahiran Nabi Muhammad saw, balkon istana Kisra runtuh, 14 gereja runtuh, api (sesembahan Majusi) di Persia padam yang sebelumnya menyala selama 1000 tahun, dan gereja Bahira ambles ke tanah.”   


Menurut Imam az-Zurqani, selain diriwayatkan Imam al-Baiqahi, hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim al-Khara’iti, Ibnu ‘Asakir, dan Ibnu Jarir ath-Thabari, yang semua sanadnya sampai kepada Hani al-Makhzumi (Imam Abu Abdilah az-Zurqani, Syarh Mawahibul Ladduniyyah, 2012: juz I, halaman 228).


Seiring dengan kejadian itu, air danau Sawah surut, lembah Samawah kebanjiran, sejumlah mata air mengering, sehingga membuat Kisra dan rakyatnya bingung dan kelimpungan. Dikabarkan pula, seorang kepercayan Kisra bernama al-Mubidzan bermimpi melihat unta-unta bermuatan berat menuntun kuda-kuda bagus. Unta-unta tersebut berjalan mengarungi sungai Tigris dan sungai Eufrat lalu menyebar ke sejumlah negerinya.


Tertutupnya Akses Langit bagi Iblis
Sebelum Nabi Muhammad lahir, konon iblis bisa mendengar perbincangan malaikat soal suratan takdir di langit ketujuh. Kemudian, iblis akan menyampaikan informasi rahasia itu kepada para dukun sehingga mereka bisa mengetahui hal-hal gaib. Meski begitu, informasi yang dibawa jin seringnya sengaja dipelintir. Begitu Nabi saw lahir, akses portal langit itu ditutup dan iblis pun tidak bisa lagi mencuri dengar. Terkait hal ini, As-Suhaili dalam ar-Raudhul Unf menyampaikan:


 رُوِيَ فِي مَأْثُورِ الْأَخْبَارِ أن إبليس كان يخترق السّماوات قَبْلَ عِيسَى، فَلَمّا بُعِثَ عِيسَى، أَوْ وُلِدَ حجب عن ثلاث سماوات، فَلَمّا وُلِدَ مُحَمّدٌ حُجِبَ عَنْهَا كُلّهَا، وَقُذِفَتْ الشّيَاطِينُ بِالنّجُومِ   


Artinya, “Diriwayatkan dalam beberapa hadits yang ma’tsur, dulu iblis bisa mencuri dengar di langit sebelum Nabi Isa diutus. Setelah Isa diutus atau dilahirkan, tertutup tiga lapis langit. Hingga Nabi Muhammad lahir, iblis tidak bisa lagi mencuri dengar sama sekali, sebab setan-setan sudah dilempari dengan bintang-bintang.” (Abul Qasim as-Suhaili, ar-Raudhul Unf, juz II, halaman 194).


Lahir dalam Keadaan Sujud
Jika bayi pada umumnya lahir dalam keadaan menangis dan belum bisa apa-apa, lain lagi dengan Nabi Muhammad yang lahir dalam keadaan sujud. Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam Khasaishul Kubra melaporkan bahwa begitu keluar dari rahim Siti Aminah, Nabi Muhammad sujud lalu mengangkat kedua tangannya seperti orang berdoa. (Jalaluddin as-Suyuti, Khasaishul Kubra, 2017: 82).


Lahir dalam Keadaan Sudah Dikhitan 
Salah satu kewajiban bagi setiap laki-laki adalah melakukan khitan setelah mencapai usia baligh, meskipun sebaiknya dilakukan lebih dini pada usia kurang lebih tujuh tahun. Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad adalah sudah dalam keadaan dikhitan saat lahir.


Menurut Syekh Sulaiman al-Bujairami, selain Nabi Muhammad ada 14 nabi lain yang lahir sudah dalam keadaan sudah dikhitan, yaitu Nabi Adam, Nabi Syits, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh, Nabi Luth, Nabi Syu’aib, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, dan Nabi Handzalah bin Shafwan. (Hasyiyah al-Bujairami ‘alal Khatib, juz V, halaman 262).     


Pertama Kali Dinamakan Muhammad 
Secara bahasa, kata ‘muḫammad’ merupakan isim maf’ul dari kata ‘ḫamdun’ yang berarti pujian. Artinya, nama ini merupakan salah satu kosa kata bahasa Arab yang sudah semestinya tidak begitu asing di kalangan masyarakat Makkah saat itu. Anehnya, nama itu tidak pernah terbesit dalam pikiran orang Arab untuk dijadikan nama bagi anak-anak mereka. Nama ini pertama kali dipakai oleh Nabi Muhammad saw.    


Imam Ibnu Qutaibah menegaskan, salah satu irhâsh atau peristiwa luar biasa yang menjadi pertanda akan dilahirkannya Nabi Muhammad adalah belum ada satu orang pun yang menggunakan kata “muhammad” sebagai nama. Hal ini sengaja Allah lakukan demi menjaga kesucian Nabi Muhammad sebagaimana hal serupa juga dilakukan kepada Nabi Yahya as. (Syihabuddin al-Qastalani, Mawahibul Ladduniyah, 2009: juz I, halaman 374).   


Adapun orang yang memberi nama tersebut adalah sang kakek, Abdul Muthallib. Sebab, ia menghendaki cucunya kelak menjadi orang yang dipuji oleh seluruh makhluk.   


Dikisahkan, Abdul Muthalib mendapat nama tersebut dari sebuah mimpi. Dalam mimpi ia melihat rantai perak yang keluar dari punggungnya. Rantai itu memiliki empat ujung yang masing-masing membentang ke arah berbeda. Satu berada di langit, satu berada di bumi, satu berada di arah barat, dan satu lagi berada di arah timur. Kemudian, rantai itu berubah menjadi pohon yang semua daunnya memancarkan cahaya. Seluruh manusia bergelantungan pada pohon itu.   


Setelah ditafsiri, ternyata mimpi itu mengisyaratkan bahwa kelak ia akan mempunyai keturunan yang akan diikuti oleh manusia dari barat sampai timur dan mendapat pujian dari penduduk langit dan bumi. Sejak saat itu pula ia bertekad jika keturunan itu sudah lahir akan dinamai “Muhammad” yang artinya “orang yang banyak mendapat pujian”. (Imam Abu Abdilah az-Zurqani, Syarh Mawahibul Ladduniyyah, 2012: juz I, halaman 162).


Keajaiban menimpa Halimah As-Sa‘diyah
Ia adalah ibu persusuan Nabi Muhammad Saw. Diceritakan dalam Sirah Ibnu Hisyam, bahwa kala itu serombongan wanita dari bani Sa‘id datang guna mencari bayi yang akan disusuinya demi mendapatkan upah dan bayarannya, termasuk Halimah yang diantar oleh suami beserta bayi mungilnya. Namun, dua hari berada di Makkah, Halimah belum juga mendapatkan bayi. 


Di antara bayi yang ada, tinggal bayi bernama Muhammad bin ‘Abdullah yang belum mendapat ibu susuan. Bayi ini tidak dipilih karena kondisinya yang yatim, harapan mereka mendapat upah dari bekerja menyusuinya tak akan terpenuhi. Namun, karena tak mau pulang dengan tangan kosong, akhirnya Halimah sepakat dengan sang suami untuk mengambil bayi yatim bernama Muhammad itu.


Tak diduga, begitu sang bayi diterima, dan dibuka kain bungkusnya, Halimah melihatnya penuh takjub. Wajah sang bayi yang bercahaya membuat dirinya begitu kagum karena baru itu ia mendapatkan bayi yang luar biasa. 

 
Tak sampai di situ, begitu si bayi disusui, air susu dari Halimah mengalir deras. Bahkan, unta yang ditumpangi mereka yang semula kurus seketika menjadi gemuk dan kuat menempuh perjalanan. Sejak itu, keberkahan pun berlimpah, tidak hanya kepada keluarga Halimah, tetapi juga kepada kabilahnya.


Artikel tersebut di olah dari berbagai judul di NU Online
 


Hikmah Terbaru