Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Murid Gagal 

Murid Gagal 
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Oleh: Muhammad Khodafi
Semua guru yang baik selalu mendoakan murid-muridnya menjadi orang yang sukses (bermanfaat dan berkah ilmunya). Tetapi kenapa ada murid  yang merasa "gagal" dan bahkan "benci" sama gurunya yang baik?

 

Konon karena si murid tidak benar-benar berguru tapi sekedar menuruti keinginannya yang disandarkan pada gurunya. Karena itu ketika keinginannya murid itu tidak tercapai mereka kecewa. Hakekatnya mereka tidak pernah mengamini do'a para gurunya yang dirapalkan setiap saat. Seandainya setiap murid mengamini do'a para gurunya, maka ketersambungan berkah akan selalu hadir.

 

Sebab gurulah yang dititipi ilmu untuk disampaikan kepada sang murid, sebagaimana nabi diberi amanah Al Qur'an untuk disampaikan pada umatnya.

 

Ilmu sebagai cahaya "peradaban": tidak hanya berupa seperangkat pengetahuan, tetapi juga seperangkat keyakinan tentang hukum sebab akibat yang berujung pada sebab yang tak membutuhkan sebab. Kualitas kemahlukan dibangun atas relasi kemakhlukan, sedangkan kualitas keyakinan dibangun atas relasi ketauhidan. Maka relasi kemahlukan itu berpotensi besar tidak memuaskan jika tanpa dilandasi keyakinan tauhid yang mantap.

 

Mengamini doa para guru adalah bagian dari keyakinan tauhid itu sendiri. Maka pantas saja para murid yang merasa tidak perlu mengamini doa para gurunya tidak mendapatkan "keberkahan" ilmu Allah yang diwasilahkan lewat para guru. 

 

Murid Gagal bukanlah murid yang miskin dan murid kaya bukan pula ukuran murid sukses. Murid sukses adalah murid yang mampu mengamalkan ilmu Allah yang diwasilahkan lewat para gurunya  kepada dia. Sehingga keberkahan ilmunya melimpah secara berkelanjutan dalam pengalaman hidupnya, minimal pada dirinya sendiri dan keluarga terdekatnya (pasangan dan anaknya).

 

Sedangkan murid gagal adalah murid yang tidak merasa ilmunya adalah anugerah Allah yang diberikan kepadanya lewat para gurunya. Sehingga tidak mau bersyukur dan "mengamini" doa mulia para gurunya. Untuk para guru-guru kita semua Al Fatihah.

 

Penulis merupakan salah seorang dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×