• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 15 April 2024

Hikmah

Kisah Seorang Lelaki yang Dilunasi Utangnya berkat Surat Al-Ikhlas

Kisah Seorang Lelaki yang Dilunasi Utangnya berkat Surat Al-Ikhlas
(Ilustrasi: NU Online).
(Ilustrasi: NU Online).

Suatu hari, Nabi Muhammad SAW sedang duduk di pinggiran kota Madinah. Tiba-tiba melintaslah sebuah iring-iringan yang membawa jenazah seorang laki-laki.


Nabi Muhammad SAW pun bertanya, “Apakah mayat laki-laki itu meninggalkan utang?”


Para sahabat menjawab, “Betul, laki-laki ini meninggalkan utang sebanyak empat dirham.”


“Shalatkanlah laki-laki itu oleh kalian, karena aku tidak mau menshalati orang yang memiliki utang, lalu meninggal dan belum melunasinya,” tutur Nabi Muhammad SAW.


Tidak lama setelah itu, turunlah malaikat Jibril dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah titip salam kepadamu dan berpesan, ‘Aku telah mengutus Jibril dalam rupa manusia dan melunasi utang laki-laki itu.’ Maka bangkitlah engkau dan shalatkanlah jenazah itu. Sebab, ia telah diampuni Allah dan Dia juga menyampaikan, siapa saja yang menshalati jenazah tersebut, maka dia juga turut diampuni.”


Penasaran terhadap alasannya, Nabi Muhammad SAW. pun bertanya kepada malaikat Jibril, “Wahai saudaraku Jibril, dari manakah kemuliaan laki-laki yang meninggal itu?”


Malaikat menjelaskan, “Berkat membaca Surat al-Ikhlas setiap hari sebanyak seratus kali. Pasalnya, di dalam surat itu terdapat penjelasan sifat-sifat Allah dan pujian kepada-Nya. Dan siapa saja yang membaca Surat al-Ikhlas satu kali seumur hidupnya, maka dia tidak akan keluar dari dunia ini (meninggal), kecuali telah melihat tempatnya di surga. Khususnya, siapa saja yang membaca surat ini dalam shalat lima waktu sebanyak beberapa kali, maka pada hari Kiamat akan diberi syafaat, bahkan diberi kesempatan untuk memberikan syafaat kepada kerabatnya yang telah divonis masuk neraka.” (Lihat: Syekh Muhammad Abu Bakar, Mawa‘izh al-‘Ushfuriyyah, [Surabaya: Maktabah Muhammad ibn Ahmad Nabhan], hal. 20).


Dari kisah ini dapat diambil sejumlah pelajaran berharga, di antaranya yakni betapa mulia dan istimewanya Surat al-Ikhlas, sehingga orang yang rutin membacanya seratus kali setiap hari, diampuni dosanya; siapa saja yang membacanya walau satu kali dalam hidupnya, maka dia tidak meninggal sampai diperlihatkan kepada tempatnya di surga kelak dan siapa saja yang membacanya dalam shalat lima waktu, maka dia tidak akan diberikan syafaat dan juga diberi kesempatan untuk mensyafaati kerabatnya yang telah ditetapkan masuk neraka. 


Tidak hanya itu, kisah di atas menunjukkan bahwa saking agung dan istimewanya surat ini, orang berutang yang rutin membacanya mendapat pertolongan dari Allah. Di antara faktor keagungannya adalah karena di dalamnya terdapat penjelasan tentang sifat-sifat Allah dan pujian kepada-Nya. Pada saat yang sama, tentu Allah juga ridha kepada orang yang membaca surat tersebut.


Akan tetapi, dalam kaitan ini, perlu diluruskan bahwa Surat al-Ikhlas bukanlah “pelunas utang”. Utang harta tetaplah wajib dibayar karena itu merupakan hak adami yang semestinya beres di dunia. Gambaran tentang betapa beratnya orang meninggal dalam keadaan meninggalkan utang tampak dari sikap Nabi Muhammad SAW. yang tidak berkenan menshalatinya.


Siapa saja yang tengah dililit utang, tetaplah berusaha untuk bisa membayarnya, dan berikhtiar dengan membaca surat ini dengan harapan Allah membuka jalan kemudahan untuk melunasinya atau membebaskannya di akhirat. Wallahu a’lam.


Penulis: M. Tatam Wijaya
Sumber: NU Online


Hikmah Terbaru