• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 15 April 2024

Doa

Agar Silaturahmi Tidak Terputus, Baca Doa Berikut Ini saat Membayar Utang

Agar Silaturahmi Tidak Terputus, Baca Doa Berikut Ini saat Membayar Utang
Ilustrasi (NU Online/Freepik)
Ilustrasi (NU Online/Freepik)

Sebagai umat Muslim yang baik kita dianjurkan untuk saling mendoakan sesama umat Muslim lainnya. Hal itu juga berlaku saat kita hendak membayar utang kepada seseorang. Terlebih, orang tersebut sudah mau berbaik hati meminjamkan utang kepada kita di saat kita sedang membutuhkan. 


Selain itu, mendoakan orang yang sudah berbaik hati meminjamkan utang bisa menjadi bentuk ucapan terima kasih kepada orang tersebut, sekaligus menunjukkan adab yang tinggi orang yang berutang.


Abdullah bin Abi Rabi’ah ra meriwayatkan sebuah doa yang dianjurkan ketika kita hendak membayar utang, berikut doanya: 


بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ 


Bārakallāhu laka fī ahlika wa mālika.


Artinya: “Semoga Allah memberkati mu pada keluarga dan hartamu.” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz I, halaman 407).


Selain berdoa, berikut adalah beberapa etika yang perlu diperhatikan bagi orang yang berutang:

 
  1. Memiliki niat yang kuat untuk membayarnya ketika hendak berutang.
  2. Hadirkan saksi jika nominal utang-piutang tersebut cukup banyak. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari perselisihan antara pihak yang berutang dan yang mengutangi jika ada kesalahpahaman.
  3. Segera membayarkan utang jika memiliki rezeki lebih, dengan catatan kebutuhan pokok dia dan keluarganya sudah terpenuhi.
  4. Ketika pemberi utang menagihnya karena sudah jatuh tempo dan mencegahnya untuk tidak pergi, maka ia wajib mematuhinya karena bepergian dikhawatirkan ada potensi utang tidak terbayarkan.
  5. Pemilik utang harus mempersilakan seandainya pemberi utang ingin menginap di rumah atau bahkan mengikutinya ke mana-mana karena dia mendapatkan hak tersebut selama sudah sampai waktu jatuh tempo.


Balasan bagi orang yang melalaikan utang


Dijelaskan para ulama, siapa saja yang berhutang dengan niat akan melunasinya, maka Allah akan memberikan jalan kemudahan dalam melunasinya. Sebaliknya, orang yang berhutang, tetapi tidak ada niat untuk melunasinya, maka Allah akan membiarkan orang itu dalam kesulitan hidup.   


Beratnya dosa orang yang melalaikan hutang, sampai-sampai ia terbunuh dalam keadaan syahid sekalipun, maka dosa hutang tetap tidak terampuni. Demikian sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw.


 فِي الدَّيْنِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلًا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، ثُمَّ عَاشَ، ثُمَّ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، ثُمَّ عَاشَ، ثُمَّ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، ثُمَّ عَاشَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَقْضِيَ دَيْنَهُ 


Artinya, “Dalam urusan hutang, demi Zat yang menggenggam jiwa Muhammad, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, kemudian hidup lagi, kemudian terbunuh lagi di jalan Allah, kemudian hidup lagi, kemudian terbunuh lagi di jalan Allah, kemudian hidup lagi, tetapi ia memiliki tanggungan hutang, maka ia tidak akan masuk surga sampai melunasi hutangnya,” (HR. Ahmad).


Sumber: NU Online


Doa Terbaru