Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kaum Literalis Konservatif Radikal Akan Ditinggalkan

Kaum Literalis Konservatif Radikal Akan Ditinggalkan
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Oleh: KH Husein Muhammad
Saat perang berkecamuk, pihak yang terdesak kalah mengibarkan mushaf Al Qur'an sambil berteriak : "Kita harus kembali ke al Quan dan kita putuskan berdasarkan al Quran". 
Mendengar seruan ini Ali bin Abi Thalib mengatakan : Pernyataan seruan itu benar. Tapi bagaimana serta apa maknanya. Lalu beliau mengatakan :

 

القران بين دفتي المصحف خط مسطور لا ينطق وانما يتكلم به الرجال . 

 

"Al Qur'an dalam dua wajah lembaran (mushaf) itu adalah tulisan. Ia tidak bicara. Yang bicara (memaknai) adalah orang-orang". 

 

Fakta sepanjang sejarah menunjukkan dengan jelas kaum muslimin berbeda pemahaman/pendapat dalam banyak sekali kasus. Madzhab-mazhab/aliran-aliran dalam teologi, hukum dan tasawuf (spiritual) dan lain-lain berkembang dengan pandangannya yang beragam. Padahal semuanya mengacu, merujuk dan memedomani al Quran dan hadits Nabi sebagai dasar pengambilan keputusannya.

 

Pemaknaan literal tunggal atas teks-tejs ak Quran mendapat kritik tajam Imam Abu Hamid Al Ghazali, sang Hujjah al Islam (argumentator Islan) yang jenius. Ia mengatakan : 

 

فاعلم ان من زعم ان لا معنى للقرآن الا ما ترجمه ظاهر التفسير فهو مخبر عن حد نفسه وهو مصيب فى الاخبار عن نفسه ولكنه مخطئ فى الحكم برد الخلق كافة الى درجته التى هى حده ومحطه بل الاخبار والاثار تدل على ان فى معانى القرآن متسعا لارباب الفهم.

 

"Ketahuilah bahwa orang yang beranggapan bahwa al-Quran hanya bisa dimaknai menurut makna literalnya (tersurat, harfiyah) adalah orang yang sedang memberitahukan keterbatasan pengetahuannya. Dia benar dalam hal pemberitahuannya itu untuk dirinya sendiri. Tetapi dia keliru jika hal itu harus diberlakukan untuk orang lain. Banyak hadits dan sumber dari sahabat Nabi yang nenunjuklan bahwa al-Quran itu memuat makna yang sangat luas bagi orang-orang yang cerdas dan pintar. 

 

Pemaknaan literal atas teks al Qur'an sebagai satu-satunya kebenaran dan bersifat universal, dipandang telah membatasi kehendak Tuhan yang tak terbatas.

 

Pandangan kaum literal konservatif radikal akan ditinggalkan gerak sejarah ke depan yang tak pernah berhenti sampai hari kiamat.

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×