Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Ithaf Al-Dzaki (3): Pada Mulanya adalah Kata

Ithaf Al-Dzaki (3): Pada Mulanya adalah Kata
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Bila pernyataan Tuhan dan Nabi tidak mungkin kontradiktif, maka mengapa dalam faktanya terjadi perbedaan pendapat di dalam mazhab-mazhab, ada perdebatan, perseteruan, saling sesat-menyesatkan, pengkafiran dan bahkan tragedy pembunuhan atas nama teks-teks agama di kalangan kaum muslimin, sebagaimana sudah dikemukakan?.  


Syeikh al-Kurani mengeksplorasi akarnya. Jika saya menyimpulkannya lebih awal, maka akar itu adalah “kata”. Ya, perdebatan dan perseteruan itu “Berawal dari Kata”.


Imam Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan : “Al-Qur’an adalah kata-kata di antara dua bingkai mushaf. Ia tidak bicara apa-apa. Yang bicara adalah manusia”. Dan ia adalah “corpus terbuka” untuk dimaknai oleh manusia untuk memperoleh “hidayah” Tuhan. Pada kesempatan lain Ali bin Abi Thalib mengatakan : “Al-Qur’an Hammal Awjuh” (al-Qur’an mengandung multi perspektif): Fiqhy, Kalamy, Sufiy dan sebagainya.


Syeikh al-Kurani, untuk ini, mengulas panjang lebar sambil mengutip sejumlah sumber legitimasinya dari al-Qur’an, Hadits Nabi dan sejumlah tokoh otoritatif. Syeikh al-Kurani antara lain menyebut beberapa sumber yang menyatakan bahwa:


إن للقرآن ظهرا وبطنا وحدا ومطلعا


"Setiap ayat al-Qur’an mengandung makna lahir, batin, had dan mathla’” dan riwayat yang lain. 


Tetapi apakah makna empat kata: dhahir, bathin, had dan mathla’ tersebut?. Syeikh al-Kurani dalam buku ini menyebutkan beberapa tafsir atasnya, antara lain dari Jalal al-Suyuthi. Katanya : Dhahir adalah apa yang nampak. Bathin adalah yang samar bagai ruh yang suci yang tersembunyi. Had adalah pembatas, bagai “barzakh”, jembatan yang mengantarkan makna lahir ke makna batin. Mathla’ adalah makna yang mengantarkan kepada pengetahuan tentang hakikat. Tafsir lain dikemukakan oleh Sufi besar Abd Allah al-Muhasibi mengatakan: “Dhahir adalah bacaannya (tilawah), bathin adalah ta’wil, had adalah puncak pemahaman dan mathla’ adalah melampaui batas, ekstrim dan kedurhakaan”. 


Al Sulami (w.937), sufi terkemuka mengatakan : “Dhahir adalah bacaannya, bathin adalah ta’wil, had adalah hukum-hukum halal-haram dan mathla’ adalah kehendak Tuhan”. 


Berbeda dengan kedua tokoh besar ini, al-Syeikh al-Akbar Muhyiddin ibn ‘Arabi mengatakan:


“Dhahir adalah tafsir, bathin adalah ta’wil, had adalah puncak pemahaman manusia dan mathla’ adalah pengetahuan untuk mencapai kondisi dapat menyaksikan Tuhan (ma yash’adu ilaihi minhu fa yathla’u ‘ala syuhud al-Malik al-‘Allam. 


Syeikh al-Kurani menambahkan bahwa makna bathin sendiri bahkan mengandung sampai tujuh tingkatan bahkan sampai tujuh puluh. Kata lain dari semua itu sesungguhnya adalah bahwa makna sebuah teks al-Qur’an sangatlah multikompleks, multi dimensi dan bahkan tidak terbatas. Sufi agung Syeikh Abd Allah Sahl al-Tustari (w. 896) mengatakan:


“Andaikata seorang hamba Allah dianugerahi seribu pemahaman atas satu huruf al-Qur`an, niscaya dia tidak akan mencapai maksud Tuhan yang diungkapkan dalam kitab suci-Nya. Karena ia adalah Kalamullah. Kata-kata Tuhan adalah Sifat-Nya. Tuhan Maha Tak Terbatas, maka kata-kata-Nya juga tak terbatas. Apa yang dapat dipahami oleh masing-masing orang adalah sebatas apa yang dianugerahkan Allah kepadanya.” 


Apa yang dapat kita simpulkan dari uraian di atas adalah bahwa teks-teks keagamaan sesungguhnya dapat dimaknai secara berbeda-beda dan berlapis-lapis, sebagaimana berbeda-beda dan berlapis-lapisnya tingkat intelektualitas manusia. Semua makna tersebut sah dan dapat dibenarkan sepanjang, menurut Syeikh al-Kurani beberapa kali, memungkinkan dilihat dari aspek linguistiknya, termasuk pemaknaan aforisme dan metaforismenya.

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×