Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Imam Malik Selalu Bersuci dan Jalan Kaki 

Imam Malik Selalu Bersuci dan Jalan Kaki 
Ilustrasi: NUO.
Ilustrasi: NUO.

Dini hari tadi, di rumah tetangga dan di majid Jami' Arjawinangun, aku mengantar calon Jamaah Haji dari KBIH ku. Sebelum aku memimpin doa pelepasan aku menyampaikan pesan-pesan.
 

  1. Agar menjaga kesehatan agar bisa melaksanakan manasik dan ibadah lain dengan penuh.
  2. Agar selama berada di dua kota suci Makkah dan Madinah, menjaga etika luhur, kesopanan karena di Makkah di samping ada Kakbah, juga ada tempat lahir Rasulullah. Di Madinah ada "pesarean" tempat istirahat beliau dan para sahabatnya.
  3. Usahan agar senantiasa dalam keadaan bersih dan suci.


Ini terinspirasi oleh kisah Imam Malik bin Anas berikut ini :

 
  • Menulis 100.000 Hadits


Imam Malik adalah pelopor penghimpunan hadits-hadits Nabi, jauh sebelum Imam Ismail al-Bukhari (810-870 M), dan Imam Muslim bin al-Hajjaj (822-875 M). Ia menulis Buku kompilasi hadits-hadits Nabi yang diberi judul “al-Muwatha”. Ia bermakna “yang disepakati/disetujui”. Imam Jalal al-Din al-Suyuthi, mengisahkan penamaan kitab ini.


عرضت كتابى هذا على سبعين فقيها من فقهاء المدينة. فكلهم واطأنى عليه . فسميته الموطأ


"Saya menunjukkan kitabku ini kepada 70 ahli fiqih Madinah. Semuanya sepakat atasnya. Maka aku memberinya nama al-Muwaththa'." (Tanwir al-Hawalik, hlm. 7).


Ia juga bisa berarti mudah, sistematis.


Ia hapal dan menguasai puluhan ribu hadits. Bahkan ia telah menulis seratus ribu hadits. Tentang ini ia sendiri mengatakan :


كتبت بيدى مائة الف حديث


“Aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100.000 hadits “. (Abd Allah Musthafa Syalabi, Thabaqat al-Ushuliyin, hlm. 118).

 
  • Wudhu dan Jalan Kaki


Adalah menarik bahwa pada setiap Imam Malik bin Anas akan meriwayatkan hadits kepada para sahabatnya, ia lebih dulu mengambil wudhu, duduk dengan tenang, dan menyisir rambutnya. Manakala ditanyakan soal ini, ia menjawab : “Saya senang menghormati hadits Rasulullah saw “.


Di Madinah, tempat kelahiran dan menetapnya Imam Malik tidak pernah naik kendaraan, meski usianya sudah tua dan lemah. Ia lebih memilih berjalan kaki saja. Ketika ia ditanya mengapa begitu, ia menjawab bahwa di Madinah ini terdapat tempat istirahat Rasulullah saw. Ia sangat menghormati Nabi yang mulia, Muhammad, Shallallah ‘alaih Wasallam. Katanya :


أستحي من الله أن أطأ تربة فيها رسول الله بحافر دابة .


“Aku malu kepada Allah jika kaki kendaraanku menginjak tanah di mana Rasulullah berada/beristirahat”. (Baca: Qadhi ‘Iyadh, dalam “al-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa, pasal 7 : I’zaz wa Ikram Man Lahu Shilah bih Shallallah ‘alaih Wasallam).


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×