• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Rabu, 21 Februari 2024

Hikmah

KOLOM BUYA HUSEIN

Gus Dur Sang Nasionalis

Gus Dur Sang Nasionalis
Gus Dur Nasionalis
Gus Dur Nasionalis

Hal yang menarik lainnya dari Gus Dur adalah beliau jarang sekali memakai sarung, seperti kiai pada umumnya yang kemana-mana pakai sarung, padahal beliau adalah kiai besar. Hanya sekali aku melihat foto Gus Dur yang mengenakan sarung kotak-kota, baju koko warna putih dan berpeci hitam.


Dulu, ketika masih mondok di pesantren, aku menganggap sarung adalah pakaian Islam. Sedang celana pantalon adalah pakaian Londo. Tak sah rasanya jika shalat atau menghadiri akad nikah atau hajat ritual yang lain tidak pakai sarung. Jika aku masuk masjid untuk shalat dengan tidak pakai sarung bersama orang lain yang memakainya, maka aku dianggap kurang pantas menjadi Imam shalat. Tidak afdol, katanya.


Budaya kita acap melihat “sarung” sebagai tanda kesalehan seseorang. Paling tidak lebih saleh dari orang yang memakai celana panjang. Mungkin saja, ini akibat negeri ini pernah dijajah Belanda untuk waktu berabad. Para penjajah selalu memakai celana dan dasi. Maka celana cenderung memiliki makna identitas penjajah. Konon, pernah ada fatwa haram memakai celana, karena alasan tersebut. Gus Dur, tentu juga paling paham soal budaya ini. Aku memperoleh cerita dari murid-muridnya ketika di pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.


Manakala Gus Dur mengajar di kelas, ia mengenakan celana panjang, dan tidak pernah sekalipun memakai sarung seperti kebanyakan guru yang lain. Dan yang amat menarik dari itu, Gus Dur tak pernah sekalipun mengenakan pakaian khas Arab: semacam Gamis atau "Tob" atau Jubah.


Beliau juga tak pernah aku lihat memakai sorban dengan gulungan besar maupun kecil berwarna putih maupun hijau. Atau memakai peci putih khas orang Indonesia usai Haji. Padahal kiai yang lain seperti Kiai Ahmad Siddiq misalnya sesekali memakainya. Di dinding rumahnya aku tak melihat foto Gus Dur dengan performans orang Arab. Aku tak mengerti pikiran beliau. Gus Dur seperti ayahnya, KH Abdul Wahid Hasyim yang senang mengenakan celana pantalon, baju putih dan berdasi, kadang pakai peci kadang tidak. Kiai Wahid tampak ganteng dan perlente.


Begitulah pakaian Gus Dur sepanjang yang aku tahu. Kata orang, untuk soal pakaian pun Gus Dur seorang Nasionalis dan menjaga tradisi lokal. He he. Gus Mus malah menyampaikan pernyataan yang menarik : "Dalam berpakaian, Gus Dur itbã' Kanjeng Nabi yang selalu berpakaian sederhana dan sesuai 'budaya lokal'nya". Ittiba' artinya mengikuti Nabi. Wow.


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU


Hikmah Terbaru