• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 15 April 2024

Hikmah

KOLOM BUYA HUSEIN

Dialog Mubadalah: Ayah dan Anak

Dialog Mubadalah: Ayah dan Anak
(Ilustrasi: NU Online).
(Ilustrasi: NU Online).

Kemarin (29/2/2024), aku bicara di masjid UIN Fatmawati Soekarno, Bengkulu, tentang Trilogi Fatwa Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Diselenggarakan oleh UIN dengan Mubadalah.Id. Aku antara lain menyampaikan Mubadalah ini melalui dialog antara ayah dan anak. 


Suatu hari seorang ayah dan anak perempuannya naik mobil. Ayah yang jadi sopir. Keduanya akan ke kota untuk suatu keperluan. Nah ketika tiba di perempatan jalan mobil berhenti. 


Anak : Mengapa kita berhenti ayah? 
Ayah : Karena lampu merah sudah menyala 
Anak : Mengapa kalau lampu merah menyala harus berhenti? 
Ayah : Kalau terus jalan, nanti ditangkap polisi 
Anak : Mengapa polisi harus menangkap ? 
Ayah : Karena melanggar peraturan. 
Anak : ya, tapi mengapa? 
Ayah : Sebab kalau diteruskan akan bisa membahayakan orang lain
Anak : Mengapa? 
Ayah : Nanti bisa tabrakan, dan jalanan jadi semrawut, macet.


Ayah dengan sabar menjelaskan lagi: kita tidak boleh menyakiti orang lain. Sebagaimana kita juga tidak ingin disakiti. Apakah kamu mau disakiti?. 


Anak : Tentu tidak, ayah.
Ayah : Nah, begitu pula orang lain. Mereka tak juga ingin disakiti. 


Nabi mengatakan:


اَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ


"Cintailah orang lain, sebagaimana engkau ingin dicintai". 


Anak itu masih belum puas. Dia sangat kritis. Dia bertanya lagi : mengapa demikian? 
Ayah : ya karena manusia itu sama. 


Nah demikianlah proses dan cara menemukan ajaran kesalingan. Dr. Faqih menyebutnya "Mubadalah". Orang lain menyebutnya "Resiprokal" atau "Resiprositi". Syeikh Syams al Tabrizi bilang "Tabadul". Mutabadilah. 


لقد خلق هذا العالم على مبدء التبادل


Tampak jelas ia berpijak pada ajaran fundamental Islam: kesetaraan manusia. 


Gagasan dan ajaran untuk hidup dalam kesalingan ini sejatinya telah menjadi  esensi ajaran agama-agama dan etika kemanusiaan. Para bijakbestari dari berbagai agama dan aliran spiritual menyerukan dikembangkannya Etika kesalingan menghargai dan mencintai ini:


عَا مِلِ النَّاسَ بِمَا تُحِبُّ اَنْ يُعَامِلُوكَ


"Perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan”. 


Atau sebaliknya 


وَلَا تُعَامِلِ النَّاسَ بِمَا لَا تُحِبُّ اَنْ يُعَامِلُوكَ


“Janganlah kau perlakukan orang lain dengan cara yang kau sendiri tidak menginginkannya”. 


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU


Hikmah Terbaru