• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 18 Juni 2024

Hikmah

Catatan Perjalanan (15) Jejak Peradaban; Giza, Quba, dan Kita

Catatan Perjalanan (15) Jejak Peradaban; Giza, Quba, dan Kita
(Ilustrasi: NU Online Jabar).
(Ilustrasi: NU Online Jabar).

Pyramida GIZA, Sphinx, Masjid Quba, dan berbagai bangunan penting bersejarah lainnya--dengan berbagai latar cerita dan asal usulnya--adalah "jejak peradaban".


Pada setiap periode peradaban manusia, terutama yang sudah memiliki sistem kemasyarakatan dan keteraturan dalam kehidupannya, mulai zaman Prasejarah, Mesir Kuno, Romawi, Yunani, Islam, dan sebagainya, kita dapat menemukan berbagai jejak peninggalan berupa artefak, bangunan tempat ibadah dan bangunan lainnya. 


Piramida Giza atau piramida Khufu adalah piramida tertua dan terbesar di kawasan Nekropolis Giza. Bangunan yang dipercaya sebagai makam Firaun dinasti ke empat Mesir yang bernama Khufu ini dibangun sekitar tahun 2560 Sebelum Masehi. 


Sphinx adalah makhluk mitologis berkepala manusia, bertubuh singa, dan memiliki sayap. Patung Sphinx diperkirakan dibuat pada era dinasti Firaun Khafre tahun 2603-2578 SM.


Masjid Quba adalah masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah. Kemudian disusul dengan pembangunan Masjid Nabawi; 


Masjid, bangunan tempat ibadah, dan bangunan lain adalah salah satu "alat baca" adanya masyarakat yang mulai menetap (hadir) tidak lagi berpindah (nomad) . Masyarakat yang mulai menetap biasanya sudah mulai memiliki peradaban. Oleh karena itu, dalam bahasa arab perdaban disebut juga ”hadhoroh”. 


Kita masih dapat menyaksikan berbagai peninggalan artefak dan bangunan dari berbagai periode peradaban manusia masa lalu hingga saat ini, antara lain karena ada semacam sistem sosial, sistem hukum, atau sistem keagamaan yang melindunginya. Dalam Islam, sistem tersebut disebut waqaf. 


Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi waSallam bersabda:


إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له
(رواه مسلم)


Artinya: "Ketika anak adam meninggal dunia, amalnya menjadi putus kecuali tiga hal. Shadaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat/ dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakan dia. (HR Muslim).


Menurut para Ulama, yang dimaksud "shodaqoh jariyah" adalah WAQAF, karena shodaqoh jenis lain tidak memiliki dimensi 'jariyah', sedangkan wakaf abadi, dilindungi secara teologis (hukum agama) dan yuridis (hukum negara), sehingga pahalanya terus mengalir,  berlanjut, terus menerus (jariyah) meskipun orang yang berwakaf (waqif) sudah wafat. 


Diantara cerita masyhur tentang wakaf di kalangan Jamaah Haji Indonesia adalah kisah Wakaf Habib Bugak Asyi, seorang kepercayaan Sultan Aceh, Sultan Alauddin Mahmud Syah. 


Sebuah referensi menyebutkan bahwa sekitar tahun 1809 M, menjelang keberangkatan ke Tanah Suci Makkah, Habib Bugak yang bernama lengkap Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi berinisiatif mengumpulkan dana wakaf untuk membeli tanah dan membangun semacam "rumah singgah" di Makkah untuk keperluan Jamaah Haji. 


Semula aset wakaf itu berada di sekitar Masjid Haram, pada saat dilakukan perluasan Masjid Haram, aset wakaf Habib Bugak ditukar di kawasan lain yang tidak kalah strategis, diantara nya di kawasan pertigaan Ajyad. Aset pengganti itu terus berkembang hingga saat ini, diantaranya berwujud Hotel Elaf Al-Mashaer, Hotel Ramada, sebuah Hotel lainnya di kawasan Aziziyyah beserta kantor dan sebidang tanah di Syaikiyah. 


Setiap tahun sebagian hasil pengelolaan Aset Wakaf Habib Bugak dibagikan kepada Jamaah Haji asal Aceh. Pada Tahun 2023, sebagian hasil pengelolaan aset wakaf Habib Bugak sebanyak 2.6 miliar, dibagikan kepada Jamaah Haji asal Aceh, masing-masing mendapatkan 1500 SAR (sekitar 6 juta rupiah). 


Sungguh sebuah teladan dan jejak kemuliaan yang luar biasa. Nama Habib Bugak harum semerbak mulia hingga akhir zaman.


Pepatah bijak mengatakan : Gajah Mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang, Manusia mati meninggalkan "jejak ". 


Jejak kebaikan dan akhlak , jejak kemanfaatan bagi sesama, jejak kenangan menyenangkan bagi siapapun yang pernah berjumpa dan bekerjasama. 


Wallahu'alam 
Cairo Madinah Makkah, Syawwal 1445 H, Mei 2024 M


KH Tatang Astarudin, Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Universal, Kota Bandung.


Hikmah Terbaru