Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kang Yayan: Nabi Muhammad SAW, Figur Orang Kaya yang Dermawan

Kang Yayan: Nabi Muhammad SAW, Figur Orang Kaya yang Dermawan
Kang Yayan: Nabi Muhammad SAW sebagai Figur Orang Kaya yang Dermawan. (Foto: Muhammad Salim).
Kang Yayan: Nabi Muhammad SAW sebagai Figur Orang Kaya yang Dermawan. (Foto: Muhammad Salim).

Garut, NU Jabar Online 
Ketua Aswaja Center Tasikmalaya Ajengan Yayan Bunyamin sampaikan pentingnya mengenal nabi sebagai sosok orang yang yang dermawan. Hal tersebut ia sampaikan saat mengisi tausyiah pada acara walimatul khitan Aceng Muhammad Hidayatullah yang merupakan putra dari KH Aceng Hilman Umar Bashori.


Acara tersebut dilaksanakan di halaman depan Asrama putra Pondok Pesantren Fauzan 05/05 Desa/Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut, Sabtu (3/9).


Kiai yang akrab disapa Kang Yayan juga menyampaikan pentingnya mengenali Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang kaya raya, saking kayanya. Nabi dan dzuriyahnya haram menerima zakat, salah satu alasannya adalah karena nabi memiliki posisi sebagai orang kaya. Selain itu, nabi juga haram menerima upah dari dakwah yang ia lakukan.


Ia mengungkapkan, sebelum diangkat nabi, Nabi Muhammad SAW merupakan seorang manajer yang handal, bagaimana tidak, setiap orang yang menginvestasikan hartanya kepada nabi, mereka semua mendapatkan keuntungan yang besar sesuai dengan kesepakatan, hal tersebut terbukti karena nabi berbisnis dengan cara yang halal dan jujur.


Sampai ke telinga Siti Khadijah, Siti Khadijah pun menginvestasikan hartanya untuk dikembangkan oleh Nabi, mulai dari sekali, dua kali sampai beberapa kali yang membuat mereka dekat.  


Sebagai orang yang kaya. Nabi mempersunting Siti Khadijah dengan mahar 20 ekor unta, jika di konversi pada rupiah dengan kisaran harga unta sebesar Rp. 30.000.000 rupiah, maka secara tidak langsung nabi menikahi Siti Khodijah dengan mahar Rp. 600.000.000.


Sampai pada saat usia Nabi 37 tahun, ia sering melakukan meditasi atau khalwat di gua hira selama tiga tahun, secara tidak langsung, nabi meninggalkan keluarga dengan kondisi tidak sedang berusaha.


Hal demikian ia lakukan karena nabi sudah mapan serta ia bertanggung jawab untuk memenuhi nafkah keluarga, salah satunya yaitu jatah makanan dan segala kebutuhan keluarga ia penuhi untuk setiap tahun berjalan. Sehingga Siti Khodijah pun tidak banyak berkomentar akan kegiatan-kegiatan yang nabi lakukan.


"Nabi bermeditasi selama tiga tahun, tapi nabi tidak khawatir karena kebutuhan pokok keluarga selalu dipersiapkan agar setiap tahunnya terpenuhi tanpa kekurangan apapun." ucap Kang Yayan.


Tercatat dalam sejarah, nabi melakukan perjalanan ke luar negeri sebanyak lima kali untuk melakukan bisnis. Ini membuktikan bahwa nabi selain sebagai kaya, Nabi pun merupakan seorang manajer yang handal.


Sepeninggal Siti Khadijah, Nabi diperintah oleh Allah SWT untuk menikah lagi dengan sembilan istri yang sudah ditentukan. Setiap Nabi menikah, Nabi memberi mahar berupa mas kawin kepada setiap istrinya sebanyak 213 gram mas murni.


Selain mas kawin yang diberikan kepada istri-istrinya, semua istrinya juga diberi rumah sebagai tempat mereka tinggal. Dari semua itu, kang Yayan menegaskan bahwa nabi merupakan orang yang kaya raya dan juga dermawan.


Selain itu, Kang Yayan juga ceritakan makanan kesukaan nabi, yaitu Ad Duba (waluh).


Namun, saat kaum muslimin di embargo oleh kafir Quraisy pada saat itu, nabi jatuh miskin akibat kekayaan yang ia miliki digunakan untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin yang diembargo selama tiga tahun lamanya. 


Sampai kekayaannya habis, Nabi pun meminta bantuan kepada Siti Khadijah untuk membantu kaum muslim yang sedang di embargo tersebut dengan memberikan seluruh hartanya.


Kang Yayan juga menutup ceramahnya dengan mengajak para mustamiin untuk mengikuti jejak langkah nabi untuk bisa menjadi orang kaya yang dermawan, karena jika dunia ini dipegang oleh orang-orang kaya yang shaleh, maka kekayaannya akan digunakan pada kebaikan. Selain itu, para kiai juga tidak akan bergantung pada sekeping uang dari orang kaya yang bodoh dan sombong.


Hadir dalam kegiatan tersebut, dihadiri oleh ribuan santri, alumni, orang tua santri dan muhibbin Ponpes Fauzan.


Pewarta: .Muhammad Salim
Editor: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Garut Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×