Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

KH Wahid Hasyim dan Perubahan Citra Fashion NU

KH Wahid Hasyim dan Perubahan Citra Fashion NU
KH Wahid Hasyim dan Perubahan Citra Fashion NU. (Foto: NUJO).
KH Wahid Hasyim dan Perubahan Citra Fashion NU. (Foto: NUJO).

Fashion bagi Nahdlatul Ulama (NU) tidaklah hanya sekadar gaya berpakaian. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, pakian juga menjadi simbol identitas. Sehingga tak ayal pada Muktamar ke-2 pada 1927, NU mengeluarkan larangan mengenakan jas, dasi, celana panjang, sepatu hingga topi. Fatwa haram tersebut dikarenakan dinilai tasyabuh (menyerupai) orang kafir yang saat itu direpresentasikan oleh pemerintah kolonial Belanda.


Akan tetapi, pandangan tersebut, berubah seiring waktu. Adalah KH. Abdul Wahid Hasyim yang mendobrak aturan tersebut. Ia berkeyakinan dengan mengenakan pakaian "ala orang Belanda" itu, akan mencitrakan figur yang maju dan terbuka.


Fashion ala Kiai Wahid itupun banyak ditiru. Tak sedikit kemudian, tokoh muda NU sezamannya yang meniru gaya fashionnya. Mengenakan stelan jas, dasi, celana panjang dan sepatu. Atau kadang memadukan baju koko, sarung dan dibalut dengan jas. Dan tak boleh ketinggalan; kopiah hitam. Sebut saja Abdullah Ubaid, Machfudz Siddiq, Thohir Bakri dan lainnya.


Sontak saja, fashion tersebut mendapat tentangan dari para kiai sepuh. Utamanya ketika gaya berpakaian demikian dijadikan sebagai uniform (seragam) dari Pandu Anshor. Seperti halnya yang dilakukan oleh KH. Raden Asnawi Kudus. Beliau bahkan pernah marah-marah di hadapan Konbes Ansor NU di Kudus akibat pakaian yang demikian.


Akan tetapi, seiring waktu, pandangan Kiai Asnawi pun berubah. Sebagaimana diceritakan oleh KH. Saifudin Zuhri dalam memoarnya, Berangkat dari Pesantren. Ia mengenang ketika dikunjungi Kiai Asnawi pada 1953.  Saat itu dirinya sedang mengenakan dasi.


"Mengapa kok seperti gugup?" tanya Kiai Asnawi kepada Saifudin Zuhri.


"Mohon dimaafkan karena aku mengenakan ini..." jawabnya sembari memegang dasi.


Tak disangka, Kiai Asnawi justru tertawa.


"Yang dulu berbeda denga yang sekarang. Lain Kedu, lain Semarang. Lain dulu, lain sekarang. Dulu saya anti dasi karena ada illat yang mengharamkan. Memakai dasi di zaman itu tasyabuh orang Belanda dan orang-orang kafir lainnya yang biasa memakai dasi. Tetapi memakai dasi di zaman sekarang tidak tasyabuh Belanda, tetapi menyerupai Bung Karno dan Abdulwahid Hasyim," terangnya.


Ayung Notonegoro, pendiri Komunitas Pegon

Terkait

Tokoh Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×