Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Belajar Cinta Mengajar dari Kiai Cipasung

Belajar Cinta Mengajar dari Kiai Cipasung
KH A Bunyamin Ruhiat (Foto: dok. IAIC)
KH A Bunyamin Ruhiat (Foto: dok. IAIC)

Oleh Asep M Tamam

Pesantren adalah rumah yang identik dengan dunia cinta pada agama Islam dan pada ilmu pengetahuan. Ada totalitas di dalamnya. Proses belajar dan pembelajaran berlangsung dalam tensi tinggi. Full day school yang hakiki ada di pesantren. Bukan hanya setengah hari, proses itu berlangsung sepenuh hari. Sejak bangun tidur hingga kembali tidur, para santri diajar dan dididik. 

 

Banyak hal luar biasa yang biasa terjadi di setiap pesantren, terutama pada sosok pengasuhnya. Seorang kiai bukan sembarang manusia. Kiai adalah patron dari tiga hal; keilmuan, kesalehan, dan keteladanan. Inspirasi yang memancar dari jiwa kiai sering menggugah rasa cinta dan kekaguman. Proses belajar yang lama memungkinkannya menjadi “kampung ilmu” dan “kota pengetahuan”. Tak hanya satu fan, tapi mininal 14 fan keilmuan dikuasainya, detil dan terperinci.

 

Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, adalah satu dari seribu lebih pesantren di Tasikmalaya. Pengasuhnya, KH. A. Bunyamin Ruhiat M.SI, dalam dirinya terdapat pancaran yang perlu disebarkan. Bukan hanya tentang cinta ilmu dan mengaji. Lebih jauhnya adalah cinta mengajar ngaji. Totalitas KH. A. Bunyamin Ruhiat dalam mengajar ngaji didasarkan pada kecintaannya kepada dunia kepesantrenan, khususnya pesantren Cipasung. Sering beliau sampaikan kepada santrinya apa yang diwasiatkan Abah Ruhiat kepadanya, “Jangan sampai ada bekas pesantren”. Beberapa dasawarsa setelah ungkapan itu terngiang, nyatanya, tak sedikit pesantren yang gulung tikar. Banyak pesantren kini hanya tinggal nama. Regenerasi dunia keulamaan menjadi ujian berat bagi umat Islam. Untuk bisa melestarikan pesantren dan aktivitas khas di dalamnya, perlu totalitas lahir dan batin yang mesti dikerahkan dan disinergikan. 

 

Demi melestarikan aktivitas mengaji di Pesantren Cipasung, KH. A. Bunyamin Ruhiat siap mengorbankan tenaga, perhatian, waktu, harta, dan hak-hak pribadinya. Dari testimoni para santri dan para guru mengaji yang berkhidmah di pesantren Cipasung, terutama sekali dari sopir pribadinya Pak Kiai, penulis mendapat konfirmasi betapa Pak Kiai benar-benar serius dan bertanggung jawab penuh atas keberlangsungan Pesantren Cipasung, bahkan untuk memajukannya pada level yang lebih tinggi lagi.  

 

Tak ada sesuatu pun yang menghalangi Pak Kiai untuk mengajar pada jadwalnya. Bahkan baginya, mengajar memberi kesenangan dan kebahagiaan tersendiri. Memang ada dua hal yang rutin dan baginya seolah wajib dijalani di luar aktivitas mengajar. Pertama, adalah aktivitas ke-NU-an. Beliau sangat mencintai NU. NU adalah rumah besar yang posisinya begitu besar dalam dirinya. Terutama karena beliau menjadi pengurus PBNU, banyak acara di Jakarta atau di pesantren-pesantren di luar Jawa Barat yang mesti dihadirinya. Kedua, pernikahan alumni. Beliau selalu mau menghadiri undangan pernikahan alumni, bahkan hingga ke pelosok kampung dan di luar Kabupaten Tasikmalaya sekalipun. Baginya, sebuah kehormatan untuk bisa mengantar alumni ke jenjang kehidupan yang baru. Tanggung jawabnya kepada santri dan alumni tetap terpelihara dan tersambung. Kedua hal inilah sering “memaksa” beliau keluar dari pesantren. 

 

Namun demikian, kedua acara penting ini pun sering meninggalkan inspirasi. Beliau sering pulang dari acara, terutama dari luar kota, dan tiba di Cipasung tepat pada waktu mengaji. Sering juga beliau menunda istirahatnya karena harus mengajar. Mengajar ngaji baginya lebih penting dan harus didahulukan. Sering kali beliau tiba di Cipasung pada pukul 03.00, pukul 04.00 atau waktu menjelang subuh. Target pertamanya tentu saja mengajar. Di perjalanan menuju Cipasung, sering kali beliau meminta sopirnya untuk menambah laju kendaraan hingga bisa tiba di Cipasung dan bisa sempat mengajar. Setelah kewajiban mengajar dilakukan, barulah beliau bisa beristirahat. 

 

Di tengah kunjungan jauhnya, dengan waktu yang tak jarang dilakukan beberapa hari, juga di tengah perjalanan pulang menuju Cipasung, beliau sering menyebut-nyebut pengajian dan mengkhawatirkan keberlangsungan pengajian tanpa kehadirannya. Padahal, pada waktu bersamaan, para guru Cipasung telah bersiap dengan segala suasana pada masa ketidakhadiran Pak Kiai. Semua warga pesantren, terutama para guru mengaji paham akan tugas dan tanggung jawabnya. Ketidakhadiran Pak Kiai meniscayakan tanggung jawab lebih. Mereka sangat paham bahwa kedisiplinan santri tak boleh berkurang ketika Pak Kiai tengah berada di luar pesantren.

 

Suasana di dalam kelas pengajian juga benar-benar diperhatikan. Beliau sangat dikenal memiliki hafalan yang kuat. Setiap kali mengajar, tak kurang dari 700 santri di hadapannya. Beliau mendidik mereka untuk memiliki semacam kavling ketika mengaji. Posisi mengaji tak boleh berubah sehingga beliau mengetahui siapa dan berapa orang yang tidak mengaji. Jika diketahui siapa dan berapa orang yang tak hadir, beliau sering menyuruh teman se’kobong’nya untuk menyusul. Jika perlu, mereka yang tidak hadir atau terlambat ke kelas diumumkan lewat load speaker masjid. Jika sudah siap semuanya, beliau pun masih sempat bertanya, apakah kelas yang lain sudah dihadiri gurunya atau belum. Kehadiran para guru di setiap kelasnya yang membuat beliau memulai pengajian. Jadi, pengajian beliau dilakukan lebih lambat sedikit dibanding kelas pengajian yang lain karena hal ini. 

 

“Mengaji adalah tarekat pesantren”, demikian kalimat yang selalu ditekankan oleh Pak Kiai. Beliau tak pernah rida ketika ada pengajian yang libur atau terlantar. Beliau siap mengajar dalam suasana dan kondisi apa pun dan bagaimanapun. Sering kali beliau mengajar dalam keadaan sakit. Sakit membuatnya tak bisa ke mana-mana. Maka, beliau mengajar di rumahnya dan para santri yang datang ke rumah. Tentu suasananya berbeda dengan suasana formal biasa. Tapi nilai dari aktivitas yang dilakukan pada suasana tak normal seperti sakit biasanya lebih kuat dibanding aktivitas di masa normal. Inspirasi penting dari kisah nyata ini memberi pesan penting tentang betapa pentingnya keberlangsungan dunia ilmu dan keberlangsungan agama Islam.  

 

Aktivitas mengajar bagi Pak Kiai dilakukan bukan hanya ketika sakit. Beliau pun terbiasa mengajar pada cuaca ekstrem. Ketika hujan deras turun, Pak Kiai sudah biasa berlindung di bawah payung dan melangkahkan diri menuju madrasah. Kondisi hujan lebat biasanya lebih menggoda para santri untuk diam di kobong dan memilih aktivitas lain seperti menghafal Al-Qur’an, hadits, bait Alfiyah, atau mengisi tugas sekolah dan kuliah. Di jadwal pelajaran Pak Kiai, para santri tidak bisa begitu saja meninggalkan pengajian. Mengaji lebih penting selama mereka berada dalam asuhan Pak Kiai. 

 

Pandemi Covid-19 pun bahkan tak menyurutkan aktivitas mengaji di lingkungan pesantren Cipasung. Para santri benar-benar dijaga. Mereka yang berada di lingkungan pesantren masih bisa melakukan pengajian dengan beberapa catatan. Apa yang bisa dilakukan secara maksimal tetap dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Meski ada sedikit perubahan dan penyesuaian, pengajian tetap dilaksanakan. Para santri jauh lebih beruntung berada di lingkungan pesantren dibandingkan ketika mereka berada di rumah. Bisa dibandingkan perolehan keilmuan para pemuda dan pelajar yang tinggal di rumah dengan para santri yang tinggal di pesantren di musim pandemi. Mereka yang tinggal di rumah banyak yang menghabiskan waktu untuk bermain game online dan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan tidak bermanfaat.  

 

Jika suasana seperti ini dipertahankan, dan jika inspirasi dunia kepesantrenan terus disyiarkan, kita tak lagi khawatir akan kejayaan agama Islam dan keberlangsungan dunia pesantren.

 

Penulis adalah staf pengajar IAIC Tasikmalaya
 

Tokoh Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×