• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Taushiyah

KOLOM KH ZAKKY MUBARAK

Ujian, Cobaan, dan Musibah

Ujian, Cobaan, dan Musibah
Ujian, Cobaan, dan Musibah
Ujian, Cobaan, dan Musibah

Dalam kehidupan yang kita jalani, sama sekali tidak pernah terlepas dari ujian dan cobaan yang silih berganti. Ujian dan cobaan yang dialami manusia sering disebut dengan musibah. Kemudian sebagian dari kita banyak yang berputus asa dalam menghadapinya. Sesungguhnya ujian dan cobaan itu merupakan bagian dari cara Allah SWT mendidik umat manusia, sehingga menjadi manusia yang tangguh, beriman, dan bertakwa, serta meraih kesuksesan yang maksimal. 


Untuk mengatasi segala macam musibah itu, hanya diperlukan kesabaran yang tinggi yang akan meningkatkan kualitas diri seseorang menjadi manusia yang tangguh dan tak terkalahkan. Semua keberhasilan dan kebahagiaan tidak mungkin dapat diraih tanpa kesabaran yang mendarah daging dalam jiwa umat manusia. Para nabi dan rasul serta para sahabatnya yang meraih kesuksesan duniawi dan ukhrawi tidak pernah terlepas dari cobaan dan ujian tersebut.


Sesungguhnya dengan cobaan-cobaan itulah, Allah SWT melimpahkan kasih sayang-Nya kepada umat manusia. Manusia yang teruji dengan berbagai cobaan akan memperoleh kesuksesan yang maksimal dalam segala kehidupannya. Karena itu, barang siapa yang tidak menjadi lemah atau putus asa dengan berbagai musibah yang menimpanya, maka mereka itulah orang-orang yang akan meraih kebahagiaan yang luhur, baik di dunia, maupun di akhirat. 


Agar mencapai kesabaran yang tinggi dan keuletan yang maksimal dalam menjalani berbagai kehidupan, harus dibekali dengan dua hal, yaitu:


(1) pondasi akidah harus sangat kuat. Ibarat pondasi sebuah bangunan yang besar dan tinggi, sangat terletak pada kekuatan pondasinya. Apabila pondasinya kuat, maka bangunan itu akan kokoh dan tegak menjulang tinggi. Pondasi ini merupakan bagian dari intisari iman yang harus terwujud dalam kalbu setiap insan. 


(2) adalah kemurnian dari akidah islamiyah yang dimiliki seseorang. Akidah yang murni tidak mungkin akan ternoda dengan berbagai macam bentuk syirik, baik syirik yang terang-terangan, mapun syirik yang tersembunyi. Salahuddin al-Ayyubi, seorang panglima perang kaum muslimin yang sukses dan amat terkenal itu telah berhasil mengantarkan umat Islam, pada kejayaan dan kemenangan. Beliau sangat teratur dalam berusaha untuk memurnikan tauhidnya, teratur dalam menjalankan ibadah, termasuk shalat dan puasa, meskipun di tengah-tengah berkecamuknya peperangan.


Dalam doanya, ia memohon kepada Allah dan memasrahkan dirinya secara total dan hanya berharap kepada-Nya saja. Beliau mengatakan: “Wahai Allah, telah hilang kemampuan-kemampuanku dalam menegakkan agama-Mu. Tidak ada lagi yang bisa memberikan pertolongan kepadaku kecuali Engkau. Aku selalu berpegang teguh pada ajaran agama-Mu, dan Engkaulah tempatku berserah diri dalam segala keadaanku, baik suka maupun duka. 


Dengan kekuatan iman yang sangat kuat itulah, Shalahuddin al-Ayyubi beserta pasukannya dapat mengalahkan musuh-musuhnya, meskipun pasukan yang dipimpinnya jauh lebih sedikit personelnya, dan ala-alat peperangannya pun sangat sederhana. Dalam melaksanakan kehidupan beragama, kita harus memasuki ke dalam gelanggangnya, jangan berada di tepi seperti kutu loncat. 


وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ 


"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata,". (QS. Al-Hajj, 22:11).


KH Zakky Mubarak, salah seorang Mustasyar PBNU


Taushiyah Terbaru