Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Peradaban yang Utuh 

Peradaban yang Utuh 
Ilustrasi: NUO
Ilustrasi: NUO

Perkembangan umat manusia menunjukkan adanya persinggungan dan benturan antar peradaban yang silih berganti dari satu masa ke masa yang lain. Dari sana lahirlah berbagai macam ideologi di dunia dengan ajaran-ajarannya yang berbeda-beda dan saling bertentangan.


Kita mengenal ada ideologi sosialisme, kapitalisme, liberalisme, spritualisme, materialisme, idealisme, realisme dan sebagainya. Berbagai isme yang timbul dalam kehidupan masyarakat modern sering cenderung pada sikap yang ekstrim atau sikap yang melampui batas. Kita bisa memperhatikan arah yang dituju oleh sosialisme atau kapitalisme, keduanya mengarah pada sikap berlebihan kepada isme yang diyakininya, demikian juga bagaimana arah yang ditempuh oleh kelompok idealisme dan realisme, keduanya juga mengarah kepada tujuan yang ekstrim.


Berbagai isme terus berjalan, menuju muara masing-masing yang saling bertentangan dan semakin menjauh, membuat manusia dilanda oleh kebingungan dan ketidakpastian. Berdasarkan kenyataan itu, manusia modern sesungguhnya mendambakan suatu isme yang dapat dijadikan sebagai pegangan hidup, sehingga bisa memuaskan jalan fikirannya dan tidak terbelenggu dalam ketidak pastian serta pertentangan. Manusia modern membutuhkan peradaban baru yang memiliki suatu misi dan falsafat yang berbeda dengan peradaban yang saling bertentangan itu.


Manusia membutuhkan suatu peradaban yang dapat memuaskan akal dan batinnya. Selama ini dijumpai ada ideologi yang memuaskan akal manusia tetapi membuat batinnya merana, atau sebaliknya dapat memuaskan batin seseorang, tetapi lahiriah dan akalnya merana.


Peradaban yang didambakan dunia modern adalah peradaban yang didasarkan pada keseimbangan dan keutuhan, suatu prinsip yang mempunyai karakteristik yang utuh, dan tidak terdapat kepincangan di dalamnya. Maksud yang utuh dan seimbang adalah sikap moderat yang terlepas dari sikap ekstrim. Suatu peradaban yang meletakkan neraca yang seimbang antara wahyu dan akal, antara materialisme dan spritualisme, antara dunia dan akhirat, antara dualisme dan kolektivisme, antara idealisme dan realisme, antara tanggung jawab dan kebebasan.


Kehidupan seperti itulah yang dapat mengantarkan umat manusia menuju kebahagiaan yang didambakan.


Islam sebagai agama yang sempurna mengajarkan keseimbangan dan keutuhan dalam membentuk suatu peradaban. Bila kita memperhatikan surat al-Fatihah misalnya, kita dibimbing agar mengikuti jalan yang lurus, yang dapat menyelamatkan umat manusia dari kesesatan dan kehidupan yang terkutuk. Jalan lurus atau shirathal mustaqim, diungkapkan juga dengan istilah mizan (timbangan), sebab timbangan itu menjaga keseimbangan antara dua sisi yang berbeda. Allah s.w.t. berfirman:


وَٱلسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ ٱلۡمِيزَانَ أَلَّا تَطۡغَوۡاْ فِي ٱلۡمِيزَانِ وَأَقِيمُواْ ٱلۡوَزۡنَ بِٱلۡقِسۡطِ وَلَا تُخۡسِرُواْ ٱلۡمِيزَانَ   


“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan), supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu”. (Q.S. Al-Rahman, 55: 7-9).


Dalam ajaran Islam terjadi kesinambungan yang saling bertemu secara dialektis antara dua masalah yang diangap bertentangan atau kontradiksi. Dua hal yang saling berlawanan sering dipahami tidak akan dapat dikompromikan. Akan tetapi dalam ajaran Islam hal itu dapat bertemu dalam satu keharmonisan yang sangat indah. Masing-masing mengambil jarak yang sesuai dari yang lainnya, tanpa melampui batas yang dimiliki oleh mitranya, tidak ada sikap yang saling berlebihan. Ajaran ini meletakkan timbangan secara seimbang rabbaniyah dan insaniyah, antara materialisme dan spritualisme, juga antara dunia dan akhirat. Dalam konsepsi Islam, berbagai hal yang sering dianggap bertentangan itu semuanya dapat dipadukan dan dikompromikan, kecuali yang bersikap antogonis, seperti hak dan bathil, tidak mungkin dapat dikompromikan atau dipadukan.


Dengan keseimbangan dalam peradaban yang diajarkan Islam, maka umat ini akan memiliki karakteristik yang berbeda dengan peradaban lain, yang menempatkan pengikutnya pada kedudukan yang tinggi dan sempurna, Allah s.w.t. berfirman:


وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ وَمَا جَعَلۡنَا ٱلۡقِبۡلَةَ ٱلَّتِي كُنتَ عَلَيۡهَآ إِلَّا لِنَعۡلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِۚ وَإِن كَانَتۡ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ  


“Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (Q.S. Al-Baqarah, 2: 143).


Kesempurnaan yang dimaksud dalam kajian ini adalah keutuhan atau saling menyempurnakan, yaitu menyatunya berbagai hal yang saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Setiap diri manusia, masing-masing memilki kelebihan dan kekurangan, sehingga satu dengan yang lainnya bisa saling melengkapi. Dengan itu semua, mereka akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, untuk memakmurkan kehidupa alam semesta. Manusia dijadikan khalifah Allah di muka bumi, agar beribadah kepada-Nya dan ditugaskan mengelola alam dengan segala isinya bagi kesejahteraan makhluk secara umum. Kehidupan umat Islam tidak lepas dari ilmu dan amal, kebenaran dan kekuatan, pengajaran dan pendidikan, bimbingan dan keimanan dalam kehidupan, juga kekuatan mental dan spritual.


Memperhatikan kenyataan yang dilukiskan di atas, maka peradaban Islam yang memiliki azas pertengahan, keseimbangan, keserasian dan kesempurnaan, merupakan peradaban yang digandrungi oleh setiap orang yang akan memperoleh kebahagiaan lahir dan batih. Peradaban Islam sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern dan post modern yang ditandai dengan gencarnya dinamika kehidupan dan kerasnya arus globalisasi.


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×