Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Menyaring Informasi

Menyaring Informasi
Ilustrasi: NUO.
Ilustrasi: NUO.

Dalam aktivitas kehidupan, selalu dipenuhi berbagai informasi, baik melalui media cetak, elektronik, berita lisan atau informasi lain yang bernada isyarat. Dalam era globalisasi ini, umat manusia selalu dibanjiri dengan informasi yang datang dari berbagai lapisan masyarakat. Sampainya informasi pada kita merupakan sesuatu yang banyak menguntungkan, tetapi tidak semuanya, kadang-kadang ada yang merugikan.


Informasi yang berkembang di tengah masyarakat, diibaratkan bagaikan derasnya arus air, ada yang mendatanagkan kebaikan dan ada pula yang mendatangkan kerusakan.


Manusia muslim diharapkan ajaran agamanya agar mampu menyaring informasi kepadanya dan bersikap kritis. Ada informasi yang menguntungkan masyarakat dan ada juga yang merugikan. Manusia muslim diperintahkan agar bisa memilih berbagai informasi itu dengan bisa menyampaikan atau menyimpannya dengan baik. Bila informasi ini membawa manfaat, atau merupakan informasi yang perlu dikemukakan agar bisa diantisipasi maka ia perlu disampaikan dan dibicarakan. Sebaliknya apabila informasi itu akan merusak atau merugikan sesama, lebih baik tidak dibicarakan dan tidak disampaikan.


Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan suatu hadis dari Nabi s.a.w. yang menjelaskan:


كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ (رواه مسلم)


“Cukup seorang itu menjadi pendusta bila ia membicarakan semua informasi yang didengarnya”. (HR. Muslim, No: 04).


Hadis ini, menjelaskan pada kita bahwa orang yang menceritakan segala sesuatu yang ia dengar, berarti ia juga banyak berdusta, karena apa yang ia dengar tidak selamanya kebenaran, sebagian dari padanya adalah dusta yang datang dari orang lain. Adalah sikap yang tidak bijaksana dan amat bodoh apabila selalu menceritakan segala apa yang kita dengar dari orang lain.


Dalam al-Qur’an diperintahkan bagi orang yang beriman agar menerima berita secara hati-hati dan melakukan tabayun (mencari kejelasan) secara lengkap sehingga memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan sikap seperti itu maka tidak akan menimbulkan penyesalan di masa yang akan datang. Allah berfirman:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ 


“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Q.S. Al-Hujurat, 49: 6).


Ayat ini memerintahkan kepada setiap orang yang bijaksana agar memperhatikan informasi yang sampai kepadanya secara kritis, sehingga tidak melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri atau merugikan orang lain. Karena kesalahan informasi atau ketidakmampuan memahami informasi itu secara benar, sering menimbulkan perpecahan dan perselisihan di tengah-tengah masyarakat. Pertengkaran dan perselisihan itu terkadang meningkat sampai pada permusuhan satu dengan yang lainnya maka yang rugi adalah anggota masyarakat. Apabila terjadi pertikaian di tengah masyarakat, ditugaskan pada setiap orang agar mendamaikan mereka dan menghilangkan perselisihan. Dengan demikian kesalahan informasi dapat dihindari dan kesalahpahaman dapat dikurangi.


Menghilangkan permusuhan terhadap sesama dan mendamaikan orang-orang yang berselisih merupakan tugas yang sangat mulia yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Cara melakukannya tentu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing dan dilakukan dengan cara yang bijaksana. Allah berfirman:


وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱقۡتَتَلُواْ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ فَإِنۢ بَغَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا عَلَى ٱلۡأُخۡرَىٰ فَقَٰتِلُواْ ٱلَّتِي تَبۡغِي حَتَّىٰ تَفِيٓءَ إِلَىٰٓ أَمۡرِ ٱللَّهِۚ فَإِن فَآءَتۡ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَا بِٱلۡعَدۡلِ وَأَقۡسِطُوٓاْۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ 


“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. (Q.S. Al-Hujurat, 49: 9).


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×