Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kedewasaan dan Kearifan Intelektual

Kedewasaan dan Kearifan Intelektual
Kedewasaan dan Kearifan Intelektual. (Foto: Istimewa)
Kedewasaan dan Kearifan Intelektual. (Foto: Istimewa)

Oleh KH Cep Herry Syarifuddin


Seseorang dianggap memiliki kedewasaan intelektual, apabila dapat bersikap sebagai berikut:

1.  Selalu mendengarkan semua informasi secara berimbang. Dari mana pun sumbernya diterima dan dipelajari lalu difilter atau diseleksi untuk kemudian diikuti pendapat yang terbaik (Q.S. az-Zumar : 17-18). Orang yang hanya menerima informasi sepihak saja, akan menimbulkan fanatisme yang tidak sehat, cenderung arogan dan menutup peluang kebenaran dari pihak lain yang mungkin saja lebih berkualitas dan mendekati petunjuk al-Qur’an dan hadits.


Ingatlah selalu perkataan Imam Abu Hanifah yang menunjukkan kebesaran jiwa dan kedewasaan intelektualnya yang bisa terlihat dari pernyataannya berikut ini:


قَوْلِيْ هٰذَا رَأْيِيْ، فَهُوَ اَحْسَنُ مَا قَدَرْتُ لَهُ . فَمَتَى جَائَنِيْ بِأَحْسَنَ مِنْ قَوْلِيْ فَهُوَ اَوْلَى بِالصَّوَابِ مِنِّيْ . 


“(Fatwa) ini adalah pemikiranku. Dan itulah hasil maksimal yang aku mampu. Tapi apabila ada orang lain yang dapat mendatangkan pendapat yang lebih baik dariku, maka ia lebih pantas untuk dibenarkan daripada aku.”


2. Mampu menangkap sisi-sisi subtansial atau sensal di balik sebuah simbolitas atau formalitas. 


3. memahami setiap referensi (sumber tertulis) baik secara tekstual maupun kontekstual.


4. Tidak mudah membebek atau terpengaruh oleh pendapat orang lain yang belum tentu tepat; sebaliknya berani melakukan kritik terhadap pendapat yang keliru atau argumentasi yang lemah.


5. Sebelum mengkritik, ia harus memahami lebih dalam duduk persoalannya terlebih dahulu sehingga tidak mengkritik tanpa ilmu atau menanggapinya dengan argumentasi lemah yang mudah dipatahkan. Selain itu, ketika mengkritik perlu dilakukan dengan bahasa yang santun serta sikap  yang terpuji. Dengan kata lain, mengkritik harus diupayakan seperti orang menasehati, bukan menyerang atau menyudutkan orang lain. Imam al-Akhdlary dalam Sullam al-Munauraqnya bertutur:


وَكُنْ اَخِيْ لِلْمُبْتَدِيْ مُسَامِحًا  #  وَكُنْ لِإِصْلَاحِ الْفَسَادِ نَاصِحًا


“Hendaklah engkau wahai saudaraku memaafkan (memaklumi) pemula ini # perbaikilah yang rusak (salah) itu dengan cara nasehat.” 


وَاَصْلِحِ الْفَسَادَ بِالتَّأَمُّلِ # وَ اِنْ بَدِيْهَةٍ فَلَا تُبَدِّلِ


“Hendaklah engkau memperbaiki kerusakan (kesalahan) dengan pemikiran (yang dalam, teliti dan cermat) # jika hanya sepintas saja (berpikir simplistis, dangkal, atau serampangan), maka janganlah engkau mengganti (merubah)nya.”


اِذْ قِيْلَ كَمْ مُزَيِّفٍ صَحِيْحًا # لِأَجْلِ كَوْنِ فَهْمِهِ قَبِيْحًا


“Karena dikatakan betapa banyak orang yang menyalahkan pendapat yang benar # dikarenakan pemahamannya yang buruk (dangkal).”


6. Setiap kali berpendapat, mesti disertai jalan pemikiran yang sistematis, serta argumentasi yang kuat dan jelas.


7. Tidak cuma menjadi “konsumen ide”, tetapi juga harus berusaha menjadi “produsen ide”. Atau dalam ungkapan lain, mencoba berijtihad, jangan cuma taqlid saja.


8. Tidak sembarangan menjawab pertanyaan. Lebih baik lagi jika berpikir dalam guna menganalisa terlebih dahulu sebelum mengeluarkan pendapat, apalagi jika dimintai fatwa atas kepastian status hukum suatu problematika kemasyarakatan. Tentu harus dipikirkan secara cermat dan sematang mungkin dengan dalil-dalil yang tepat. Jangan pula merasa gengsi untuk mengakui keterbatasan diri jika memang tidak mampu. Camkanlah peringatan Nabi Muhammad SAW berikut ini :


أَجْرَؤُكُمْ عَلَى الْفَتْوَى أَجْرَؤُكُمْ عَلَى النَّارِ


“Orang yang paling berani untuk berfatwa di antara kalian, adalah orang yang paling berani menantang neraka.”


9. Bila dianggap baik untuk berbicara, maka sebaiknya ia berbicara. Namun jika berbicara dapat merugikan dirinya dan orang lain, maka ia memilih untuk diam.


10.Menghindari debat kusir. Sebab hanya akan membuang-buang waktu, energi, pikiran serta dapt menyulut permusuhan. 


11.Ucapannya menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi masalah atau problem baru.


12.Mau berdialog dengan siapa saja untuk mencari input dan titik temu dari orang yang berseberangan pemikiran dengannya.


13.Berbicara dengan bahasa yang mudah dimengerti audiens (pendengar, mustami’) yang sudah pasti berbeda-beda latar belakang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, maupun geografisnya, serta memahami situasi dan kondisi (muqtadhal hal dan muqtadhal maqam), kapan dan di mana ia berada atau berbicara.


14.Ketika menanggapi pemikiran atau pendapat yang kontroversial, maka ia tidak langsung emosional dan memvonis salah atau benar. Tetapi sebaiknya ia perlu membaca ‘illat atau alasan di balik pendapat tersebut. Juga tidak lupa memahami main stream (ide pokok) pemikiran cendikiawan tersebut sekaligus latar belakang (konteks) beliau berpendapat demikian. Penting pula memahami riwayat hidupnya, terutama pengalaman pendidikannya (meliputi para guru,sahabat, buku-buku, serta lingkungan yang berpengaruh besar dalam membentuk pemikiran dan kepribadiannya), begitu pula kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik yang mewarnai perjalanan hidupnya. 


Sedangkan sikap-sikap yang mencerminkan kearifan intektualitas seseorang bisa diketahui dari hal-hal berikut ini :


1. Dapat menghargai perbedaan pendapat.


2. Mau menerima kebenaran orang lain, alias tidak gengsi menerima kebenaran orang lain jika memang layak untuk dibenarkan.


3. Tidak merasa benar sendiri dan tidak mudah menyalahkan orang lain.


4. Tidak arogan (sombong) atau menggurui orang lain.


5. Terbuka dalam menerima kritik serta tidak emosional menanggapi kritik. Bahkan ia sangat berterima kasih jika ada orang yang mau menunjukkan kekurangan atau kesalahannya.


6. Memberi kebebasan berpikir kepada orang lain selama masih bisa dipertanggungjawabkan serta yang bersangkutan tidak berhenti belajar. Karena selama orang itu terus belajar, banyak membaca, banyak berguru, maka suatu saat ia akan tahu kekurangan dan kesalahan dari pendapatnya yang dulu itu, semakin bisa menyaring mana yang baik dan mana yang tidak, sehingga kelak ia akan menjadi orang bijaksana di masa mendatang. 


7. Berjiwa besar, memaafkan dan memaklumi keterbatasan sekaligus menghargai kelebihan orang lain. Bahkan mau mengakui kesalahan dan keterbatasan dirinya sendiri.


Semoga kita bisa menjadi orang yang memiliki kedewasaan dan kearifan intelektual agar keilmuan agama maupun  umum terus berkembang, serta terbentuk pula masyarakat yang cerdas, toleran, dan bijaksana. aamiin ya Mujibas saailiin. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish shawab

​​​​​​​
Penulis merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrahim Mekarsari Cileungsi Bogor

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×