• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 27 Februari 2024

Taushiyah

DAKWAH SIAGA BENCANA

Fungsi Akal dalam Mereduksi Risiko Kerusakan Lingkungan

Fungsi Akal dalam Mereduksi Risiko Kerusakan Lingkungan
Fungsi Akal dalam Mereduksi Risiko Kerusakan Lingkungan. (Foto: NU Online Jabar)
Fungsi Akal dalam Mereduksi Risiko Kerusakan Lingkungan. (Foto: NU Online Jabar)

Tugas penting manusia dalam kehidupan dunia dunia sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran adalah menjalanakan tugasnya sebagai wakil Allah (khalifah Allah). Sebagai wakil Allah Swt di muka bumi, menurut Syekh Mahmud Syaltut dalam kitab Taujibat al-Islam, manusia memiliki empat tugas dan tanggung jawab sekaligus.


Pertama, manusia harus bisa menjaga dan berinisiatif menggali rahasia-rahasia Allah di balik kekayaan alam semesta. Kedua, manusia dituntut untuk dapat memberdayakan alam lingkungannya sehingga betul-betul bermanfaat, baik bagi kemaslahatan dirinya maupun makhluk lain di sekitarnya. Ketiga, manusia harus mampu mengoptimalkan perluasan pengelolaan lingkungan dengan ramah dan baik. Keempat, manusia hendaknya bisa hidup bahagia dan sentosa dengan cara berbagai dan bersahabat dengan alam semesta.


Keempat tugas dan tanggng jawab manusia sebagai wakil Allah tersebut bisa terwujud atau tidak, sangat ditentukan oleh ilmu dan kecakapan manusia. Oleh sebab itulah di dalam Al-Quran sangat ditekankan pentingnya berpikir seputar kekuasaan Allah, baik di langit dan di bumi.


Untuk menunjang manusia agar dapat berpikir, Allah Swt telah menganugerahkan akal kepada manusia. Dengan berpikir, manusia akan menghasilkan ilmu dan pengetahuan. Akal adalah alat berpikir sementara buahnya adalah ilmu. Jadi, jika Al-Quran menekankan pentingnya manusia berpikir terhadap ayat-ayat kaumiyyah Allah, maka tidak lain karena Allah Swt sangat menghargai akal pikiran manusia. Hal ini mempertimbangkan bahwa aspek garapan Islam itu ada yang bersifat ta’abudi (semata-mata ibadah) dan ta’aaquli (dapat dinalar dengan akal). 


Islam adalah agama berpikir (dinul fikr), agama akal (dinul aql) dan agama ilmu (dinul ‘ilm). Betapa Rasulullah Saw tidak menyampaikan dalil kerasulannya kecuali dengan jalur yang sesuai akal, pengamatan dan pikiran. Begitupun Allah Swt tidak menghendaki pembenaran risalah yang dibawakan Nabi Muhammad Saw, jika hanya ditentukan berdasarkan sesuatu yang tidak masuk akal. Allah Swt berfirman dalam QS Al-Ankabut ayat 50-51:


Al-Quran sangat menghargai potensi manusia, di dalamnya itu terdapat penjelasan, bahwa di antara sebab manusia mendapatkan musibah dan siksa adalah karena mereka tidak menggunakan akan fikirannya untuk mencari kebenaran dan mengamalkannya. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt dalam QS al Mulk ayat 10.


Begitu juga Al-Quran sangat menjunjung tinggi ilmu dan meluhurkan manusia yang berilmu pada derajat ketiga setelah Allah dan malaikat-Nya. Allah Swt berfirman dalam QS Ali Imran ayat 18:


Kemudian juga dijelaskan dalam Al-Quran bahwa orang-orang yang berilmu itu dijadikan sebagai kelompok yang menempati posisi khusus di samping Allah, yaitu sebagai alladzina yakhsyauna atau orang-orang yang takut kepada Allah. Sebab dengan akal yang digunakan untuk berfikir dan menghasilkan ilmu pengetahuan, orang-orang berilmu mampu menangkap tanda-tanda kekuasaan Allah dan keagungan-Nya. Allah Swt berfirman dalam QS Fathir ayat 28.


Mengingat agama Islam merupakan agama akal dan ilmu, maka Islam menghendaki agar umatnya menjauhi segala sesuatu yang bersifat prasangka (Dzan). Allah Swt berfirman dalam QS An-Najm ayat 28.


Dzan sendiri menurut Imam as-Subkhi memiliki pengertian ‘sesuatu yang belum dirasakan mantap oleh pemiliknya’. Dalam konteks pelestarian alam, peran dan tanggung jawab manusia menyangkut pengelolaan dan pemberdayaan (i’timar wa ‘timah) lingkungan harus mengedepankan sisi rasionalitas akal pikiran daripada perkiraan.


Rasionalitas pengelolaan alam merupakan hasil penting dari cipta, rasa, dan karsa manusia melalui ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Manusia menciptakan ini untuk memudahkan dalam rangka memanfaatkan alam dan kemakmuran bumi atau memudahkan hubungan antar manusia. Dalam memanfaatkan alam diperlukan IPTEK, karena alam ciptaan Allah bukanlah sepenuhnya siap pakai, melainkan memerlukan pemahaman terhadap alam dan ikhtiyar untuk mendayagunakannya.


Pada dasarnya ilmu pengetahuan bersumber dari Allah. Penguasaan pengembangannya disandarkan kepada pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Quran. Ayat-ayat tersebut adakalanya berupa ayat gaulijah (wahyu) dan adakalanya berupa ayat kauniyyah (alam semesta). Untuk memahami dan mengemban pemahaman terhadap ayat-ayat Allah itulah manusia mengarahkan kesad moral, potensi kreatif berupa akal dan aktifitas intelektualnya.


Di sini kemudian diperlukan penalaran tinggi dan itihad yang serta sistematis terhadap ayat-ayat Allah. Caranya adalah mengemban pemahaman tersebut meniadi IPTEK; menciptakan inovasi IPTEK dalam konteks kemanusiaan, maupun menentukan simpul-simpul penyele terhadap masalah-masalah yang ditimbulkannya.


Cara in digambarkan dalam al-Qur'an dengan simbol berupa kata "sulthan?" (kekuatan), yang antara lain terdapat dalam salah satu firman Alla berikut ini: qs al-mu’minun ayat 56


Mungkin sekali yang dimaksud sultan di sini adalah ilmu pengetahuan. Ilmu biasa didalilkan orang ke dalam tiga ungkapan: ilmu itu mengetahui, ilmu itu meramalkan dan ilmu itu berkuasa. Francis Bacon, seorang pemikir dan penulis Inggris juga membuat dalil, bahwa ilmu itu berkuasa. Makanya sangat tepat jika Syekh Mahmud Syaltut mengatakan, kata sultan maknanya adalah akal atau logika berupa penjelasan berdasarkan ayat-ayat Allah Swt.


Sementara dalam avat tersebut juga dijelaskan soal sikap orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tapa didasari dengan akal dan logika. Dalam dada mereka hanya terdapat kecongkakan (kibr) karena ada padanya ambisi yang sesungguhnya tidak mungkin bisa mereka raih sendiri.


Kewajiban seorang Muslim, di sini, adalah mempelopori gerakan pelestarian alam agar selamat dari tangan-tangan kelompok kibriga (orang-orang bermodal besar yang tidak mau memahami ayat-ayat Allah). Sebab dewasa ini sudah banyak terjadi kerusakan dan perubahan ekosistem yang sangat luar biasa akibat perlakuan yang tidak strategis dan tidak menerapkan ilmu terhadap sumber-sumber daya alam. Misalnya, merambah kayu secara illegal di hutan lindung, menangkap ikan dengan mengunakan bius atau racun dan bom, membuang sampah dan limbah di sungai-sungai dan sebagainya.


Laksana mata rantai kehidupan, keberadaan golongan kibrija dan mufsidin (perusak) sudah pasti akan tetap ada dalam sejarah hidup manusia. Namun demikian tetap menjadi kewajiban sebagai manusia yang shalih yaitu memikirkan jalan keluarnva. al-Qur'an sendiri menyebutnya dengan cara fasta ida billah (berlindung kepada Allah Swt). Namun hal in bukan berarti mengajarkan agar manusia menerah dan cukup "berlindung kepada Allah".


Apalagi Allah Swt menyebut dirinya sebagai Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Itu artinya sebagai wakil Allah di muka bumi, jika manusia ingin terlindungi dari kerusakan akibat olah golongan kibriya dan mufsidin, maka manusia harus "tanggap" dengan banyak mendengar dan "mengawasi" dan dengan cara melihat.


Berlindung kepada Allah berarti mencari jalan keluar sesuai petunjuk Allah. Sebab Allah jua yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dialah rang menentukan ukuran dan hukum-hukumnya. Dan alam telah menunjukkan tanda-tanda keberadaan, sifat serta perbuatan Allah. Ini berarti nilai tauhid melingkupi hubungan manusia dengan alam sekitarnya.


Petunjuk Allah dalam urusan pengelolan alam adalah menjadikan manusia sebagai khalifah atas segala makhluk ciptaan Allah. Allah Swt juga telah mengajarkan manusia tentang al-Asma' – menggunakan bentuk makrifat yang berarti nama atau ilmu-ilmu dasar. Sementara dunia ini tidak membutuhkan ilmu-ilmu dasar, tapi lebih dari itu, memerlukan ilmu terapan dengan kompleksitas obyek kajiannya.


Karena itulah menjadi kewajiban manusia untuk selalu berpilar ilmu-ilmu baru untuk menjaga kelestarian alam semesta. Sebagaiman Rasulullah Saw: "Kamu sekalian lebih tahu urusan dunia kalian?'


Taushiyah Terbaru