Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Pandangan Ulama Terhadap Tradisi Sambangi Orang Pulang Haji-an

Pandangan Ulama Terhadap Tradisi Sambangi Orang Pulang Haji-an
Pandangan Ulama Terhadap Tradisi Sambangi Orang Pulang Haji-an (Foto: NU Online)
Pandangan Ulama Terhadap Tradisi Sambangi Orang Pulang Haji-an (Foto: NU Online)

Kepulangan jamaah haji sangat ditunggu-tunggu orang rumah, kedatangannya sudah siap disambut oleh keluarga dengan penuh rindu. Bahkan para jamaah suka dijemput langsung oleh sanak keluarganya di Bandara. Selain sebagai wujud kebahagiaan, para penjemput juga berharap keberkahan dari para jamaah usai menjalankan rukun Islam yang kelima ini. 

 

Penjemputan jamaah oleh keluarga sudah menjadi tradisi di Indonesia, selain itu ada tradisi lainnya, yaitu acara tasyakuran dan menyambangi rumah yang baru pulang haji. Mereka bergiliran mendatanginya dengan tujuan mencari berkah dan meminta dido’akan. Kebiasaan itu biasanya sampai empat puluh hari sejak kepulanganya dari tanah suci Makkah.

 

Sepulang dari hajian, jamaah haji dirumahnya suka dikunjungi oleh para tetangga dan keluarga jauhnya, kunjungan tersebut yaitu untuk silaturahim dan minta keberkahan, serta di doakan supaya bisa senasib menunaikan ibadah haji.

 

Dalam kunjungannya, para tetangga suka dikasih hidangan makanan khas makkah, selain itu tamu yang berkunjung juga akan mendapatkan oleh-oleh khas haji seperti air Zamzam, sajadah, tasbih, dan lain sebagainya.

 

Tradisi menyambangi dan bersilaturahim pada orang yang baru pulang haji untuk mengambil keberkahan dan meminta di doakan bukanlah praktik yang jelek dan jauh dari ajaran agama, tetapi ini merupakan ajaran yang telah dijelaskan oleh para ulama terdahulu.

 

Dalam kitab Hasyiyah Qaliyubi yang ditulis oleh Syihabuddin al-Qaliyubi salah satu ulama kenamaan dari madzhab syafi’i, terdapat keterangan bahwa bagi orang yang berhaji dianjurkan mendo’akan atau memintakan ampunan kepada orang yang tidak berhaji meskipun orang tersebut tidak memintanya.


Begitu sebaliknya orang yang tidak berhaji disunahkan untuk meminta dido’akan agar dosanya diampuni. Menurutnya, para ulama menyebutkan bahwa waktunya sampai empat puluh hari. Empat puluh hari ini dihitung sejak kedatangannya.

 

 وَيُنْدَبُ لِلْحَاجِّ الدُّعَاءُ لِغَيْرِهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَإِنْ لَمْ يَسْأَلْ وَلِغَيْرِهِ سُؤَالُ الدُّعَاءِ مِنْهُ بِهَا وَذَكَرُوا أَنَّهُ أَيْ الدُّعَاءَ يَمْتَدُّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مِنْ قُدُومِهِ 

 

“Dan disunahkan bagi orang yang berhaji untuk mendo’akan kepada orang (yang tidak berhaji) dengan ampunan meskipun orang tersebut tidak meminta. Dan bagi orang yang tidak berhaji hendaknya meminta dido’akan oleh dia. Para ulama menyebutkan bahwa do’a tersebut sampai empat puluh hari dari kedatangannya” (Syihabuddin al-Qaliyubi, Hasyiyah Qaliyubi ‘ala Syarhi Jalaliddin al-Mahali, Bairut-Dar al-Fikr, 1419 H/1998 M, juz, II, hlm. 190).


berdasarkan penjelasan ini, maka sebenarnya praktik menyambangi atau bersilaturahmi kepada orang yang baru pulang dari haji dalam rangka untuk meminta dido’akan dan mencari keberkahan adalah sesuatu yang baik dan dianjurkan sebagaimana keterangan di atas.


Sementara untuk tradisi tasyakuran kepulangan haji, merupakan tradisi yang dibenarkan dalam ajaran islam, termasuk dalam rangka menyambut kepulangan jamaah haji ke rumah. Imam Nawawi mengatakan, praktik ini hukumnya sunnah dan menyebutnya sebagai naqi’ah, yaitu hidangan yang dipersembahkan untuk menyambut kedatangan seseorang.


Penjelasan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab (4/400) menjelaskan:

 
يستحب النقيعة، وهي طعام يُعمل لقدوم المسافر ، ويطلق على ما يَعمله المسافر القادم ، وعلى ما يعمله غيرُه له  

 

Artinya: “Disunnahkan untuk mengadakan naqi’ah, yaitu hidangan makanan yang digelar sepulang safar. Baik yang menyediakan makanan itu orang yang baru pulang safar atau disediakan orang lain.”


An-Nawawi mendasari penjelasannya itu dari hadis Nabi berikut:


أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما قدم المدينة من سفره نحر جزوراً أو بقرةً ” رواه البخاري  

 

Artinya, “Sesungguhnya Rasulullah saw ketika tiba dari Madinah sepulang safar, beliau menyembelih onta atau sapi.” (HR Bukhari). 

 

Dalam hadits lain riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Ja’far juga disebutkan, 
 

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا .فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ . قَالَ : فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ  

 

Artinya, “Jika Nabi saw pulang dari safar, kami menyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain, lalu beliau menggendong salah satu di antara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau, hingga kami masuk kota Madinah.” (HR Muslim).


Editor: Abdul Manap

Syariah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×