• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 28 Mei 2024

Sejarah

Soekarno: Saya Cinta NU

Soekarno: Saya Cinta NU
Soekarno: Saya Cinta NU
Soekarno: Saya Cinta NU

Banyak beredar tulisan atau meme yang mengutip pidato Presiden Soekarno saat Muktamar NU di Sala pada 1962. Berikut kutipannya yang banyak beredar:


“Saya sangat cinta sekali kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke mukamar ini, agar orang idak meragukan kecintaan saya kepada NU!” 


Ternyata kutipan tersebut adalah parafrase. Kalimat utuh dari pidato Bung Karno sendiri dimuat - salah satunya - dalam buku “Mendajung dalam Taufan” yang dinisbatkan ke KH Idham Chalid. Dalam buku terbitan 1966 ini, ada salinan utuh amanat presiden yang disampaikan pada Jumat, 28 Desember 1962.


Dari amanat itu, ada perkataan Bung Karno yang nyaris semakna dengan kutipan di atas. Berikut redaksinya:


…. kalau saja disangka tidak tjinta kepada Nahdlatul Ulama, la mbok meskipun saja musti ngerayap saja akan datang ke Sala [lokasi Muktamar NU].”.


Perkataan itu disambut riuh rendah tepuk tangan para hadirin. Ungkapan tersebut juga ditegaskan oleh Bung Karno saat memberikan sambutan pada Harlah ke-40 NU di Jakarta pada 1966.


Memang saya tidak tedeng aling-aling, saya cinta kepada NU. Kan sudah ucapkan di Sala, hei NU, saya cinta kepadamu, cintailah kepadaku! Hei NU, saya rangkul kepadamu, rangkullah aku ini.


*


Pada Muktamar ke-23 NU tersebut, Soekarno amat sulit untuk membagi waktu. Ia telah memerintahkan kepada ajudannya untuk biss mengatur keberangkatannya ke Sala dalam rangka membuka muktamar tersebut. Walaupun kehadirannya hanya sebentar dan langsung pulang kembali ke Jakarta.


Rencananya ia akan terbang dengan pesawat jetnya jenis Jetstar yang diberi nama Irian. Tapi, bandara yang ada di Surakarta, Panasan, tidak memiliki landasan yang cukup panjang untuk didarati pesawat jet. Skenario kedua, akan singgah di bandara Meguwo di Yogyakarta dan dilanjutkan dengan helikopter ke Surakarta. Akan tetapi, opsi tersebut, masih belum memungkinkan. Akhirnya, ia mengutus Wakil Perdana Menteri/ Menlu Dr. Subandrio.


Saat hadir di Sala, Subandrio mendengar keluhan warga Nahdliyin karena presiden tak datang. Hal itu direspon olehnya saat menyampaikan amanat tertulis presiden, bahwa Soekarno nanti akan menyusul datang di hari yang lain. 


Sepulangnya dari Surakarta, Subandrio menghadap presiden. Sebagaimana yang ditirukan oleh presiden sendiri dalam pidatonya, Subadrio melapor demikian:


Bung Karno, ada suara-suara menanja pada saja Bung Karno tidak rawuh ke Sala itu disangka Bung Karno tidak tjinta kepada Nahdlatul Ulama.


Mendengar laporan demikian, Bung Karno langsung merespon; “Wah itu berat….”.


Kemudian, Bung Karno memerintahkan ajudannya yang bernama Bambang Widjakarno, untuk mengatur penerbangan ke Surakarta. Walaupun tak mengendarai pesawat jetnya. Ia mengendarai pesawat Convair dan mendarat di Panasan, Sala.


Lantas Bung Karno berpidato hingga menjelang salat Jumat dimulai. Editor buku “Mendajung dalam Taufan” di sampul belakang buku itu, merangkum pidato itu sebagai berikut:
BUNG KARNO TJINTA NU


Sudah djelas NU adalah partai jang berdjoang untuk agama.


Oleh karena itu saja bisa ngerangkul NU dan saja minta NU ngerangkul kepada saja.”


NU tjinta kepada Tanah Air, NU ikut berkorban. Oleh karena itu saja tjinta kepada Nahdlatul Ulama.”


Tidaklah orang Nahdlatul Ulama jang mengatakan dengan tegas bahwa sosialisme tidak bertentangan dengan Islam, bahkan sosialisme malahan dikehendaki oleh Islam, bahwa sosialisme adalah tjita-tjita daripada Islam jang sedjati.”


Oleh karena itu saja tambah-tambah lagi bahan untuk tjinta kepada Nahdlatul Ulama.


Ayung Notonegoro. Penulis adalah peneliti sejarah NU


Sejarah Terbaru