Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Khadijah binti Suhnun: Ulama Perempuan Tunis (w. 885 M)

Khadijah binti Suhnun: Ulama Perempuan Tunis (w. 885 M)
(Ilustrasi: freepik.com)
(Ilustrasi: freepik.com)

Oleh: KH Husein Muhammad

Ia adalah perempuan ulama. Sampai akhir hayatnya Khadijah memilih tidak menikah. Nama lengkapnya Khadijah bint al-Imam Abd al-Salam Suhnun bin Sa’id al-Tanukhi. Lahir di Qairawan, Tunisia, tahun 160 H. Al-Imam al-Qadhi ‘Iyadh (w. 1149 M), penulis kitab 'al-Syifa", menulis dalam bukunya yang lain "Tartib al-Muluk wa Tartib al-Masalik fi Ma’rifah A’lam Madzhab Malik": “Khadijah bint Suhnun adalah perempuan ulama, cendekia, cerdas dan pribadi yang indah. Pengetahuan agamanya sangat luas dan mendalam, bahkan mengungguli kebanyakan ulama laki-laki. Ia memberi fatwa keagamaan dan melakukan advokasi-advokasi sosial-kemanusiaan.”

 

Ayahnya, Imam Suhnun, adalah ahli hukum Islam terkemuka dalam mazhab Maliki. Dialah penyusun kitab Al-Mudawwanah, sebuah ensiklopedi fikih mazhab Maliki. Di bawah pendidikan dan asuhan sang ayah, Khadijah, bukan hanya memperoleh pengetahuan keagamaan yang luas, melainkan juga kepribadian yang luhur; rendah hati, santun, pemurah, bersahaja dan religius. Popularitasnya sebagai ulama perempuan sangat menonjol. Sahnun juga seorang hakim pengadilan terkemuka. Ia selalu meminta pertimbangan dan pendapat putrinya yang cerdas itu, sebelum ia mengetukkan palu di pengadilan.  

 

Khadijah Tidak Menikah

 

Ridha Kahalah, penulis buku " A'lam Al Nisa" mengatakan : 

 

nوماتت خديجه بنت سحنون وهي بِكر في سنه 270 ودُفنت حذو ابيها بمقبرتهم المشهوره بهم قرب مقام الصحابي ابي زمعه البلوي رضي الله عنه.

 

Khadijah binti Suhnun, wafat tahun 270 H/885 M dalam keadaan menjomblo, dan dikebumikan di Qairawan, di samping ayah yang dicintai dan mencintainya berdekatan dengan kuburan seorang sahabat Nabi Abi Zam'ah

 

Tidak ada penjelasan dari dirinya sendiri, mengapa ia tidak menikah sepanjang hidupnya. Seperti pada umumnya tokoh besar yang memilih tidak menikah, ia tampaknya lebih terpikat pada kerja-kerja intelektual, menyebarkan ilmu pengetahuan dan melakukan advokasi-advokasi kemanusiaan. Seorang pengagum Khadijah, Ala Ghaul, menulis puisi dan memposting di Facebooknya, pada hari Senin, 27-07-1403 H. Saya mengutipkan sebagian dari puisi itu di sini:

 

Ini, aku yang bicara

Betapa banyak laki-laki merinduimu, 

tetapi kau acuh saja

dia yang merinduimu

Ini, aku yang bicara

Dia mati sendiri, tak mau kawin

Dia memilih menjaga agama

Menjaga diri

Itu kata banyak orang

Tak ada di kota ini perempuan sepertimu 

 

Perempuan-perempuan kota datang kepadanya

Bertanya dan mengadu nasibnya

Dan mereka pulang dengan riang

O, Khadijah

Kau lebih memilih hidup menyepi, sendiri

Ketimbang bersama suami

Pribadimu wakil perempuan-perempuan yang tekun ibadah

Kaulah pesona Qairawan dan pantai lautan yang indah

Saat pulang, kau dibaringkan di samping ayahmu

Dan mereka yang mengenal kesucian pribadimu 

Menziarahimu.

Terkait

Sejarah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×