Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Mendorong Pelibatan dan Partisipasi Perempuan: Catatan Menjadi Peninjau pada Konfercab PCNU Indramayu ke-20

Mendorong Pelibatan dan Partisipasi Perempuan: Catatan Menjadi Peninjau pada Konfercab PCNU Indramayu ke-20
Mendorong Pelibatan dan Partisipasi Perempuan: Catatan Menjadi Peninjau pada Konfercab PCNU Indramayu ke-20 (Foto: Zahra Amin)
Mendorong Pelibatan dan Partisipasi Perempuan: Catatan Menjadi Peninjau pada Konfercab PCNU Indramayu ke-20 (Foto: Zahra Amin)

Diberi kesempatan dengan menjadi peninjau dalam forum Konfercab ke XX PCNU Indramayu saya manfaatkan sebaik mungkin. Dan inilah catatan yang bisa saya refleksikan dengan mengikuti sidang komisi program kerja yang baru saja usai tepat saat adzan Maghrib berkumandang.


Ada tiga hal yang menjadi perhatian saya, baik belajar dari pengalaman selama terlibat dalam kepengurusan lima tahun ini, juga melihat dinamika kelembagaan organisasi NU secara nasional, di mana ruang, kiprah, dan karya perempuan telah diapresiasi sedemikian rupa, sehingga ruang-ruang itu jika masih dibatasi, harus direbut dan diperjuangkan.


Pertama, perempuan sebagai subjek penuh kehidupan. Dalam sidang komisi program kerja, saya memasukkan "da'iyah" atau pendakwah perempuan masuk dalam program, agar bersama-sama dengan da'i/pendakwah laki-laki, menyampaikan narasi keislamanan yang sesuai dengan aswaja ala an-Nahdliyyah, dengan penguatan kapasitas, dan aktif merespon isu-isu sosial.


Sebelumnya di poin tersebut hanya menyebutkan "da'i" saja. Lalu pada poin pendataan pondok pesantren, saya memasukkan Bu Nyai sebagai pengasuh pesantren, Bu Nyai tidak hanya sekedar pendamping Kiai, tetapi juga punya otoritas yang ikut mengasuh, mengajarkan ilmu, dan mendampingi para santri. Sebelumnya, hanya ada kata kiai dan santri. 


Kedua, keluarga maslahah sebagai pondasi utama, dan penguatan keluarga warga nahdliyin, melalui kemitraan dengan Kementerian Agama yakni program Bimbingan Perkawinan. Karena di periode kemarin, di program ini yang saya merasa tidak maksimal. Selain karena kondisi pandemi yang membatasi pertemuan dan kerumunan, sehingga ini masih menjadi PR bagaimana ke depan agar para calon pengantin, terutama dari kalangan nahdliyyin wajib mengikuti bimwin yang dikelola oleh lembaga di bawah naungan NU.


Ketiga, isu perempuan sebagai isu kemanusiaan yang wajib menjadi perhatian bersama. Antara lain hak kesehatan reproduksi perempuan, dan seksualitas, lalu juga soal stunting. Saya memasukkan ini dalam poin kesehatan warga NU. Maraknya kasus kekerasan seksual, baik di tingkat keluarga maupun di lembaga pendidikan, pesantren serta fasilitas layanan umum, menjadikan isu ini kian penting. 


Setidaknya dengan melihat ketiga usulan yang saya masukkan dalam poin program kerja kepengurusan mendatang, di setiap lembaga harus ada unsur perempuan, karena laki-laki dan perempuan adalah subjek penuh kehidupan, posisinya setara sebagai khalifah fil ard yang memberi kemanfaatan seluas-luasnya dalam kehidupan, bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beragama. Saya titipkan pada kepengurusan mendatang, agar tak hanya mendengarkan suara perempuan, tetapi melibatkan dalam setiap proses organisasi NU di tingkat Kabupaten Indramayu. Selamat berkonfercab, siapapun yang terpilih semoga akan membawa NU Indramayu semakin maju. 

Zahra Amin, Ketua LKKNU Indramayu (2016-2021)

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik