• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Rabu, 17 April 2024

Sejarah

Jejak Sejarah Pesantren Tua Bureng di Surapringga dan Jaringan Keilmuan Ulama Sunda–Jawa Timur Abad 19 M pada Manuskrip Koleksi Qatar National Library

Jejak Sejarah Pesantren Tua Bureng di Surapringga dan Jaringan Keilmuan Ulama Sunda–Jawa Timur Abad 19 M pada Manuskrip Koleksi Qatar National Library
Jejak Sejarah Pesantren Tua Bureng di Surapringga (Surabaya) dan Jaringan Keilmuan Ulama Sunda–Jawa Timur Abad 19 M pada Manuskrip Koleksi Qatar National Library (QNL)
Jejak Sejarah Pesantren Tua Bureng di Surapringga (Surabaya) dan Jaringan Keilmuan Ulama Sunda–Jawa Timur Abad 19 M pada Manuskrip Koleksi Qatar National Library (QNL)

Saat berada di kota Doha beberapa hari yang lalu, saya diperlihatkan pada salah satu manuskrip koleksi Qatar National Library (QNL) oleh Bapak Ihsan, orang Indonesia yang bekerja sebagai muthawwa’ (muadzin) di salah satu masjid di Doha yang juga pengurus PCINU Qatar.


Koleksi manuskrip tersebut berupa al-Qur’an yang berasal dari Pulau Jawa, pada kurun masa pertengahan abad ke-19 M. Manuskrip tersebut berbahan kertas Eropa, dengan ukuran sedang, berjumlah halaman 403. Sayangnya, saya belum sempat mendapatkan informasi terkait nomor kode dari manuskrip tersebut.


Tentu saja, karena manuskrip tersebut merupakan al-Qur’an, bahasa teks pada manuskrip adalah bahasa Arab. Namun, pada dua halaman terakhir, terdapat teks lain di luar teks utama (parateks) yang ditulis dalam bahasa Aran dan juga bahasa Jawa aksara Arab (Pegon).


Parateks tersebut memuat informasi yang menurut saya penting, terkait jejak sejarah jaringan keilmuan ulama Nusantara pada kurun masa pertengahan abad ke-19 M, yang menghubungkan wilayah Jawa Barat dengan Jawa Timur, khususnya Cirebon dengan Surabaya.


Pada halaman 402 dari manuskrip tersebut, terdapat parateks berbahasa Arab dengan campuran bahasa Jawa Pegon, sejumlah 8 (delapan) buah baris, sebagaimana berikut:


والله أعلم بالصواب والخطاء. تم (؟) هذا القرآن الكريم من يوم / الإثنين وشهر ربيع الأخير 15. هذا صاحب القرآن "أفرأيتم" / في بلد الكبير شربون وفي قرية رجاݢالوه. ويکتب الکتاب / هذا في بلد الکبير سورفرڠݢو اڠ دلم کمفوڠ فکوت أويت / نوليس. وشيخ المسمّى کياهي محمد شرف. / أنفون مرني نولس أن کمفوڠ بورڠ. تم في يوم الإثنين / في شهر ربيع الأول في الهلال 8. تم هـ ر ر هجرة النبي / صلى الله عليه وسلم من مکة الى المدينة 1274 وفي سنة ج أخير. هـ


(wallâhu a’lam bi al-shawâb wa al-khata. Selesai menulis kitab al-Qur’an al-Karim ini pada hari / Senin, bulan Rabi’ul Akhir [tanggal] 15. Pemilik naskah al-Qur’an ini adalah “Afaroaitum” / dari negeri besar [karesidenan] Cirebon, dari desa Rajagaluh. Kitab ini ditulis / di negeri besar Suropringgo [Surabaya], di dalam kampung p.k.w.t [Pogot?] mulai / menulisnya. Adapun guru [saya] bernama Kiyai Muhammad Syarof. / Adapun [?] menulis ada di kampung Bureng. Selesai pada hari Senin / bulan Rabi’ul Awal tanggal 8, tahun Hijrah Nabi Saw dari Makkah ke Madinah 1274, bertepatan dengan tahun [Jawa Mataram] Jimakir)


Dari (para)teks di atas, setidaknya terdapat beberapa data dan informasi yang bisa kita gali dan dapatkan. Di antaranya:


Pertama, manuskrip tersebut selesai ditulis pada hari Senin, tanggal 8 Rabi’ul Awwal tahun 1274 Hijri, atau bertepatan dengan 26 Oktober 1857 Masehi.


Kedua, penulis dan pemilik manuskrip tersebut bernama “Afaroaitum”, yang berasal dari kampung Rajagaluh. Saya tidak tahu, apakah “Afaroaitum” tersebut nama sebenarnya, atau hanya nama samaran (alias). Pada masa itu, Rajagaluh termasuk ke dalam karesidenan (balad al-kabîr) Cirebon. Pada saat sekarang ini, Rajagaluh merupakan desa dan kecamatan yang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.


Ketiga, penulis menyebut jika dirinya menulis naskah tersebut di wilayah besar (balad kabîr) Surapringga. Surapringga sendiri merupakan sebuah nama kawasan lama bagi kota Surabaya, Jawa Timur. Di Surapringga, pada abad ke-19 hingga paruh pertama abad ke-20 terdapat sebuah masjid besar, keraton dan alun-alun yang menjadi ikon wilayah tersebut. Saat ini, tidak lagi ditemukan bekas bangunan masjid, keraton dan bahkan alun-alun Surapringga. Sekarang, bekas kawasan tersebut sudah berubah menjadi kawasan tugu pahlawan di kota Surabaya.


Keempat, terdapat dua buah kampung di balad kabîr Surapringga (Surabaya) yang disebut di dalam manuskrip tersebut, yaitu kampung Pogot dan kampung Bureng. Saya sendiri belum mendapatkan informasi mengenai keberadaan pesantren tua di kawasan Pogot. Namun untuk kawasan kampung Bureng, memang di sana terdapat sebuah pesantren tua yang masih eksis hingga kini.


Kelima, dalam manuskrip tersebut disebut seorang nama ulama dari Pesantren Bureng, bernama Kiyai Muhammad Syarof, yang menjadi guru daripada “Afaroaitum” Rajagaluh.


Terkait Pesantren Bureng di Surabaya. Pesantren ini tampaknya menjadi salah satu kiblat yang penting dalam tradisi intelektual dan pendidikan Islam di kawasan timur Jawa pada abad ke-19 M. Di kurun yang sama, selain Bureng, terdapat pula pesantren tua lainnya di Jawa Timur yang menjadi kiblat serupa, yaitu Pesantren Sidoresmo (Dresma) di Surabaya dan Pesantren Tegalsari di Ponorogo.


Keberadaan pesantren-pesantren tersebut sebagai tujuan tempat belajar dan menuntut ilmu pada abad ke-19 M tidak hanya berlaku bagi para santri dari Jawa saja, tetapi juga bagi santri asal wilayah Sunda. Dalam manuskrip catatan perjalanan Snouck Hurgronje sepanjang tahun 1889–1891 yang merekam ratusan nama ulama di Sunda, Jawa dan Madura, disebutkan jika hampir mayoritas para ulama besar Tatar Sunda yang berkarir di akhir abad ke-19 M pernah belajar di Surabaya.


Selain Kiyai “Afaroaitum” dari Rajagaluh, Majalengka (Cirebon), saya sendiri menjumpai dua orang ulama asal Tatar Sunda lainnya yang pernah tercatat belajar di Pesantren Bureng. Keduanya adalah Kiyai Adzro’i dari Bojong (Garut) dan Kiyai Muhammad b. Alqo dari Sukamiskin (Bandung). Informasi ini saya dapatkan dari sebuah manuskrip peninggalan Kiyai Muhammad b. Alqo Sukamiskin, yang pada kurun masa tahun 1880-an tercatat pernah belajar di Pesantren Bureng dan di sana ia berjumpa dengan Kiyai Adzro’i Bojong (ulasan mengenai manuskrip tersebut, bisa disimak dalam catatan Manuskrip Peninggalan KH R Muhammad bin Alqo Sukamiskin Bandung.


A Ginanjar Sya'ban, salah seorang Wakil Sekretaris Jendral PBNU


Sejarah Terbaru