Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Mengenang Pemilihan Rais 'Aam di Cipasung

Mengenang Pemilihan Rais 'Aam di Cipasung
KH Moh Ilyas Ruhiat, Rais 'Aam PBNU periode 1994-1999. Foto: Dok. Majalah Hidayatullah (1998)
KH Moh Ilyas Ruhiat, Rais 'Aam PBNU periode 1994-1999. Foto: Dok. Majalah Hidayatullah (1998)

Dengan simbol tali kendor yang melingkari bola dunia, setiap Muktamar NU selalu memberikan kejutan. Tidak ada aturan yang kaku yang menjebak NU pada konflik internal yang tak bisa diselesaikan. Selalu ada jalan keluar sebagai cara menyelesaikan perbedaan pandangan setajam apapun. Kelenturan inilah yang menjadi misteri sekaligus membuat NU selalu menyimpan daya tarik.


Dalam Munas Alim Ulama di Kaliurang 1981, Rais Syuriyah PWNU DIY KH Ali Maksum diminta secara bulat untuk menjadi Rais 'Aam menggantikan almaghfurlah KH Bisyri Syansuri. Wakil Rais 'Aam Prof KH Anwar Musaddad tidak otomatis menggantikan kedudukan Mbah Bisyri karena dianggap bukan pengasuh pesantren. Dalam Konbes PBNU di Lampung 1992, KH Moh Ilyas Ruhiat sebagai Rais Syuriyah PBNU urutan kesepuluh, terpilih sebagai pelaksana Rais 'Aam hingga muktamar berikutnya. Ia menggantikan almaghfurlah KH Ahmad Siddiq yang wafat pada 1991. Prof KH Ali Yafie sebagai Wakil Rais 'Aam juga tidak langsung menggantikan Kiai Ahmad, selain karena tidak mengasuh pesantren juga berbeda pendapat dengan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid sehingga memutuskan untuk tidak hadir di Lampung.


Kemudian seusai Mukatamar XXXIII di Jombang 2015, Rais 'Aam Prof KH Ma’ruf Amin pada hajatan Pilpres 2019, terpilih sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Joko Widodo. Kali ini pejabat pelaksana Rais 'Aam dilanjutkan oleh Wakil Rais Aam KH Miftahul Achyar. Apakah Muktamar XXXIV di Lampung akan memberikan kejutan juga dalam pemilihan Rais 'Aam?


Sebelum mengetahui hasilnya pada 24 Desember 2021 nanti, mari kita menengok sejenak pemilihan Rais 'Aam dalam Muktamar XXIX di Cipasung. Pemilihan yang berlangsung pada 4 Desember 1994 ini memang jarang dikaji peneliti yang lebih terpukau dengan pemilihan Ketua Umum PBNU. Intervensi negara pada pemilihan tanfidziyah tersebut, menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti. Sementara pemilihan Rais 'Aam bisa dikatakan adem ayem. Untunglah sejumlah media mencatat dengan baik proses pemilihan Rais 'Aam itu, antara lain Pikiran Rakyat dan Suara Merdeka yang terbit keesokan harinya.


Dalam Muktamar Cipasung, pemilihan Rais 'Aam dan Ketua Umum menggunakan sistem pemilihan langsung dalam dua putaran. Putaran pertama memilih bakal calon dan yang kedua memilih calon. Dalam pilihan pertama yang dimulai pada jam 20.05, Ajengan Ilyas mendapat 205 suara, Kiai Sahal 101 suara, KH Dr Idham Chalid 5 suara, dan KH Abdullah Abbas 1 suara. Pimpinan sidang KH Ahmad yang juga Ketua PWNU Jawa Tengah kemudian membacakan surat pribadi Kiai Sahal yang menyatakan bahwa beliau menyetujui Kiai Ilyas sebagai Rais 'Aam dan beliau bersedia menjadi wakilnya. Dengan demikian muktamirin bersepakat untuk tidak dilakukan pemilihan putaran kedua. Pada pukul 23.25, KH Moh Ilyas Ruhiat ditetapkan sebagai Rais 'Aam dan KH MA Sahal Mahfudh sebagai Wakil Rais 'Aam periode 1994-1999.


Dalam perjalanan periode yang dianggap paling dinamis ini, muncul beberapa pos (kedudukan) yang diadakan untuk memastikan berputarnya roda organisasi. KH Ma’ruf Amin yang dalam periode sebelumnya menjadi Katib ‘Aam, masuk dalam jajaran rais syuriyah sekaligus sebagai Koordinator Harian (Kohar) Syuriyah PBNU. Hal ini karena kebutuhan jam’iyyah dan tempat tinggalnya di Jakarta, relatif dekat dari kantor PBNU. Ketika KH Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presden RI yang dilantik pada 20 Oktober 1999, posisinya digantikan oleh pelaksana harian PBNU KH Hafid Utsman. Sementara itu KH Dr Said Aqil Siradj yang sebelumnya sebagai Wakil Katib ‘Aam naik menjadi Katib ‘Aam menggantikan KH Dawam Anwar yang terpilih sebagai Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB sejak 23 Juli 1998.


“Barangkali, Kiai Ilyas Ruhiat adalah Rais ‘Aam yang paling low profile sepanjang sejarah NU. Tidak banyak sepak terjang beliau yang mengundang perhatian publik. Tetapi, lihatlah capaian-capaian NU di bawah kepemimpinan beliau. NU selamat dari permusuhan Presiden Soeharto. NU menghantarkan Republik Indonesia memasuki gerbang reformasi. NU mengantarkan Ketua Umumnya, Kiai Abdurrahman Wahid, menjadi Presiden Republik Indonesia. Dalam ukuran nasional, belum pernah NU meraih prestasi sebesar itu. Tak pelak lagi, semuanya adalah atsar (dampak) dari sirr al-ikhlash (rahasia ikhlas) dalam jiwa Kiai Ilyas Ruhiat. Rais ‘Aam yang agung karena kebersihan hatinya."


Demikian ditulis oleh KH Yahya Cholil Staquf dalam pengantar buku Ajengan Cipasung Biografi KH Moh Ilyas Ruhiat yang diterbitkan ulang oleh alif.id (2021). 


Wallahu a’lam. Alfatihah ... 


Iip Yahya

Risalah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×