Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Mang Haji Sudah Pergi

Mang Haji Sudah Pergi
Mang Haji bersama para tetamunya (Foto Dok. Pribadi ESS)
Mang Haji bersama para tetamunya (Foto Dok. Pribadi ESS)

Oleh Enton Supriyatna Sind
"Sudah, sahur di sini saja. Sebentar lagi juga janari," ujar Kyai Fuad Affandi berkali-kali, saat kami berpamitan pulang.

Malam itu, Jumat tanggal 1 Mei 2020, kami (Faiz Manshur, Herry Dim, Ujang Rusmana, Choiril Anwar Ar-Rohili, Jajang dan saya) bersilaturahmi ke kediaman kyai yang akrab disapa "Mang Haji" itu. Kami sengaja memilih waktu malam hari, seusai aktivitas shalat tarawih di Ponpea Al Ittifaq Alamendah Rancabali Kabupaten Bandung. 

Sebelumnya, Mang Haji beberapa kali berencana menengok kami di Odesa Indonesia. Tapi belum kesampaian. Justru yang sudah sampai berkali-kali adalah sayurannya. Tidak tanggung-tanggung, sekali kirim diangkut mobil bak terbuka. 

Berbagai sayuran segar itu, kami distribusikan kembali kepada warga Cimenyan. "Masih kurang? Kalau kurang, kita kirim sekalian pakai truk gede. Asal mampu saja membagikannya," kata Mang Haji lewat telepon dengan nada canda. 

Pesantren yang diasuhnya, selama ini memang dikenal sebagai pesantren agribisnis. Pesantren Al Ittifaq menjadi salah satu penyalur buah dan sayur untuk pasar swalayan di Bandung dan Jakarta. Kapasitas produksinya sekitar 3,5 ton per hari. Sebanyak 1 ton dari lahan milik pesantren, sisanya dari lahan milik ratusan petani setempat. Jenis komoditinya antara lain buah-buah, tomat, wortel, buncis, bawang daun dan selada.

Pesantren di Ciburial itu memang sudah ada sejak 1939 yang didirikan orangtuanya. Mang Haji sendiri berkelana menuntut ilmu di sejumlah pesantren di Jawa Tengah. Sejak 1993 dia merintis kegiatan agribisnis. Lembaga koperasi pun didirikan. Para santri diperkenalkan pada dunia pertanian. "Jangan ada sejengkal tanah pun yang tidak dimanfaatkan. Itu anugerah Allah yang harus difungsikan dengan sebaik-baiknya," ujarnya.

Dalam udara dingin kawasan Ciwidey itu, para santri mendapatkan ilmu agama dan ilmu pertanian. Setiap pagi sehabis pengajian subuh, mereka sibuk dengan pekerjaanya. Sebagian berangkat ke ladang, sebagian lagi mengolah hasil panen, dan yang lainnya sibuk mengangkut sayuran ke mobil yang sudah mengantre. 
Di sebelah barat masjid terdapat kandang sapi dan domba. Beberapa santri bertugas membersihkan kandang, membagi rumput dan sebagian lagi memerah susu sapi. Puluhan sapi dan ratusan domba itu juga menghasilkan pupul organik untuk menopang pertanian. 

Al Ittifaq menjadi tempat studi berbagai pihak untuk urusan pertanian. Berbagai penghargaan diperolehnya. Mang Haji menjadi narasumber di forum-forum ilmiah. "Pada mulanya langkah saya ini ditertawakan orang. Bahkan ada yang mempertanyakan, ini benar pesantren atau mau usaha tani. Tapi saya tidak peduli, terus melangkah," kata pria yang rambut dan cambangnya sudah memutih itu. 

Mang Haji telah mengajarkan tentang kemandirian pangan, kehormatan dan kesejahteraan petani, serta keberanian bertindak. Dia memang punya karakter "pembangkang" sejak muda. Berani berbeda untuk sesuatu yang diyakininya. "Pekerjaan sebagai petani merupalan pekerjaan mulia," ujarnya. 

Dan tadi malam, pesan pendek masuk. Mengabarkan Mang Haji sudah pergi, wafat sekitar pukul 20.00 di RS Hasan Sadikin. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Semoga husnul khotimah.

Alfatihah.

Penulis adalah wartawan senior dan pegiat Odesa.

Terkait

Obituari Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×