Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kiai Abun dan Kemangkatan yang Dipersiapkan

Kiai Abun dan Kemangkatan yang Dipersiapkan
Almagfurlah KH Drs Abun Bunyamin Ruhiat, M.Si (Ilustrasi/NUJO)
Almagfurlah KH Drs Abun Bunyamin Ruhiat, M.Si (Ilustrasi/NUJO)

Oleh Iip Yahya
Sebagai santri, kita sering mendengar cerita tentang sikap aneh para wali menjelang hari wafatnya. Mereka seolah bisa menduga kapan ajal akan menjemput dan mempersiapkan kedatangan Izrail sebaik-baiknya. Ada yang tiba-tiba meminta disiapkan kayu bakar yang banyak seolah akan hajat besar. Ada yang menyiapkan sejumlah uang untuk dibagikan secara merata kepada para dewan pengasuh pesantren. Ada pula yang sudah mendelegasikan semua tugas organisasi dan pesantren kepada calon penenerusnya.

 

Almagfurlah KH. Abun Bunyamin Ruhiat termasuk dalam kelompok yang ketiga. Pada tanggal 25 September 2022, sebagaimana disaksikan Asep M Tamam, suasana di aula IAIC Cipasung terasa tegang sekaligus mengharukan. Semua yang hadir di acara wisuda IAIC menangis. Kiai Abun dinyatakan purna tugas sebagai Rektor IAIC dan menyerahkan estafet kampus ini kepada menantunya H. Dendi Yuda. Dendi memang sudah lama menjadi staf pengajar di IAIC dan sudah dipersiapkan untuk menggantikan sang mertua.

 

Lain lagi kesaksian Ade Saepul Aziz, Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Tasikmalaya yang menggawangi kesekretariatan. Rabu, 7 September 2022, Kiai Abun datang ke PCNU untuk meminta dibuatkan surat pernyataan berhenti dari posisinya sebagai Rais Syuriyah PCNU. Ia memilih untuk berkhidmah sebagai Syuriyah PBNU. Hal itu sebagai tanda ketaatannya pada instruksi PBNU yang disampaikan dalam Rakernas PBNU di Cipasung (24-25 Maret 2022). Bahwa para pengurus yang merangkap jabatan sebagai pengurus harian di level yang berbeda, harus memilih salah satunya.

 

“Sok ku Bapa didiktekeun suratna,” ujar Kiai Abun setengah memaksa kepada Ade. “Harus jadi hari ini karena akan diantarkan langsung ke PBNU.”

 

Surat pun jadi dan sejak hari itu Kiai Abun berhenti jadi sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya. Beban segera beralih kepada pengurus PCNU yang lain untuk menentukan siapa penggantinya. Untunglah Kiai Abun memberikan sinyal yang jelas dan tegas,

 

“Kalau bisa, pengganti saya masih dari keluarga Cipasung.”

 

Maka atas arahan tersebut, Sabtu, 12 November 2022, KH Ubaidillah Ruhiat ditetapkan oleh Rapat Pleno PCNU sebagai Pejabat Rais Syuriyah. Hal ini juga merupakan pertanda bahwa Kiai Ubaid direstui pula oleh kakandanya itu sebagai penggantinya dalam kepemimpinan di pesantren. Seminggu berselang, Sabtu, 19 November 2022, usai mensalatkan jenazah almarhum, KH Ubaidillah Ruhiat ditetapkan sebagai Pengasuh Pesantren Cipasung. Sementara untuk Ketua Yayasan Cipasung diamanahkan kepada KH Acep Adang Ruhiat.

 

Ketika semua urusan “keduniaan” sudah rapih diuruskan, Kiai Abun sepenuhnya bersiap untuk kembali ke haribaan Sang Pencipta, dengan wasilah jatuh saat keluar dari kamar mandi. Setelah dirawat di rumah sakit selama sepekan, ia pun memghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang. Semua pihak seolah sudah siap untuk itu. Proses pengurusan jenazah berjalan lancar hingga ke pemakaman. 

 

Kiai Abun adalah Bapak Pembangunan Cipasung, demikian dinyatakan oleh KH Ahmad Ruhyat Hasbi (Kang Uyan), Ketua MPP Keluarga Alumni Cipasung. Tangan dinginnya sudah disaksikan umat sejak hajat besar Muktamar NU ke-29, 1-5 Desember 1994. Pembangunan fasilitas untuk melayani muktamirin di lingkungan pesantren Cipasung, langsung di bawah komando Kiai Abun. Sosoknya “tampak dominan”, demikian menurut pandangan mata wartawan majalah Aula yang meliput persiapan muktamar.

 

Sikap dominan ini diakui oleh Amin, panggilan akrab KH. Abun Bunyamin saat masih mengaji di Cipasung. Kebetulan nama keduanya sama. Amin, kini mengasuh Pesantren Al-Muhajiri Purwakarta dengan sejumlah cabangnya dan mendidik lebih dari 6.000 santri yang dibantu oleh 600 asatidzah. 

 

“Saya yang membawakan tasnya saat berangkat kuliah,” tutur Kiai Abun. ”Saya juga sering dimarahi. Alhamdulillah, berkah saya dimarahi, saya jadi maju. Kebaikan, kemajuan, ketinggian Pesantren Al-Muhajirin ini, tidak ada apa-apanya kecuali karena (berkah para guru) Pesantren Cipasung,” ujan KH Abun Bunyamin saat menyampaikan sambutan sahibut bait dalam Rapat Pleno PBNU di Pesantren Al-Muhajirin, 20 September 2020.

 

Dalam catatan Muhammad Thoriq Aziz, saat kondisinya sehat, keseharian Ajengan Abun diawali dengan mengajar santri mulai bakda subuh hingga memasuki waktu dluha. Selanjutnya ia menuju dapur umum tempat ribuan santri mengambil nasi dan lauk pauk untuk sarapan. Dalam aktivitas tersebut, ia tidak segan untuk membantu memasak di dapur hingga mengontrol jalannya pemberian makan santri di pagi hari. Ia tidak akan sarapan pagi sebelum semua santri makan lebih dulu. Karena nasi dan lauk pauk yang beliau makan, diambil dari dapur umum itu.  

 

Setelah itu ia bersiap untuk memeriksa pekerjaan yang sedang dilaksanakan di pesantren, mulai dari pembangunan asrama, sekolah, dan yang lainnya akan ia pantau langsung setiap hari. Di sela-sela itu ia menerima beragam tamu. Ada masyarakat umum, pejabat, dan alim-ulama yang bersilaturahmi untuk meminta doa, nasehat atau berbagi informasi. Sudah barang tentu, semua yang berkepentingan politik dari tingkat kabupaten hingga nasional, pasti menjadikan Cipasung sebagai kunjungan utama. Semua tamu itu dapat bersaksi, bahwa Ajengan Abun Cipasung sangat memuliakan setiap tamunya. 

 

Bagi santri Cipasung, ia dikenal sebagai kiai yang tegas dan perfeksionis, serba ingin sempurna. Ia menyukai kebersihan dan kerapihan, juga teliti dalam segala hal. Ingatannya sangat tajam dan gigih dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Ia tidak pernah menunda apalagi meninggalkan suatu pekerjaan sebelum pekerjaan itu selesai.  Apapun yang dikerjakan harus efisien dan “sempurna”. Selagi masih bisa diusahakan, baginya tidak ada yang tidak mungkin. 

 

“Lamun teu ku urang ku saha deui? Lamun teu ayeuna rek iraha deui?” 
Kalau tidak oleh kita, lalu siapa lagi yang akan mengerjakan? Kalau bukan sekarang, lalu mau kapan lagi dikerjakan? Itulah prinsp dasar yang dipegangnya. 

 

Tapi di luar itu semua, ia sosok yang humoris, ramah, dan murah senyum. Dengan keseharian seperti itu, Ajengan Abun menjadi panutan para santri dan masyarakat. Wibawanya tumbuh dan terasa seiring dengan perkembangan pembangunan Cipasung yang pesat. 

 

Saat berbicara, suara Ajengan Abun terdengar sedikit parau dan lembut. Suaranya saat ngalogat kitab kuning sangat khas dan menjadi pelipur bagi para santrinya. Kalau ingin tahu bagaimana ngalogat Sunda dipraktikkan, dengarkanlah saat Ajengan Abun mengajar para santri.

 

Dengan perkembangan fisik yang pesat dan representatif itu, Cipasung kerap dijadikan tempat perhelatan tingkat nasional dan internasional. Pada 2012, misalnya, menjadi tuan rumah untuk Ijtima Ulama 33 negara Asean dan Timur Tengah. Lalu ada acara Ijazah Kitab Syamailul Muhammadiyah, Halaqah Alim Ulama PBNU (2018). Film dokumenter Jalan Dakwah Pesantren (2016) juga menjadikan Cipasung sebagai salah satu tempat pengambilan gambar. 

 

Kini, Bapak Pembangunan Cipasung itu telah pergi, meninggalkan legacy berupa pembangunan pesantren dan sarana pendidikan yang megah dan dapat menampung serta mendidik ribuan santri.

 

Al Fatihah ...

 

* Penulis adalah Direktur Media Center PWNU Jabar, penulis Biografi Ajengan Cipasung.


 

Terkait

Obituari Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×