• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 27 Februari 2024

Obituari

KH A Bunyamin Ruhiat, Kiai yang Lembut dan Multitalenta

KH A Bunyamin Ruhiat, Kiai yang Lembut dan Multitalenta
KH A Bunyamin Ruhiat, Kiai yang Lembut dan Multitalenta
KH A Bunyamin Ruhiat, Kiai yang Lembut dan Multitalenta

Minggu tanggal 25 Januari tahun 1988 saya mulai mondok di Pondok Pesantren Cipasung, salah satu Pesantren terbesar di Priangan Timur Jawa Barat. Di Cipasung ini sekitar tahun 1950an uwa (kakak dari ayah) saya KH Bunyamin Syafe'i pernah mondok, ayah saya KH Hasan Bisri Syafe'i tahun 1961 sampai dengan 1969 juga menjadi santrinya. Lalu dilanjutkan oleh kakak sepupu saya KH Nanang Baedarus Murtadla sekitar tahun 1980an. Kiai Nanang keluar, dilanjutkan oleh adiknya H Enyang Baedarus Mustofa. Dan bersama kang H Enyang inilah saya tinggal di asrama masjid yang waktu itu karena asrama pesantren masih terbatas, Masjid Cipasung yang baru dua lantai, terpaksa difungsikan juga sebagai asrama santri putra.


Hanya sebulan berada di asrama masjid itu, saya dan kakak sepupu saya pindah ke kamar 2 bawah asrama selamat.


Jadi bagi keluarga saya mondok di Cipasung adalah tradisi turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, termasuk adik kandung saya H Ahmad Zamakhsyari yang pernah menjadi wakil bupati Karawang juga jebolan Cipasung. Yang terakhir dua bulan sebelum Kiai Abun wafat, anak saya diwisuda sebagai Sarjana S 1 IAIC oleh beliau.


Di sekolah, saya masuk kelas dua SMP Islam Cipasung, sebagai siswa mutasi dari SMP Negeri Telagasari di Karawang. Di pengajian saya masuk kelas 1 yang diajari langsung oleh Kiai Abun, Kiai Oban dan Kiai-Kiai lainnya.


Ketika pertama kali ngaji Jurumiah yang diajar oleh Kiai Abun saya duduk di paling depan, sebelum beliau mulai ngajar, beliau melihat saya, karena baru melihat saya beliau nanya kepada kakak sepupu saya yang duduk bersebelahan dengan saya:


"Ari ieu saha , Baedarus?"


"Santri enggal pak, namina Ahmad Ruhyat , putrana mang Hasan," Kang H Enyang menjawab.


"Oh anak kang Hasan ?" Kata Kiai Abun.


Beliau memang kenal dengan ayah saya karena dulu pernah ngaji Jurumiah bareng kepada Kiai Ilyas Ruhiat.


Waktu pertama kali datang ke Cipasung memang ayah saya tidak sempat menemui Kiai Abun, hanya bertemu Kiai Ilyas saja, karena maklum kami ke Cipasung waktu itu ikut menumpang kendaraan saudara dari ayah saya, jadi ayah saya tidak bisa berlama-lama di Cipasung. Tapi yang membuat saya kagum. Kiai Abun tidak merasa tersinggung dengan hal itu, beliau tetap memperhatikan saya seperti santrinya yang sudah lama mondok. Malah sering kali saya diminta beliau untuk membaca ulang kitab Ta'limul Muta'allim setelah beliau mengajari kami, atau beliau meminta saya untuk menjawab pertanyaan yang beliau sampaikan di tengah-tengah ngaji Jurumiah.


Tentu saja saya merasa tersanjung dengan sikap beliau yang sedikit memperlakukan saya secara khusus seperti itu. Tapi belakangan saya baru tahu alasannya, ternyata beliau sangat menghormati alumni Cipasung yaitu ayah saya yang mau memondokkan putranya di Cipasung kembali.


Ketika pertama kali kenal. Kiai Abun memanggil saya dengan panggilan Ahmad, tapi karena teman-teman saya memanggil Uyan, maka akhirnya beliaupun ikut memanggil saya Uyan.


"Bapak ge rek manggil Uyan weh nya, moal Ahmad, komo Ruhiat mah, bisi belengong ka Abah" kata beliau sambil tersenyum.


Suatu hari saya dipanggil Kiai Abun melalui salah seorang santri yang biasa menjadi khodam beliau.


"Kang, saur Bapak ka bumi Bapak ayeuna, bari mawa kitab Ta'lim".


Saya pun menghadap beliau di rumahnya sambil penuh dengan tanda tanya, ada salah apa saya, kok guru saya sampai manggil secara khusus, pake harus bawa kitab Ta'lim lagi. Tapi rasa khawatir itu sirna ketika sampai di ruang tamu rumah Kiai Abun dan beliau dawuh:


"Yan, ibu kitab Ta'lim na loba nu kosong, pang ngajarkeun nya ku Uyan !"


Masya Allah betapa kaget, campur senang juga tentu saja sungkan, sekelas saya harus ngajarin ibu Nyai ngelogat Ta'limul muta'allim. Tapi karena ini perintah guru, sayapun menjalankannya dengan tetap penuh rasa sungkan.


Setelah selesai saya diberikan satu buah mushaf Al Qur'an dan sebuah sorban oleh Kiai Abun, sungguh sebuah kenangan yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya.


Selama 8 tahun saya ngaji beberapa kitab Nahwu shorof dan ushul fiqih, dari mulai Jurumiah, Mutammimah, Alfiah Ibnu Malik, Waroqot, Alluma dan Latoiful isyaroh langsung kepada Al Magfurlah KH Bunyamin Ruhiat . Beliau menyampaikan pengajaran dengan sangat cerdas, menggunakan bahasa yang lugas dengan disertai contoh , sehingga umumnya para santri faham dan mengerti betul apa yang beliau sampaikan.


"ribut neangan contoh ameh tereh ngarti,"


Beliau sering mengingatkan kami ketika sedang mengaji. Jadi walaupun materi yang diajarkannya kitab-kitab yang terkenal sulit dalam bidang Nahwu shorof dan ushul fiqih, tapi dengan metode penjelasan yang gamblang khas Kiai Abun, maka kami pun pada umumnya bisa memahami materi-materi itu.


Obituari Terbaru