Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Secret Admirer: Diam-Diam Memuji-Mu

Secret Admirer: Diam-Diam Memuji-Mu
Secret Admirer: Diam-Diam Memuji-Mu.
Secret Admirer: Diam-Diam Memuji-Mu.

Kamu punya idola di medsos? Gak pernah bertemu, tapi kamu mengidolakannya; selalu memantau postingannya atau bahkan selalu paling dulu kasih komen, klik like dan share. Tapi kamu merasa Sang Idola gak pernah merespon atau hanya sesekali klik like terhadap komentarmu. Itu pun sudah bikin kamu senang dan selalu memujinya.


Kamu adalah secret admirer yang nun jauh di sana selalu memuji Sang Idola. Kamu hanya membatin suatu saat bisa bertemu dengannya, terus selfie deh Kamu gak sendirian. Di dunia ini banyak orang yang menjadi secret admirer; yang hanya bisa diam-diam memuji dari kejauhan tanpa pernah bersua.


Tapi sadarkah bahwa sebagai Muslim kita adalah secret admirer terhadap Ilahi Rabbi. Kita berulang kali memuji “Alhamdulillahirabbil alamin” tanpa pernah tahu apakah Dia akan klik like dan share pujian kita itu. Itu sebabnya dalam gerakan shalat, khususnya saat bangun dari Ruku’, kita diminta mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah”. Berbeda dengan gerakan lainnya dalam shalat yang mengucap takbir.


Kita sendiri yang berucap saat i’tidal: “Allah Maha Mendengar siapa yang memujiNya”. Ini artinya, berbeda dengan Sang Idola yang kita kagumi di medsos, Allah tidak pernah melewatkan mendengar kata-kata pujian kita.


Dalam kitab I’anah, diceritakan riwayat bagaimana ucapan ini bermula, yaitu ketika Sayidina Abu Bakar telat hadir shalat jama’ah bersama Rasul. Ketika masuk Masjid, beliau masih mendapati Rasul dan jama’ah sedang ruku’. Beliau lantas berucap Alhamdulillah. Kemudian bergabung dalam shalat.


Jibril lantas turun dan meminta Nabi Muhammad saat bangun dari ruku’ mengucapkan “sami’allahu liman hamidah” sebagai penegasan bahwa Allah mendengar pujian dari Sayidina Abu Bakar.


Namun kini bukan hanya pujian Abu Bakar yang didengar Allah. Kita pun memuji Allah. Karena jawaban makmum saat Imam berucap “sami’allahu liman hamidah” ialah “Rabbana wa lakal hamdu” (Duhai Tuhan kami, segala puji hanya bagi-Mu). Ada yang membaca tanpa “wa”. Ada pula yang mengawali dengan “Allahumma”. Bahkan ada yang membaca lebih panjang:


‎اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءُ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ


“Ya Allah Rabb kami, hanya milik-Mu semata segala pujian, yang memenuhi langit-langit, bumi, dan segala sesuatu yang Engkau kehendaki”


Variasi bacaan di atas tidak masalah. Silakan pilih kalimat pujian yang hendak kita ucapkan. Semuanya ada riwayat pendukungnya. Apapun bacaan kita, semuanya bertujuan memuji Allah, sebagai respon terhadap penegasan bahwa Allah Maha Mendengar pujian dari hambaNya.


Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa maksud “mendengar” di sini maknanya adalah “mengabulkan” doa hambaNya dalam setiap kondisi.


Dalam satu riwayat shahih juga disebutkan: “Barangsiapa bacaan (pujiannya) saat i’tidal itu bersamaan dengan bacaan pujian dari malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari).


Wahai para secret admirer,
Wahai mereka yang diam-diam selalu memuji Allah,
Yakinlah bahwa Allah mendengar pujian itu.


Tidakkah sekarang hati kita bergetar saat bangun dari ruku’ dan mengucap Rabbana wa lakal hamd? Ucapan yang pasti didengar oleh Allah.


Semoga semua doa dan pinta kita dikabulkan oleh Allah, dan semoga dosa-dosa kita dihapuskan oleh Allah.


KH Nadirsyah HosenRais Syuriah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×