Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Islam Damai Ala Kang Fauz Noor, Praktikan Dakwah Wali Songo

Islam Damai Ala Kang Fauz Noor, Praktikan Dakwah Wali Songo
Islam Damai Ala Kang Fauz Noor, Praktikan Dakwah Wali Songo. (Foto: NU Online Jabar/Sandy)
Islam Damai Ala Kang Fauz Noor, Praktikan Dakwah Wali Songo. (Foto: NU Online Jabar/Sandy)

Oleh Sandy Rezkia

 

"Islam masuk ke nusantara dan berkembang selama 80 Tahun kemudian para wali mampu mengislamkan dari Sabang sampai Merauke itu adalah keajaiban  dakwah para wali songo," ucap kang Fauz saat mengisi pengajian dalam rangka memperingati maulid nabi Muhammad Saw di Pondok Pesantren Riyadussalikin pada Jum'at malam (4/11).

 

Sosok yang akrab disapa kang Fauz selain sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Fauzan Kota Tasikmalaya juga sebagai Sastrawan dan Novelis. Menyampaikan ilmu dengan menceritakan kisah - kisah Nabi, sejarah - sejarah kerajaan islam di Timur Tengah sampai sejarah islam di Nusantara membuat jamaah semakin asyik menyimaknya. Itulah kelebihan beliau.

 

Menurutnya masyarakat Indonesia sudah beradab sebelum islam masuk ke Nusantara sudah mempraktikan hablun min An Nas (hubungan sesama manusia) sebab masyarakat indonesia sudah bersifat lemah lembut sedari dulu dalam sisi kemanusiannya. Jiwa gotong-royong sudah melekat dalam jiwa masing-masing masyarakat. 

 

Dibalut dengan dakwah wali songo yang halus dalam menjaga tradisi dan menambah budaya yang lebih baik itu sebabnya islam mudah berkembang dan para wali hanya tinggal membenahi konsep hablun min Allah (hubungan kepada Allah) karena dakwah yang disampaikan para wali sangat halus dan lembut tidak menolak keras dengan kebiasaan dan tidak langsung menjustifikasi hal yang bertentangan dengan syariat adalah haram.

 

Kang Fauz memberikan contoh konsep dakwah Sunan Bonang yang dulu ada satu budaya yang dikenal dengan istilah "hajat laut". Pada mulanya semua masyarakat selalu melemparkan  sayuran ke laut untuk persembahan Nyi Roro Kidul. 

 

Saat itu sunan Bonang mengganti dengan kepala sapi yang dilemparkan ke laut. Sunan Bonang berfikir jika ada tetesan darah yang mengalir di laut dan membuat laut ada kadar asam menyebabkan datangnya ikan ke pesisir pantai. 

 

Hal itupun disadari masyarakat, nelayan pun saat itu mengalami peningkatan dalam penangkapan ikan sehingga mulai bertanya kepada sunan Bonang ilmu darimana yang di dapat sunan Bonang; Sunan Bonang pun menjawab ilmu dari Allah dan akhirnya masyarakat pun ikut sunan Bonang memeluk agama islam dan budaya hajat laut masih bertahan. 

 

"Islam masuk ke Indonesia dengan kelembutan dakwah para wali menjadi kekuatan bagi Indonesia hingga saat ini islam semakin kuat meskipun kerajaan - kerajaan islam di Indonesia sudah hancur, inilah keberkahan dan karomah para wali untuk kita yang saat ini merasakan manfaatnya," jelas kang Fauz kepada jamaah pengajian.

 

"Berbeda halnya dengan islam yang datang ke Eropa, India dan Negara lainnya cenderung datang dengan perang sehingga mudah terkikis kembali seperti menurunnya Islam karena hancurnya dinasti Umayyah, dinasti Murobitun dan dinasti islam lainnya," tambahnya.

 

Dari peristiwa tersebut bertolak belakang dengan islam di nusantara. Kang Fauz menjelaskan kejadian tahun 1834 saat ulama-ulama nusantara yang berbasis pesantren berkumpul di Aceh untuk merumuskan Jumhuriyatul Indunisiy atau merumuskan negara Indonesia. 

 

Di sini terlihat bahwa jauh sebelum Soekarno ada konsep negara Indonesia sudah dirumuskan terdahulu  oleh para kiai para ulama nusantara, namun sayangnya rencana ini gagal karena dihabisi nya para ulama oleh orang - orang Belanda. 

 

Kang Fauz dengan pengetahuannya melanjutkan bahwa gagalnya rencana tersebut tidak menjadi halangan dan  surutnya perjuangan para ulama, terutama ulama pondok pesantren. Maka peran pondok pesantren sangat punya sumbangsih besar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju kemerdekaan di tahun 1945. Pada tahun 1945 meskipun Indonesia sudah merdeka namun sekutu masih tetap datang ke Indonesia. 

 

Demi terciptanya kondisi yang lebih aman dan damai, dahulu jumlah Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih sedikit. Sehingga pemerintah pun bergandengan dengan pondok pesantren mengajak kiai dan santri untuk mengusir sekutu, hal itu yang sering kita kenal dengan resolusi jihad pada 22 Oktober tahun 1945. Saat itu para kiai dan santri bersama-sama meperjuangkan Indonesia mengusir penjajah. Hal ini adalah keberkahan dan keajaiban para kiai atau para ulama.

 

Lebih dalam kang Fauz menjabarkan bahwa kalau bukan karena peran ulama nusantara mungkin islam tidak akan berkembang pesat hingga saat ini. Salahsatu alasan-alasan menarik islam bisa bertahan sampai saat ini adalah ulama nusantara tetap menjaga dan hanya menginginkan keberkahan.

 

Istilah keberkahan sangat dimaknai dalam oleh ulama-ulama nusantara terutama ulama Nahdlatul Ulama (NU) bahkan santri-santri pun ditekankan jangan hanya ilmu saja yang di dapat melainkan ilmu yang berkah. 

 

Kang Fauz menyebutkan bahwa berkah adalah ziyadah fil khoir (bertambah kebaikan) maka semakin para kiai atau para ulama yang diharapkan hanyalah ridlo dan berkah, semakin bertambah pula syiar islam di Indonesia.

 

Penulis adalah santri Pondok Pesantren Riyadussalikin sekaligus kader IPNU Pangandaran.

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×