Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Haji Itu Wukuf di 'Arafah (15)

Haji Itu Wukuf di 'Arafah (15)
Haji itu Wukuf di 'Arafah (15) (foto/NU Online)
Haji itu Wukuf di 'Arafah (15) (foto/NU Online)

Keutamaan Haji Mabrur

Haji mabrur adalah dambaan semua haji. Semua hujaj mengerahkan segala daya upaya untuk mendapatkan gelar tersebut. Pikiran, perasaan, dan gerak anggota badan, serta kesempatan digunakan untuknya. Mengapa tidak? Karena Haji Mabrur memiliki keutamaan antara lain:

 

Pertama, seluruh dosa diampuni, jiwa bersih dari dosa laksana anak yang baru lahir dari rahim ibunya.

 

Kedua, haji mabrur tiada pembalasan kecuali surga, sebagaimana sabda Rasul:

 

الحج المبرور ليس له جزاء الا الجنة

 

Ketiga, haji mabrur tergolong afdlalul jihad, sebagaimana sabda Nabi:

 

...لكن افضل الجهاد حج مبرور

 

"...Tetapi jihad yang utama adalah Haji Mabrur".

 

Haji mabrur tergolong jihad yang utama karena ibadah haji melibatkan raga, harta, tenaga, bahkan jiwa. Sementara jihad fii sabilillah bisa hanya menggunakan harta, atau raga, tenaga dan jiwa. Maka jika kita hitung-hitung imbalan dari Allah, karena haji mabrur tergolong afdlalul jihad, balasannya sudah tentu surga. 

 

Sedangkan jika dihitung secara fisik material, karena jihad termasuk amal kebaikan (shaleh), Allah berfirman:

 

للحسنات فله عشر امثالها


"Bagi amal-amal kebaikan itu baginya sepuluh bandingannya", artinya suatu kebaikan mendapat imbalan sepuluh.

 

...ان الحسنات يذهبن السيات

 

"Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghilangkan keburukan-keburukan".

 

Allah Swt menggambarkan perumpamaan infaq (derma) fii sabiilillah sebagai berikut:

 

مثل الذين ينفقون اموالهم في سبيل الله كمثل حبة انبتت سبع سنابل في كل سنبلةماءة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم


"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa saja yang Ia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui".

 

Maka jika kita perhatikan bagaimana sikap dan perilaku mereka yang telah melaksanakan ibadah haji, begitu juga kondisi ekonomi mereka yang sebahagiannya telah digunakan biaya ibadah haji. Pada umumnya perubahan sikap dan perilaku mengalami perubahan yang cukup baik, jika akan berbuat sesuatu mereka pertimbangkan lebih matang, apakah akan berkenan di sisi Allah, atau tidak?

 

Berbicara dan berbuat sesuatu pun akan benar-benar merasa disaksikan Allah sebagaimana kondisi waktu di tanah suci melaksanakan ibadah haji.

 

Begitu juga di bidang ekonomi bukanlah habis jadi sengsara, malah makin bertambah sebagaimana Allah janjikan. rezekinya tambah barakah.                                            

 

Mengapa haji mabrur tergolong afdholul jihad? Jawabannya antara lain bahwa musuh dalam ibadah haji tidak nampak, yang ada hanyalah memerangi nafsu (walaa rafatsa, walaa fusuuqo, walaa jidaala fi al hajji). Sedangkan pada jihad fisik musuh nampak dengan jelas.

 

Suatu ketika Rasulullah bersama sahabat kembali dari Perang Badar, Beliau bersabda :"Kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar". Sahabat tercengang karena Perang Badar merupakan perang terbesar yang pernah mereka jalani. Mereka bertanya, "Apa itu jihadul akbar, yaa Rasulallah?". "Jihaadunnafsi", jawab Rasul (menerangi nafsu). Hawa nafsu biasanya lebih didekati oleh setan. Jika tidak kuat keimanan maka setan akan lebih leluasa mempermainkan nafsu manusia. Dan dengan ibadah haji itulah diharapkan nafsu tunduk pada ketentuan-ketentuan agama yang ditetapkan Allah dan Rasulnya. (Bersambung)

 

H Awan Sanusi, salah seorang A’wan PWNU Jawa Barat

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×