• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Ngalogat

Bingkai Moderasi Beragama di Desa Cisantana Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan 

Bingkai Moderasi Beragama di Desa Cisantana Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan 
Plang informasi Kampung Toleransi Desa Cisantana Kabupaten Kuningan
Plang informasi Kampung Toleransi Desa Cisantana Kabupaten Kuningan

Kabupaten Kuningan dijuluki sebagai “kota kuda” yang merupakan ikon dari Kabupaten Kuningan sebagai perwujudan dari Si Windu. Kuda gesit tersebut milik seorang pemimpin wilayah ini yaitu Keluarga Arya Kamuning pada zaman Kesultanan Cirebon dan Pajang.


Desa harus menjadi titik tumbuh toleransi beragama, termasuk di Kabupaten Kuningan, salah satunya di Desa Cisantana Cigugur, masyarakat disini mencerminkan lingkungan yang menerima perbedaan, menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam menjalankan kehidupan keagamaan yang harmonis, yakni dengan mengedepankan moderasi beragama, menghargai keragaman tafsir, serta tidak terjebak pada ekstrimisme, intoleransi, tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama.


Desa Cisantana dikenal dengan Desa toleransi sangat tinggi, penduduk Desa ini penuh dengan keberagaman yang saling menghormati satu sama lain, di Desa tersebut banyak terdapat wisata alam, tempat makan, dan berbagai keragaman produk kerajinan lokal.


Nilai-nilai apa saja yang diterapkan untuk memelihara tradisi keagamaan di Desa Cisantana? Sehingga konflik keagamaan tidak terjadi.


Istilah ‘Ekstremisme akut’ (Fanatic Extremism), hasrat saling memusnahkan (Destruction), Perang (War), intoleransi (intolerance), serta rasa benci (Hateful Attitudes) diantara sesame umat manusia, yang semuanya mengatasnamakan agama.


Adapun prinsip Moderasi Beragama atau dalam Bahasa Arab, moderasi dikenal dengan kata “Wasath” atau “Wasathiyah” Islam, yaitu; (1) Tawassut (mengambil jalan tengah), yang berarti pemahaman dan pengalaman agama yang tidak ifrat (berlebih-lebihan dalam beragama) dan tafrit (mengurangi ajaran agama). 


(2) Tawazun (berkeseimbangan), yaitu pemahaman dan pengalaman agama secara seimbang yang meliputi semua aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi; tegas dalam menyatakan prinsip yang dapat membedakan antara inhiraf (perbedaan). 


(3) I’tidal (lurus dan tegas), dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban secara proporsional.


Sikap tawassut yang dianjurkan pada diri setiap muslim tercerminkan dalam lelaku keseharian. Sebagaimana bunyi dalam surat Al-Baqarah/2:143:

“Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian”. (QS. Al Baqarah/2:143)


Telah kita ketahui bersama, bahwa keberagaman bangsa Indonesia menjadikan penduduknya berbeda suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), sehingga memunculkan sikap yang berbeda-beda dalam menanggapi suatu persoalan atau permasalahan. Nilai-nilai moderasi beragama tercermin di Desa Cisantana Cigugur.


Desa Cisantana telah mengkampanyekan nilai-nilai moderasi beragama, sejak tahun 2023 sudah dinobatkan sebagai kampung toleransi, mengingat bahwa diwilayah ini memiliki keberagaman agama dan keyakinan yang berbeda-beda diantaranya, Islam, Kristen/Protestan, Hindu, Budha, serta kelompok penghayat agama lokal (aliran kepercayaan), Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan. 


Oleh karenanya, diperlukan sinergisitas antar aparat daerah, Pemerintah, Masyarakat, Forum-Forum, untuk mampu berpartisipasi, berakselerasi, dan berkontribusi secara nyata terhadap penguatan moderasi beragama di Desa Cisantana. 


Kendati demikian, pengetahuan masyarakat modern untuk mengembangkan nilai-nilai moderasi beragama, dari kesinambungan antara optimalisasi dan akselerasi moderasi beragama dapat mewujudkan dan menciptakan kemaslahatan secara menyeluruh, tentu tujuannya adalah untuk memperkuat dan mempererat persatuan.


Pemerintah Kabupaten Kuningan menilai bahwa kebersamaan, kerukunan, dan toleransi adalah bukti wujud persatuan masyarakat Kuningan. Dengan mengenalkan keragaman tersebut, kepada masyarakat di tiga Desa, melalui diskusi atau Forum Komunikasi antar Umat Beragama (FKUB) secara langsung dari sumbernya, tentu akan meretas stigma negatif perihal perbedaan agama, sehingga konflik pun dapat terhindari.


Desa Cisantana Kecamatan Cigugur dijuluki sebagai miniatur Indonesia, dan juga menjadi salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Kuningan. 


Saat penulis memasuki area kawasan Kampung Toleransi di Dusun Cisantana, Desa Cisantana, Kuningan, Jawa Barat. Setidaknya dalam hemat penulis, warga atau masyarakat setempat telah berkomitmen penuh untuk menjaga kerukunan antar sesama serta keindahan alam di kaki Gunung Ciremai yang  dimiliki Desa Cisantana. Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat ini memiliki beragam destinasi wisata. 


Adapun beberapa objek wisata; Wisata Palutungan, Curug Putri Palutungan, Sukageuri View, Taman Cisantana, Taman Nasional Gunung Ciremai, Jurang Landung dan Gua Maria. 


Gua Maria Sawer Rahmat yang konon dibangun atas inisiatif penduduk setempat, terletak di sebuah bukit yang bernama Bukit Totombok, sebelah barat Desa Cisantana. Gua Maria Sawer Rahmat kini seakan-akan telah menjadi tempat keramat dan seringkali menjadi tempat prosesi keagamaan. Peresmian Gua Maria Sawer Rahmat ini dilakukan pada tanggal 21 Juli 1990 oleh Kardinal Tomko. 


Di sekitar Gua Maria Sawer Rahmat terdapat sebuah taman indah yang dibentuk untuk menggambarkan Taman Getsemani, yang menurut kitab suci Kristen, di situlah Yesus Kristus ditangkap untuk diadili sebelum disalibkan. Taman ini berada pada tempat yang datar. 


Di lain lokasi tepatnya di area tempat parkir terdapat sebuah pemakaman, sebagaimana pemakaman khas di desa-desa yang lain. Namun yang menarik adalah bentuk nisan yang bentuknya bermacam-macam. Di pemakaman itu terdapat nisan berbentuk salib, sebagaimana ciri makam umat Kristen, dan nisan berbentuk pipih lonjong, sebagaimana ciri nisan pada makam umat Islam. 


Pemakaman ini merupakan campuran umat Katolik dan umat Islam. Karena terletak di Bukit Totombok, penduduk setempat lebih mengenal Gua Maria Sawer Rahmat dengan Gua Maria Totombok. 


Dengan menelusuri Kampung Toleransi di Desa Cisantana, Kuningan Jawa Barat, yang terletak di bawah kaki Gunung Ciremai telah memberi pelajaran penting bahwa setiap desa memiliki potensi wisata yang berbeda, seperti kuliner, religi, alam, hingga tradisi budaya. Desa Cisantana di Kuningan, Jawa Barat yang memang diproyeksikan menjadi desa wisata. 


Pembangunan kawasan wisata di Cisantana tetap juga mengedepankan nilai-nilai budaya adat yang sudah terbangun sejak lama sehingga tetap menjaga kelestarian alam dan menjaga kerukunan. 


Desy Salma Aeni, Dosen Prodi Ekonomi Syariah STAIBA (Sekolah Tinggi Agama Islam Al Bahjah) Cirebon
 


Ngalogat Terbaru