Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Banser, Jalan Pulang di Tanjung Harapan

Banser, Jalan Pulang di Tanjung Harapan
Anggota Banser almarhum Riyanto (Foto: NU Online)
Anggota Banser almarhum Riyanto (Foto: NU Online)

Oleh Nasihin

"Siap Ndan, Saya Merapat Sekarang," seketika suasana hening.

"Hari ini Bapak libur jualan dulu Bu, ada tugas evakuasi warga yang kebanjiran di kecamatan sebelah," sambil mengangkat tas.

"Iya Pak hati-hati, nanti pulangnya malam?," sang istri menatap sambil berdoa di dalam hati.

"Iya Bu, Bapak berangkat dulu, hati-hati di rumah dan jaga anak-anak," sambil mencium kening anak yang bungsu kemudian bergegas pergi.

 

Beliau adalah Banser yang sudah tidak muda lagi, yang kesehariannya mencari rezeki dengan berjualan keliling.

 

Cerita ini adalah fiksi, tapi mungkin saja terjadi. Saya sering mengikuti acara-acara kegiatan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), atau mungkin sekedar ngobrol-ngobrol atau ngopi bareng dengan Banser (Barisan Ansor Serbaguna), badan semi otonom yang dibentuk GP Ansor.

 

Mereka berasal dari latar belakang berbeda-beda, baik pendidikan, pekerjaan dan lingkungan. Banser dan ada pula Denwatser (Datasemen Wanita Serbaguna) barisan dari kaum perempuan, adalah barisan terdepan ketika ada acara-acara di NU, baik acara struktural ataupun kultural, dari menjaga kiai, acara, menjadi relawan bencana, ataupun pengamanan lainnya.
Mereka seringkali harus meninggalkan kesibukannya, bahkan dengan perintah yang kadang mendadak.

 

Mungkin ada, latar ekonomi Banser dari kalangan ekonomi menengah ke atas, namun saya sering menjumpai di lapangan, mereka dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, tapi itu pandangan secara dzahir, karena saya yakin batin mereka kaya, jangan tanyakan tentang gaji atau materi, mereka melaksanakan tugas dengan hati, walaupun materi sangat dibutuhkan untuk anak dan isterinya, mereka tak pernah mengeluh dengan situasi yang dihadapi. 

 

"Tujuan saya berkhidmah adalah ingin diakui santrinya Kiai Hasyim Asyari." itulah kata-kata yang sering saya dengar.

 

Perjuangan mereka tidak mudah bahkan harus bertaruh nyawa, seperti kisah Banser Riyanto di Mojokerto, meninggal demi menjaga keselamatan orang lain, mengamankan bom di malam natal, atau kisah-kisah heroik di tempat bencana.

 

Tak jarang Banser jadi bahan gunjingan, cibiran bahkan fitnah, pihak-pihak yang mungkin menganggap mereka lawan atau mungkin yang tak senang NKRI aman, membuat narasi-narasi yang fitnah dan kotor.

 

Mereka (Banser), hanya ingin berkhidmah mencintai kiai, menjaga NKRI aman dan damai, mencintai Nahdlatul Ulama. Di balik ketangguhan dan keberanian Banser, mereka adalah anak-anak bangsa yang menjadi Pahlawan keluarga dan pahlawan Perdamaian.

 

Tulisan ini untuk Mengenang Sahabat Riyanto (1975-2000) dan untuk Sahabat-sahabat Banser Di manapun.

Terima Kasih Sahabat, Kami Bangga Padamu.

Penulis adalah Pengurus Lesbumi Kabupaten Bandung dan Penikmat Sastra

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×