Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Langsung Menuju Arafah, Jamaah Haji Indonesia Tidak Laksanakan Tarwiyah

Langsung Menuju Arafah, Jamaah Haji Indonesia Tidak Laksanakan Tarwiyah
Langsung Menuju Arafah, Jamaah Haji Indonesia Tidak Laksanakan Tarwiyah (Foto: freepik)
Langsung Menuju Arafah, Jamaah Haji Indonesia Tidak Laksanakan Tarwiyah (Foto: freepik)

Makkah, NU Online Jabar
Demi kemaslahatan bersama, jamaah haji Indonesia tidak melaksanakan Tarwiyah, nantinya akan langsung bergerak dari hotel tempatnya menginap menuju Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah pagi. Pemerintah tidak memfasilitasi tarwiyah atau menginap di Mina pada 8 Dzulhijah, baru kemudian bergerak ke Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah.   


Sebagaimana diberitakan NU Online, Ketua Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPHI) Arsyad Hidayat menyampaikan kebijakan tersebut untuk kemaslahatan bersama. Ia menjelaskan, untuk memindahkan 100 ribu jamaah dalam waktu yang pendek bukan permasalahan yang gampang. Selain itu juga perlu dipersiapkan prasarana lainnya seperti konsumsi. Apalagi terdapat kelompok jamaah yang memiliki penyakit bawaan sehingga berisiko tinggi.   


Namun demikian, pemerintah Indonesia tidak melarang jika ada jamaah haji yang ingin melakukan tarwiyah, tetapi juga tidak memfasilitasinya.


“Kaitan dengan jamaah yang nanti melaksanakan tarwiyah, kita pada posisi tidak memfasilitasi mereka yang akan tarwiyah,” kata Arsyad Hidayat, Senin malam (20/06/2022).


Dengan demikian, seluruh sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menjalani tarwiyah menjadi tanggung jawab jamaah yang menjalani prosesi tersebut. Pemerintah hanya mendata dan meminta surat pernyataan kepada kelompok yang menjalani prosesi tersebut.   


Sekalipun begitu, pemerintah tetap melakukan pengawasan dengan menerjunkan sejumlah petugas untuk melakukan monitoring. Hal ini mengingat para jamaah merupakan warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan perlindungan.   
Pemerintah Arab Saudi tidak mewajibkan tarwiyah sebagai prosesi yang mesti dilaksanakan dalam rangkaian ibadah haji.


Tarwiyah merupakan amalan yang dijalani oleh Rasulullah ketika menjalani ibadah haji. Pada tanggal 8 Dzulhijah, Rasulullah bermabit di Mina untuk mengisi perbekalan air sebelum perjalanan ke Arafah. Selama di Mina, jamaah menjalani shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh. Setelah terbitnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah, jamaah bergerak ke Arafah. Bagi umat Islam yang tidak menjalani haji, mereka disunahkan puasa tarwiyah dan arafah.


Waktu melempar jumrah 
Arsyad Hidayat menyampaikan, terkait penjadwalan jumrah, dalam pertemuan dengan Kementerian Haji Arab Saudi, Misi Haji Indonesia, dan syarikah yang melayani jamaah haji Indonesia, pemerintah memutuskan pengambil waktu melempar jumrah mulai pertengahan malam sampai pukul 7 pagi waktu Arab Saudi bagi 50 persen jamaah. Sisa jamaah lainnya dijadwalkan pada pukul 4 sore sampai dengan 9 malam.   

“Memang waktu itu kita pilih karena relatif cuaca bersahabat. Kalau malam adem. Sore sampai malam pun adem,” kata Arsyad.


Terdapat perbedaan pandangan terkait dengan waktu tengah malam antara di Arab Saudi dengan di Indonesia. Di Indonesia, jam 12.00 malam merupakan tengah malam, namun di Arab Saudi, tengah malam dihitung dengan membagi waktu Maghrib sampai Subuh menjadi dua sehingga tidak selalu pukul 12.00. Arsyad menyampaikan pada saat ini, tengah malam pukul 11.30. Pada musim panas, waktu malam di Arab Saudi lebih pendek dibandingkan dengan siang harinya.   


Layanan transportasi thawaf ifadhah 
Arsyad menyampaikan adanya tawaran dari Kementerian Haji Arab Saudi, jika ada jamaah yang ingin melakukan  thawaf ifadhah pada tanggal 10 dan 11 Dzulhijjah, disiapkan sarana transportasi dari Mina ke Masjidil Haram. Jamaah yang ikut dapat membayar tiketnya sebesar 30 riyal.   


“Ini menjadi solusi karena ada orang yang ingin segera menyelesaikan thawaf ifadhah. Silahkan mereka bisa mempergunakan fasiltas bis, tentunya ada bayaran yang dikenakan,” paparnya.   


Arsyad berpesan, jamaah tidak perlu terburu-buru karena masih dapat menjalani thawaf ifadhah selama di Makkah. Apalagi banyak jamaah yang kelelahan setelah perjalanan dari Arafah, Muzdalifah, dan langsung ke jamarah. Setelah selesai prosesi di Armuzna, jamaah akan diantar ke hotel. Thawaf ifadhah dapat dijalani dari hotel menuju Masjidil Haram dengan menggunakan bus Shalawat.


Editor: Abdul Manap

Terkait

Nasional Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×