• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 19 April 2024

Kuluwung

Serba-Serbi Jamaah Haji; Noda di Tanah Suci

Serba-Serbi Jamaah Haji; Noda di Tanah Suci
Serba-Serbi Jamaah Haji; Noda di Tanah Suci
Serba-Serbi Jamaah Haji; Noda di Tanah Suci

Alarm pukul 00.40 berbunyi. Saya bangun karena harus ikut menemani para kiai umrah dini hari itu, Sabtu, 24 Juni 2023. Mobil meluncur dengan kecepatan sedang. Ada KH Anwar Iskandar bersama putrinya, Ning Atika; KH Ahmad Said Asrori, KH Zulfa Mustofa, KH Najib Bukhori, dan lainnya. Lokasi miqat di Tan'im yg berjarak sekitar 9 km ditempuh kurang lebih setengah jam.


Kami bawa satu kursi roda karena KH Anwar Iskandar membutuhkannya pada kondisi tertentu. Masjid Tan'im yang menurut cerita teman MCH dibilang sangat padat, pagi itu tergolong cukup lengang. Shalat sunnah di sana lancar. Kami bergantian menjaga kursi roda di emperan. Masjid ini cukup ramah difabel, setidkanya di bagian jalur masuk. Selain tangga, ada jalan miring yang tentu cukup membantu untuk dilewati kursi roda.


Mobil Hiace bergerak lagi. Kali ini dengan terpaksa meninggalkan salah satu penumpang yang tak bisa dihubungi. Kami tak bisa menunggu berjam-jam karena mesti segera menuju Masjidil Haram. Jelang puncak haji, jalanan Makkah sangat padat. Macet di beberapa titik. Kami baru sampai Masjid sekitar pukul 03.30. Masjidil Haram rupanya sudah sangat sesak. Sebagian kiai tawaf di area Ka'bah. Kiai Anwar tak mungkin. Area tawaf kursi roda ada di lantai 2 atau 3. Semula, beliau ingin tawaf pakai sekuter. Karena super padat, jasa sewa sekuter di lantai 2 dan 3 pun tutup.


Tawaf kursi roda pun mesti rela berjubel dengan orang-orang yg tawaf jalan kaki. Meski kami memilih di lantai 3, kepadatan tetap masih terasa. Tawaf di lantai ini, selain sulit dapat melihat Ka'bah juga jarak keliling yang ditempuh cukup jauh: sekali putaran minimal 600an meter. Artinya, 7 putaran sekitar 4,5 km.


Alhamdulillah, tawaf selesai. Kami sa'i di lantai yg sama. Kursi roda Kiai Anwar didorong bergantian antara saya dan dua wartawan senior Mas Nurman Sholihin (TV One) dan Mas Benny Benke (Suara Merdeka). Putri beliau selalu ikut mendampingi.


Peristiwa unik muncul ketika kami keluar dari pintu Marwah. Kami bersiap tahallul. Kursi roda disandarkan sebentar. Belum kelar saya cukur rambut, Mas Nurman tiba-tiba nyeletuk, "kursi rodanya mana?" Bak kapas ditiup angin, kursi roda itu tiba-tiba lenyap setolehan leher saja.


Entah siapa yang ambil. Kiai Anwar yg tahu kabar itu geleng-geleng kepala. "Lha wong kursi roda untuk nolong lansia, kok ya diambil."


Kami segera mencari bantuan untuk bisa kontak Sektor Khusus Masjidil Haram. Sayang, bantuan itu cukup lama datang, hingga Kiai Anwar meminta jalan kaki saja menuju terminal Syib Amir. Di tengah jalan kami berpapasan dengan Seksus yang tengah membawa bantuan kursi roda itu. Kiai Anwar tak jadi berjalan kaki sekitar 500 meter ke terminal bus.


Makkah memang kota suci, tetapi tak ada jaminan orang-orang yang datang di dalamnya juga pasti suci. Itulah sebabnya, saya juga mendengar ada kasus pencopetan, penjambretan, penipuan jasa kursi roda, "pemaksaan" tarif joki Hajar Aswad, dan seterusnya di kawasan suci ini. Bahkan di area Masjidil Haram sekalipun. Secara esensi ia memang tidak najis, tetapi sebagai sebuah tempat Masjidil Haram tetaplah potensial jadi mutanajjis. Oleh apa? Oleh kelakuan manusia yang lupa akan kemanusiaannya.


Penulis: Mahbib Khoiron


Kuluwung Terbaru