• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Kamis, 22 Februari 2024

Kota Bandung

Upaya PBNU Bentuk Kader Penggerak Digital yang Produktif

Upaya PBNU Bentuk Kader Penggerak Digital yang Produktif
Seminar Literasi Digital dengan tema Mengalami Satu Abad NU Menata Peradaban Digital di Aula Gedung Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, Bandung, Jawa Barat, Senin (18/7/2022). Sumber: (Foto: NUJO/Agung)
Seminar Literasi Digital dengan tema Mengalami Satu Abad NU Menata Peradaban Digital di Aula Gedung Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, Bandung, Jawa Barat, Senin (18/7/2022). Sumber: (Foto: NUJO/Agung)

Bandung, NU Online Jabar
Program Literasi Digital kerja sama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) resmi berjalan. Literasi digital Kominfo dan PBNU adalah upaya melahirkan kader-kader penggerak digital produktif. Untuk itu diperlukan ekosistem berbasis teknologi yang aman, sehat, positif, mengedukasi, dan bahkan mempunyai benefit. Sehingga program ini diharapkan mampu memelihara perdamaian dan harmoni sosial. 

 

Dalam pelaksanaannya, PBNU melibatkan sejumlah badan otonom dan lembaga terkait seperti Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam), Lembaga Ta’lif wa Nasyr (LTN), Lembaga Dakwah (LD), Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), dan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif PBNU.

 

Lakpesdam Jawa Barat yang menjadi bagian dari program ini menyelenggarakan seminar literasi digital dengan narasumber Gus Ulil Abshar Abdalla (Ketua Lakpesdam PBNU), Achyar Riyadh (Graphic Designer dan Akademisi), dan Muhyidin (Lakpesdam Jawa Barat). 

 

Acara ini mengusung tema ‘Mengalami Satu Abad NU Menata Peradaban Digital’. Sebanyak kurang lebih 200 peserta mengikuti acara yang digelar secara hybrid ini. 

 

Achyar Riyadh mengatakan, literasi digital pada intinya adalah berbicara pemanfaatan teknologi. Bagaimana teknologi digital sekarang ini bisa mempengaruhi kehidupan manusia. Menjadi ketergantungan dan tidak bisa lepas dalam kehidupan sehari-hari. 

 

Menurutnya, berbicara literasi digital adalah berbicara bagaimana cara strategi untuk peningkatan kemampuan personal. Konsep literasi digital yang digemakan Kominfo, kata dia, goals-nya adalah menjadikan talenta-talenta unggul di Indonesia. 

 

“Pada hari ini mungkin sudah harus dikesampingkan lagi antara orang kota, orang desa, orang kampung bahwa orang kampung gaptek siapa bilang? Dengan kekuatan digital semua menjadi linear dan tidak belaku lagi,” kata Achyar di Aula lantai 3 Gedung Dakwah PWNU Jabar, Senin (18/7/22).

 

Lebih lanjut, sekarang ini ketika berbicara daerah-daerah tertinggal sudah tidak bisa lagi ada batasan bahwa orang yang tidak tinggal di kota berarti ketinggalan dalam pemanfaatan tekonologi digital. Semuanya sudah sama, karena ranah-ranah bicara literasi digital, bicara ruang-ruang maya sudah menembus ruang dan waktu. 

 

Pada akhirnya, kata dia, pemanfaatan teknologi menjadi sangat penting bagi semua pihak. “Makanya hastag Kominfo #Indonesiasemakincakapdigital itu adalah suatu hastag yang sangat mengedukasi pemahaman yang harus kita resapi,” jelasnya. 

 

“Kesimpulannya adalah bahwa literasi digital di sini yang dibutuhkan adalah ketika kita sudah tau, masuk menjadi pelaku kita memerlukan suatu kompetensi dan kecakapan digital. Pemerintah dan organisasi kemasyarakatan sangat berperan di sini memberikan rambu-rambu berbicara bahwa ketika kita sudah membangun literasi digital yang baik yang positif, yang sehat yang pada akhirnya perlu kompetensi keamanan digital, keterampilan digital, etika dan budaya digital,” ucapnya.

 

“Sehingga pada akhirnya ini bisa menjadi ekosistem berbasis teknologi dengan goals bisa memproduksi media digital yang sehat, mempunyai benefit, positif yang pada akhirnya tema ‘Mengalami Satu Abad NU Menata Peradaban Digital’ bisa menjadi kader-kader penggerak di dunia digital yang produktif ,” tandasnya. 

 

Santri yang dalam hal ini juga sebagai bagian daripada pengguna teknologi digital pada dasarnya sudah memiliki bekal secara keilmuan. Akan tetapi tidak banyak santri yang memiliki kesempatan untuk bisa memasuki ruang digital yang ada saat ini sehingga santri memerlukan solusi atau jalan keluar. 

 

Menanggapi hal ini, Muhyidin mengatakan, salah satu problem kecakapan digital adalah mengenai etika di media sosial. Namun, ia menilai, mengenai etika atau adab para santri sudah mempunyai bekal dari pesantren. 

 

Problem santri hari, lanjutnya, terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama adalah kemampuan teknis. Menurutnya, ada soft skill yang memang harus dikuasai para santri namun bukan persoalan adab. Tapi persoalan bagaimana berpikir kritis. 

 

“Tapi kira-kira bahwa semua media sosial punya logikanya sendiri dan itu yang harus dikuasai oleh teman-teman santri dan mahasiswa yang mayoritas hadir di sini,” ujarnya.

 

Poin selanjutnya adalah bagaimana menciptakan kepribadian digital. “Saya kira tetapkan dulu kepridian digital kita seperti apa? Ini yang panting yang harus dipegang oleh teman-teman di sini,”

 

Terakhir, Muhyidin dan Achyar mengajak para audiance untuk aktif bersosial media di berbagai platform membuat konten-konten positif sehingga dunia digital khususnya di media sosial diisi dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat. 

 

Pewarta: Agung Gumelar


Kota Bandung Terbaru