• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Rabu, 21 Februari 2024

Kabupaten Bandung

Ponpes At-tamur Bandung Beri Pelatihan Wirausaha Martabak & Roti Bakar Bagi Santri 

Ponpes At-tamur Bandung Beri Pelatihan Wirausaha Martabak & Roti Bakar Bagi Santri 
Ponpes At-tamur Bandung Beri Pelatihan Wirausaha Martabak & Roti Bakar Bagi Santri . (Foto: Andri).
Ponpes At-tamur Bandung Beri Pelatihan Wirausaha Martabak & Roti Bakar Bagi Santri . (Foto: Andri).

Bandung, NU Online Jabar 
Pakar sejarah berkesimpulan bahwa lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia adalah lembaga pendidikan pesantren, karena awal mula adanya pesantren berbarengan dengan datangnya Islam ke Indonesia (dulu Nusantara). Dalam artian bahwa salah satu jalur islamisasi adalah dengan mendirikan pondok pesantren sebagai tempat pembelajaran dan pendidikan agama Islam sekaligus tempat pengkaderan calon ulama.


Di dunia pesantren, khususnya pesantren salafiyyah (tradisional) selain dari kegiatan belajar mengenai berbagai disiplin ilmu agama Islam, juga diajarkan dan dididik oleh kiai untuk bisa hidup secara mandiri, seperti halnya memasak sendiri, di tatar sunda disebut dengan istilah “ngaliwet”, termasuk segala urusan pribadi dilakukan dengan mandiri. 


Mengenai pendidikan kemandirian yang diajarkan oleh beberapa kiai di beberapa Pondok Pesantren juga ada yang ditugaskan khusus untuk misalnya menggarap sawah, dari mulai menanam sampai panen. Atau ada juga santri yang ditugaskan untuk mengurusi ternak milik sang kiai. Hal ini bertujuan agar kelak ketika santri sudah lulus dari pesantren bisa hidup secara mandiri dengan bertani atau berternak dan tidak bergantung kepada orang lain.


Hal semacam itu sudah dipraktikkan oleh pesantren-pesantren tradisional sejak lama. Oleh karena itu, seiring dengan berkembangnya zaman, peran pesantren dalam meningkatkan skil wirausaha sangat dibutuhkan. 


Pesantren At-tamur milik kiai Samsudin, memiliki wadah wirausaha santri dalam bidang penjualan makanan yaitu martabak dan roti bakar santri, bahkan wirausaha ini termasuk dalam kurikulum pondok pesantren At-tamur tersebut. Tujuannya, diharapkan santri tidak hanya menguasai berbagai ilmu yang diberikan di dalam pendidikan baik formal maupun informal, namun juga memiliki skil wirausaha menjadi saudagar yang berakhlakul karimah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw.


Pengembangan ekonomi pesantren ini ditangani oleh Roni Hermawan yang sampai pada hari ini martabak dan roti bakar santri memiliki enam cabang yang berada di kota Bandung, Karawang, dan Bogor. 


Pendidikan wirausaha martabak dan roti bakar santri ini tidak hanya diberikan kepada santri At-tamur saja, namun juga diberikan kepada masyarakat secara umum. Seperti halnya pelatihan wirausaha martabak dan roti bakar santri yang dilaksanakan di Karawang bersama siswa/i SMPIT Al-Ridwan pada Kamis 16 Juni 2022 kemarin. Sebelumnya juga telah dilaksanakan bersama mahasiswa/i STAI Al-Masthuriyah di komplek Pondok Pesantren Al-Masthuriyah. 


Ketua Yayasan Rumah Santri Al-Ridwan ustadz Aceng Luqmanul Haqiem berharap agar santri ataupun siswanya bisa mandiri serta bisa melihat peluang dalam setiap langkah serta bisa mengambil peluang tersebut sebagai kesempatan berdikari dan mandiri untuk dirinya sendiri. 


“Karena setelah para santri atau siswa memiliki wawasan penting mengenai berwirausaha atau berbisnis tidak lagi menjadi beban kedua orang tuanya dan juga bisa membantu biaya sekolahnya,” ujarnya. 


Para siswa dalam pelatihan wirausaha martabak dan roti bakar santri ini sangat antusias karena menjadi sebuah pengalaman baru. 


Mereka berharap ke depannya setelah mengikuti pelatihan ini bisa menjadi siswa yang mandiri, inovatif, kreatif dan bisa bersaing di dunia global saat ini khususnya dalam dunia wirausaha.


Sebagai informasi, Program pelatihan wirausaha martabak dan roti bakar santri ini rencananya akan diadakan di setiap kabupaten dan kota di provinsi Jawa Barat secara bertahap.


Pewarta: Andri Nurjaman
Editor: Agung Gumelar


Kabupaten Bandung Terbaru