Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

KH Said Aqil Siradj Ungkap Sosok Almarhum KH Q Ahmad Syahid

KH Said Aqil Siradj Ungkap Sosok Almarhum KH Q Ahmad Syahid
KH Said Aqil Siradj Ungkap Sosok Almarhum KH Q Ahmad Syahid
KH Said Aqil Siradj Ungkap Sosok Almarhum KH Q Ahmad Syahid

Bandung, NU Online Jabar
Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengungkapkan, Pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Falah Cicalengka, Almarhum KH Ahmad Syahid merupakan salah seorang yang ahli Al-Qur'an dan meyakini wafatnya pun dalam keadaan bersama Al-Qur'an. Hal ini diungkapkan saat sambutan dalam kegiatan Haul Akbar pendiri serta keluarga secara langsung dan steaming melalui akun Youtube Official PonPes Al-Quran Al-Falah, dan Instagram @SantriayahSyahid yang digelar di Al-Falah 1, pada Minggu (5/9).

"Alim bil Qur'an, Ahlul Qur'an, Wulida min Baitil Qur'an, Wa'Asyari Ajril Qur'an, wa Maatan Insya Allaha Ma'al Qur'an, yakin itu saya yakin," ungkapnya.

Kiai Said mengatakan, Almarhum KH Q Ahmad Syahid sangat dekat dengan uwa nya, yakni KH Umar Sholeh di Pesantren Kempek Cirebon yang juga sama-sama hafidz qur'an dan merupakan murid dari KH Munawir Krapyak Yogyakarta.

"Beliau sangat bersahabat, sering mendatangi pesantren Kempek, berdua ssring diskusi hal-hal Qur'an ga jauh-jauh diskusinya ngga bicara apa-apa kecuali  bicara tentang bagaimana Tadrisul Qur'an, Ta'limul Quran, bagaimana membimbing anak-anak agar rajin atau baik dan benar baca al-Qur'an, bagaimana agar masyarakat mencintai al-qur'an, itu berdua selalu berdiskusi soal itu," tutur kiai yang juga akrab disapa Buya Said.

Selain itu, KH Q Ahmad Syahid juga dikenal bersahabat dengan Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau yang dsering dikenal dengan Gus Dur. Sehingga, setiap Gus Dur ke Bandung, jika ada kesempatan pasti mendatangi rumahnya untuk membicarakan tentang perkembangan pesantren dan Nahdlatul Ulama di Jawa Barat. Karena pada saat itu kiai Ahmad Syahid merupakan salah seorang Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat.

Dalam kesempatan yang sama, Buya Said mengajak agar semuanya siap menerima dan melanjutkan estafet perjuangan KH Q Ahmad Syahid. Menurutnya, yang namanya haul bukan hanya kita mengadakan acara seremonial setelah selesai selesai, tapi haul agar bermanfaat dan menjadi peringatan bagi kita.

Ia mengutip firman Allah dalam surat Az-Zariyat ayat 55:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ ٱلذِّكْرَىٰ تَنفَعُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

"Mengingatkan apa? mengingatkan perjuangan beliau, warisan peninggalan beliau, yaitu pesantren al-Qur'an, agar terutama putra putrinya dan semuanyalah, murid-muridnya selalu memperhatikan kemajuan-kemajuan masyarakat islam terutama dibidang tadrisul Qur'an, watilawati waqiroati wafahmih, ini yang sangat penting sekali," jelasnya.

Karena, sambungnya, begitu umat islam jauh dari al-Qur'an itu sudah merupakan tanda-tanda umat islam itu jauh dari Allah.

"Jauh dari Al-Qur'an berarti umat islam tidak mengenal Halawati Kalamillah, Halawatu Kalamillah, Halawatil Qur'an. Jauh dari Al-Qur'an, berarti umat islam sudah tidak lagi mengenal kalimat atau kalam yang dikeluarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW yaitu wahyu dari Allah." ujarnya.

Kemudian, Buya Said juga mengutip Firman Allah Surat Al-An'am ayat 19:

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

"Saya turunkan Qur'an ini kepada kau muhammad, agar kamu memberi peringatan kepada umat manusia, kepada umat islam dengan Al-Qur'an dan bukan hanya  Nabi Muhammad, Wa Man Balagh, dan siapapun yang sampai pada zamannya, estafet, dari Nabi Muhammad, sahabat, para tabi'in, tabiut tabi'in, dan para ulama, dan sampailah kepada antara lain KH Ahmad Syahid Cicalengka ini. Dengan demikian insya allah kita mewarisi peningalannya ini mampu meneruskan perjuangannya,"

Selain itu, Pimpinan Pondok Pesantren Ats-Tsaqofah Ciganjur ini juga mengutip sebuah syair: 

وشر العالمين ذو خمول اذا فخر تهم ذكر الجدود
وخير الناس ذو حسد قديم اقوم نفسه حسبا جديدا

"Sejelek-jeleknya manusia, kalo orang yang hanya bisa membanggakan kakek-kakeknya, kakek saya ulama, kakek saya orang besar, saya keturunan orang besar, seorang pejuang besar, dia sendiri tidak punya nilai apa-apa, itu sejelek-jeleknya manusia. Tapi, sebaik-baiknya manusia adalah orang yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan masa lalu seperti yaitu keturunan orang-orang besar, dan diapun membesarkan dirinya, dirinya pun layak menjadi keturunan orang besar itu. Jadi, tidak hanya membanggakan kakeknya, tapi juga dirinya layak menjadi keturunan orang-orang besar," terangnya.

Buya Said juga melanjutkan, yang paling bahaya itu apabila jika ada pesantren ataupun suatu lembaga yang tadinya besar, maju, kemudian sepi.

"Tapi yakin di Cicalengka ini siap menerima estafet mewarisi peningalan ajengan ahmad syahid, dan meneruskan bahkan lebih maju lagi insya allah, lebih barokah lagi, lebih manfaat lagi, santrinya lebih banyak lagi, tahfidzul qur'an lebih maju lagi, qiroatul qur'an wafahmih lebih mendalam lagi, insya allah ta'ammuq wa tafaqquh bil qur'an akan lebih maju lagi dipesantren alfalah cicalengka ini dalam usianya yang ke 51 tahun," sambungnya.

Oleh sebab itu, yang paling baik adalah orang itu adalah keturunannya baik bisa menjadi orang baik, keturunan orang besar, orang alim, seorang ulama, bisa menjadi seorang yang alim ulama, keturunannya ahlul qur'an dan menjadi ahlul qur'an wahifdzih wafahmih

"Saya yakin, mudah-mudahan pesantren al-falah ini kedepan lebih tathowur, lebih ijtihar, lebih berkembang lagi, dalam rangka mengembangkan ayyumul qur'an, wafahmil qur'an, watafaqquh bil qur'an, ta'limul qur'an, watilawatihi, waqiroatihi. Mudah-mudahan semakin maju, semakin berkembang 'ala ridhalloh, dengan ridha Allah wabi masyiiatihi, dan dengan kehendak Allah," pungkasnya.

Pewarta: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Nasional Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×