Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Tekuni Semua Bidang Kehidupan

Tekuni Semua Bidang Kehidupan
(Sumber Ilustrasi: NUO)
(Sumber Ilustrasi: NUO)

Oleh: KH. Zakky Mubarak
Dalam perkembangan masyarakat, sering dijumpai kebanyakan dari mereka terpukau oleh kehidupan yang sedang menjadi idola. Kehidupan itu amat digandrungi sebagian besar anggota masyarakat, sehingga mereka memasukinya secara berbondong-bondong. Pada saat musik Barat digandrungi, banyak orang-orang berbondong-bondong larut dalam musik itu, sehingga bersikap berlebihan. Demikian pula dengan menggandrungi nama-nama yang serba Barat, termasuk nama-nama perkampungan dan cara berpakaian mereka. Telah banyak nama yang dimiliki seseorang diganti, karena tidak sesuai dengan nama-nama Barat, termasuk nama-nama perkampungan dan tempat tinggal.

 

Sikap sebagaimana yang disebutkan di atas, kadang-kadang dilakukan secara berlebihan, sehingga menimbulkan kesan yang lucu dan menggelikan. Sikap seperti itu menandakan suatu perilaku yang labil. Sekaligus menunjukkan bahwa pelakunya tidak memiliki jati diri. Mereka diombang-ambingkan oleh perubahan zaman dan masa, serta diporak-porandakan oleh kebudayaan bangsa asing.

 

Sebagai umat yang memiliki kepribadian yang kokoh dan memiliki harga diri yang tinggi, seyogyanya tidak terpengaruh oleh kebudayaan asing. Kita tidak dilarang mengambil atau mengikuti kebudayaan orang asing, asal memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih antara yang baik dan buruk. Kita diperintahkan untuk mengambil sagala perilaku yang baik darimanapun datangnya dan diharuskan membuang jauh-jauh perilaku yang buruk.

 

Sebagai muslim yang konsisten menegakkan kebenaran dan perilaku yang terpuji selalu bersikap untuk menyerap semua informasi, lalu memilih mana yang baik daripadanya dan melemparkan yang buruk. Dalam al-Qur’an ditegaskan, mengenai sikap terpuji tersebut:

 

فَبَشِّرْ عِبَادِيَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ

 

“Berilah berita gembira kepada hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (QS. Al-Zumar, 39: 18).

 

Dengan demikian manusia muslim adalah mereka yang tidak bersikap pilih kasih dalam menerima berbagai informasi. Budaya, peradaban, ilmu dan seni, darimanapun datangnya boleh diserap, yang penting mereka mampu memilih yang terbaik dan meninggalkan yang buruk. Dengan sikap seperti itu, maka manusia muslim tidak akan terjerumus dalam perilaku yang tidak baik, kegiatan yang tidak berfaidah atau terpuruk dalam perilaku maksiat. Setiap diri insan yang beriman akan terus berusaha menjaga identitasnya sebagai makhluk yang sempurna, yang selalu bersikap wajar. Mereka tidak berlebihan dalam menggandrungi atau mencintai sesuatu, demikian juga tidak berlebihan dalam membenci sesuatu yang belum jelas statusnya.

 

Manusia yang memiliki jati diri, akan melepaskan berbagai adat dan tradisi nenek moyang yang tidak terpuji, demikian juga akan menolak adat dan tradisi dari dunia modern yang tercela. Mereka mengambil yang baik dan terpuji. Baik yang datang dari pendahulunya ataupun dari kehidupan modern. Pintu-pintu karunia Ilahi tidak pernah tertutup bagi siapa yang ingin memperolehnya. Rahmat dan karunia-Nya meliputi segala sesuatu dalam jagat raya, yang harus dijadikan obyek perenungan dan penelitian, sehingga dapat menghayati keagungan-Nya. 

 

قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ

 

“Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu." (QS. Al-An’am, 6: 11).

 

Berkenaan dengan uraian di atas, maka manusia muslim tidaklah layak terombang-ambing dalam perubahan zaman atau terpengaruh oleh kebudayaan asing tanpa mengetahui hakikatnya. Masyarakat muslim tidak selayaknya hanya menekuni satu bidang kehidupan saja, sehingga mereka terbelenggu dalam kesempitan pandangan dan kejumudan. Masyarakat muslim harus menekuni berbagai bidang kehidupan, dengan berusaha mewarnai kehidupan itu sesuai dengan tuntunan agamanya. Kita tidak boleh terpukau oleh kehebatan suatu kehidupan, sehingga meninggalkan bidang-bidang lain, yang pada hakikatnya sangat berperan dalam memajukan kehidupan suatu bangsa.

 

Salah satu bidang yang tidak boleh diabaikan sedikitpun adalah kegiatan untuk mendalami ajaran agama. Ilmu pengetahuan agama amat penting bagi kehidupan dunia. Ia akan membimbing umat manusia menuju kebahagiaan lahir dan batin. Ilmu pengetahuan agama merupakan cahaya yang terang benderang yang dapat menyinari kegelapan dunia modern. 

 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ 

 

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. Al-Taubah, 9: 122).

 

Penulis merupakan salah seorang Rais Syuriah PBNU

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×