Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Pengentasan Kemiskinan

Pengentasan Kemiskinan
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Usaha mengangkat kaum dhuafa, miskin dan fakir pada kehidupan yang lebih layak, merupakan amal ibadah yang sangat terpuji. Dengan usaha itu kehidupan suatu masyarakat akan lebih sejahtera lahir dan bathin. Dengan pengentasan kaum dhuafa dan miskin menuju kehidupan yang lebih baik, maka jurang pemisah antar kaum kaya dan miskin dapat diperkecil, bila tidak dapat dihilangkan sama sekali. Untuk menciptakan masyarakat sejahtera, dimana perbedaan antara kaum the have dan the have not tidak terlalu menyolok, maka harus diawali dengan menghilangkan atau memperkecil faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya kemiskinan tersebut.

 

Penyebab kemiskinan biasanya tidak banyak ditentukan oleh faktor alam dimana manusia tinggal, tetapi lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia yang terlibat langsung di dalamnya. Faktor dominan yang menyebabkan kemiskinan di antaranya adalah sikap berfoya-foya dari kalangan elite masyarakat, sikap tamak yang berlebihan, etos kerja yang rendah dari sebagian besar anggota masyarakat, rendahnya moral yang dimiliki, lemahnya kontrol dalam berbagai bidang kehidupan dan penyebab lainnya.

 

Kalangan elite masyarakat merupakan cermin kehidupan bagi manusia secara umum, karena itu bila mereka memberikan contoh yang tidak terpuji akan diikuti dengan cepat oleh masyarakat. Sikap foya-foya dari kalangan elite masyarakat akan sangat merugikan, karena akan menimbulkan sikap konsumtivisme yang berlebihan pada masyarakat ramai. Sikap konsumtif yang tumbuh subur pada masyarakat akan menimbulkan kemiskinan yang parah di tengah-tengah umat. Mereka menghamburkan materi dan dana dengan mudah, padahal memperolehnya sangat sulit. Hal ini akan mengakibatkan orang tidak berhemat, tidak gemar menabung, tetapi sebaliknya akan menimbulkan kegemaran untuk berhutang, demi memenuhi keinginan nafsunya untuk berfoya-foya.

 

Sikap tamak yang berlebihan dari sebagian anggota masyarakat tidak kalah peranannya dalam mengakibatkan timbulnya kemiskinan, karena sikap itu akan melahirkan manusia-manusia yang rakus. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang diperolehnya, terus merasa kurang, sehingga menimbulkan sikap mementingkan diri sendiri dan tidak segan-segan merugikan orang lain. Ia bersikap “ambil semua” tidak memandang halal atau haram. Sikap ini akan menimbulkan penderitaan dan kemiskinan yang mengerikan di tengah-tengah masyarakat.

 

Etos kerja yang rendah dari sebagian besar anggota masyarakat akan menimbulkan sikap malas dalam bekerja dan berusaha. Sikap malas akan merendahkan kualitas sumber daya manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya manusia-manusia yang tidak produktif. Banyak wujud manusianya tetapi hasil kerjanya sangat minim dan tidak mencukupi kebutuhan hariannya, apalagi untuk mempersiapkan masa depannya. Dengan etos kerja yang rendah, produksi akan terus menurun dan kualitas produksinya sangat buruk, sehingga akan menimbulkan ketimpangan dan kegoncangan. Sikap pandir dari sebagian besar anggota masyarakat dan kemiskinan tidak dapat dihindari lagi.

 

Rendahnya moral yang dimiliki suatu umat juga akan menyebabkan kemiskinan, karena dengan moral yang rendah itu, orang akan bersikap masa bodoh terhadap kesulitan dan kesengsaraan orang lain. Dengan moral seperti itu, manusia tidak akan merasa malu berbuat kejahatan. Mereka melakukan korupsi, manipulasi dan berbagai kejahatan lain yang menimbulkan kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Suatu masyarakat yang terjangkit dekadensi moral akan terjangkit penyakit yang disebut kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.

 

Peran kontrol dalam kehidupan di tengah-tengah umat sangat penting. Dengan kontrol yang baik dan disiplin maka akan membentuk masyarakat yang baik pula, sesuai dengan aturan yang berlaku. Sebaliknya bila kontrol lemah dan tidak disiplin, maka masyarakat akan menjadi kacau, penyelewengan akan timbul diberbagai lini kehidupan. Dengan berbagai penyelewengan dan tindakan mengabaikan norma-norma hukum, akan menimbulkan bencana dan jurang pemisah yang sangat lebar antara kaum kaya dan kaum miskin. Dengan demikian kemiskinanpun akhirnya tidak dapat dihindari, atau dijauhi. 

 

Akhir kalam: Cara terbaik untuk pengentasan kemiskinan adalah dengan jalan menutup faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kemiskinan itu, dibarengi dengan usaha lain yang bersifat konstruktif. Baiklah kita perhatikan sabda Nabi SAW : 

 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرِ الْكَبِيْرَ، وَيَرْحَمِ الصَّغِيْرَ، وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ، وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ (رواه أحمد والترمذي)

 

“Tidaklah termasuk golonganku, mereka yang besar dan kuat yang tidak mengasihi yang kecil dan lemah, atau mereka yang kecil dan lemah tidak menghormati yang besar, tidak berperintah kebaikan dan tidak mencegah kemungkaran”. (HR. Ahmad, No: 2329, Tirmidzi, No: 1921).

 

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, Salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×