• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Kamis, 30 Mei 2024

Hikmah

Kegembiraan Allah SWT atas Tobat Hamba-Nya 

Kegembiraan Allah SWT atas Tobat Hamba-Nya 
Kegembiraan Allah SWT atas Tobat Hamba-Nya (Ilustrasi: NU Online)
Kegembiraan Allah SWT atas Tobat Hamba-Nya (Ilustrasi: NU Online)

Tobat atau taubat adalah bentuk permohonan ampunan hamba kepada tuhannya atas perbuatan dosa yang dilakukannya. Lebih baik jadi mantan pendosa daripada menjadi mantan orang yang bertakwa. Allah Swt sangat menyukai terhadap hambanya yang suka bertaubat.


Hal tersebut sebagaimana namanya yang ke-14 yaitu الْغَفَّارُ. Al-Ghofur dan Al-Ghoffar adalah dua nama terindah dari asmaul husna milik Allah yang berasal dari akar kata yang sama. Al-Ghafur dan Al-Ghaffar merupakan pengembangan dari akar kata ghafara-yaghfiru yang berarti mengampuni, Allah yang maha pengampun.


Sekotor-kotornya manusia atas dosanya Allah akan mengampuninya jika ia mau bertaubat meminta ampunan kepada Allah Swt. Allah berfirman, artinya, “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. al-Furqan: 70).


Allah Swt sangat gembira jika hambanya mau bertaubat, karena dengan taubat manusia itu mengimani adanya siksa neraka dan mengimani ke esaan tuhannya. Seperti kisah seorang hamba yang menggambarkan betapa gembiranya Allah saat melihat hamba-Nya bertobat. Di dalamnya, digambarkan seorang pria yang bepergian seorang diri. Membawa bekal makanan dan minuman di atas untanya. Berjalan menembus tanah padang pasir yang kosong nan tandus. Tidak ada bahan makanan dan minuman sedikit pun di sana. Sungguh sangat mengancam keselamatan.   


Disebutkan dalam riwayat, wilayah itu tidak mungkin dilewati kecuali oleh orang yang benar-benar sudah menguasai medan dan jalan-jalan di dalamnya. Bekal makanan dan minuman yang dibawa untuk menembus perjalanan di wilayah itu harus cukup.  Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya pria itu melihat satu pohon di sana. Ia lantas menghampiri dan berteduh di bawahnya. Rasa lelah dan lapar benar-benar sudah mengalahkannya. Waktu istirahat pun tak mungkin ditunda. Namun, lelah dan lapar itu mendadak sirna tergantikan rasa kantuk yang amat berat. Hingga akhirnya tertidur.  


Tak sadar saat sejenak mata sang pria terpejam, unta tunggangannya terlepas. Ketika terbangun, ia tak lagi mendapatinya. Ia benar-benar terkejut bercampur bingung yang teramat sangat. Bukan saja kehilangan bekal makanan, tetapi juga kehilangan kendaraan tumpangan untuk melanjutkan perjalanan. Sementara perjalanan jauh di medan yang kosong dan tandus seperti itu rasanya tak mungkin dengan berjalan kaki.    


Ia kemudian mencoba mencari ke sana ke mari. Namun tidak menemukannya. Akhirnya ia kembali ke tempat semula. Saking lelahnya mencari, ia kembali tertidur pulas. 


Namun saat dirinya terbangun dan terduduk lesu, untanya kembali datang masih lengkap dengan bekal makanan dan minuman miliknya. Ia mendapati sang unta menyodorkan kembali tali kekangnya.  


Tak terbayang bagaimana gembiranya sang pria. Senang karena selamat dari kelaparan dan kebinasaan. Saking gembiranya, sampai-sampai ia salah berucap, “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu.”  


Rasulullah saw. menyampaikan betapa gembiranya sang pria. Namun, lebih gembira lagi Allah swt. saat melihat hamba-Nya bertobat. Kegembiraan-Nya melebihi kegembiraan pria tadi yang menemukan kembali unta dan bekal makanannya


Demikian sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Ahmad.


 لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ رَجُلٍ حَمَلَ زَادَهُ وَمَزَادَهُ عَلَى بَعِيرٍ، ثُمَّ سَارَ حَتَّى كَانَ بِفَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ، فَأَدْرَكَتْهُ الْقَائِلَةُ، فَنَزَلَ، فَقَالَ: تَحْتَ شَجَرَةٍ، فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ، وَانْسَلَّ بَعِيرُهُ، فَاسْتَيْقَظَ فَسَعَى شَرَفًا فَلَمْ يَرَ شَيْئًا، ثُمَّ سَعَى شَرَفًا ثَانِيًا فَلَمْ يَرَ شَيْئًا، ثُمَّ سَعَى شَرَفًا ثَالِثًا فَلَمْ يَرَ شَيْئًا، فَأَقْبَلَ حَتَّى أَتَى مَكَانَهُ الَّذِي قَالَ فِيهِ، فَبَيْنَمَا هُوَ قَاعِدٌ إِذْ جَاءَهُ بَعِيرُهُ يَمْشِي، حَتَّى وَضَعَ خِطَامَهُ فِي يَدِهِ، فَلَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ الْعَبْدِ، مِنْ هَذَا حِينَ وَجَدَ بَعِيرَهُ عَلَى حَالِهِ قَالَ سِمَاكٌ: فَزَعَمَ الشَّعْبِيُّ، أَنَّ النُّعْمَانَ رَفَعَ هَذَا الْحَدِيثَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَّا أَنَا فَلَمْ أَسْمَعْهُ 


Artinya, “Kegembiraan Allah atas tobat hamba-Nya melebihi gembiranya seorang pria yang membawa bekal dan persiapannya di atas unta. Pria itu berjalan hingga di sebuah tanah kosong nan tandus. Namun karena rasa kantuk mengalahkannya, ia kemudian singgah di bawah pohon. Saat matanya terpejam, untanya terlepas. Begitu terbangun dan menuju tanah tinggi, ia tidak melihat apa-apa. Kemudian ia menuju tanah tinggi yang kedua, tapi tidak melihat apa-apa. Begitu pun setelah menuju tanah tinggi yang ketiga, ia tidak mendapati apa-apa. Akhirnya ia kembali lagi ke tempat semula. Namun tak disangka ketika sedang duduk, tiba-tiba ia melihat untanya datang. Bahkan, unta itu meletakkan tali kekangnya di depan tangannya. Sementara senangnya Allah atas tobat hamba-Nya melebihi senangnya pria itu ketika menemukan lagi untanya dalam keadaan demikian.” (Lihat: Umar Sulaiman, Shahih al-Qashash an-Nabawi, [Beirut: Darun Nafa’is], 1997, halaman 251).       


Pelajaran yang dapat dipetik adalah: 
1. Hadits ini mengungkap keutamaan bertobat. Allah pun senang akan tobat hamba-Nya, bahkan lebih senang dari pria yang kembali menemukan untanya setelah sempat hilang di daerah yang membahayakan dirinya.             
2. Hadits ini juga menetapkan sifat bahagia pada Allah. Namun tentunya sifat bahagia yang layak dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya. Tidak seperti bahagianya makhluk, sebagaimana firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat,” (Q.S. al-Syura [40]: 11).  
3. Allah maha lemah lembut dan maha penyayang kepada para hamba-Nya. Salah satu buktinya, Dia mengembalikan unta milik seorang pria setelah putus asa mencarinya.   
4. Kita harus berhati-hati dalam setiap urusan. Selalu waspada terhadap barang yang dibawa dalam perjalanan.  
5. Allah tidak menghukum orang yang tidak sadar atau hilang kendali pikirannya akibat terlalu takut, senang, atau marah, meski mengatakan sesuatu yang salah.  
6. Contohnya pria dalam kisah di atas yang mengatakan, “Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu.” Seandainya dalam keadaan sadar, niscaya pria itu dianggap kufur kepada Allah. Wallahu a’lam.


Editor: Abdul Manap
 


Hikmah Terbaru