Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Mengenal Kitab Fathul Izar, Kitab Pendidikan Seks Santri Tingkat Lanjut

Mengenal Kitab Fathul Izar, Kitab Pendidikan Seks Santri Tingkat Lanjut
Mengenal Kitab Fathul Izar, Kitab Pendidikan Seks Santri Tingkat Lanjut (foto: iqra.id)
Mengenal Kitab Fathul Izar, Kitab Pendidikan Seks Santri Tingkat Lanjut (foto: iqra.id)

Khazanah mengenai pernikahan dan perkawinan merupakan pengetahuan yang penting untuk dikaji dan untuk diketahui. Kajian mengenai pernikahan atau perkawinan tersebut masuk dalam kategori kajian kitab Fiqh, yaitu Fiqh Munaqahah. Di pondok pesantren terutama pesantren Salaf kajian kitab mengenai pernikahan merupakan kajian yang populer dan pavorit bagi santri, antusiasmenya dalam mengaji kitab tersbeut begitu tinggi. 


Kurang lebih terdapat lima kitab yang menjelaskan mengenai pernikahan dan perkawinan, yaitu diantaranya Qurratul Uyun bi Syarhi Nadzam Ibn Yamun karya Syekh Muhammad at-Tahami Ibnu Madani, Uqudulujain  karya Syekh Nawawi al-Bantani, Dhau al-Misbah fi Bayani Ahkam an-Nikah karya KH Hasyim As’ari, Fathul Izar karya Agus Abdullah Fauzi, Irsyadu Zaujain karya Muhammad Utsman. Kitab-kitab tersebut diajarkan oleh ulama atau Kiai pada santrinya secara berjenjang sesuai umur dan kematangan pemikirannya.


Salah satu kitab Pavorit diantara kitab yang disebutkan, yaitu Fathul Izar Fi Kasyf al-Asrar li Awqat al-harts wa Khilqat al-Akbar, yang bermakna “Pembuka sarung di dalam Masalah Seputar Waktu Terbaik Menanam Benih dan Bentuk Keperawanan.” Kitab Fathul Izar ini merupakan kitab pendidikan seks tingkat lanjut, atau bagi santri ulya (tingkat atas). Kitab tersebut berisikan kajian mengenai pendidikan seks, tata aturan, adab berhubungan, posisi kenikmatan dan larangan, serta hari atau malam-malam yang diperbolehkan berhubungan seks yang dianjurkan oleh agama.


Sebagaimana kitab-kitab sejenisnya, sang penulis memulai pendahuluan atau mukadimah kitabnya dengan ulasan mengenai kesunahan menikah berdasarkan tuntutan Al-Qur’an dan Hadits. Kemudian menjelaskan mengenai sebab turunnya surat Al-Baqarah ayat 223.


نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (223)


“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman” (Qs. Al-Baqarah ayat 223)


Penulis menjelaskan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah perkataan orang-orang beriman kepada tetangga mereka yang beragama yahudi di kota Madinah “Sungguh kami menggauli istri-istri dengan berbagai gaya mulai dari berdiri, duduk, hingga telentang dan kami juga mendatangi istri-istri kami terkadang dari depan terkadang dari belakang”. Maka, para pemeluk agama Yahudi pun mengolok-olok mereka.


“Sungguh kalian berhubungan seks layaknya hewan berbeda dengan kami yang hanya melakukan hubungan seks dengan satu gaya saja karena kitab suci taurat telah berpesan bahwa melakukan hubungan seks selain dengan posisi telentang adalah kotor dihadapan Allah”.


Tak lama kemudian, turunlah ayat tersebut sebagai penegasan bahwa orang-orang beriman diperbolehkan menggunakan berbagai gaya ataupun style apapun dalam berhubungan seks asalkan tidak memasukkan zakar pada lubang dubur. Penting dicatat bahwa menurut para ulama ada malam-malam tertentu yang baik untuk berhubungan seks dan ada malam-malam yang harus dihindari, yaitu :


Malam Jumat, barang siapa yang sering berhubungan seks di malam jumat niscaya akan menghasilkan anak yang hafal Al-Qur’an.


Malam Sabtu, barang siapa yang sering berhubungan seks di malam sabtu niscaya akan menghasilkan anak yang memiliki kelainan mental ataupun gila.


Malam Minggu, barang siapa yang sering berhubungan seks di malam minggu niscaya akan menghasilkan anak yang suka mencuri ataupun suka berbuat zalim.


Malam Senin, barang siapa yang sering berhubungan seks di malam senin niscaya akan menghasilkan anak yang memiliki masa depan fakir, miskin serta ridho dengan rezeki yang sedikit.


Malam Selasa, barang siapa yang sering berhubungan seks di malam selasa niscaya akan menghasilkan anak yang berbakti kepada orang tuanya.


Malam Rabu, barang siapa yang sering berhubungan seks di malam rabu niscaya akan menghasilkan anak yang cerdas, memiliki pengetahuan yang luas, serta mudah bersyukur.


Malam Kamis, barang siapa yang sering berhubungan seks di malam kamis niscaya akan menghasilkan anak yang berhati baik dan ikhlas


Malam Hari Raya, barang siapa yang sering berhubungan seks di malam hari raya niscaya akan menghasilkan anak yang memiliki enam jari di setiap tangan dan kakinya.


Sedangkan, dalam berhubungan seks sebaiknya memulai dengan foreplay berupa memegang tangan istrinya, meremas buah dadanya, kemudian mencium kedua pipinya dan diakhiri dengan membaca basmalah ketika memasukan zakar ke dalam vagina. Sedangkan posisi ternikmat dalam seks menurut para ulama adalah istri bersiap dalam posisi telentang kemudian suami menindihnya dari atas dan memulai sesi foreplay dari mulai memeluk hangat hingga mencium segenap bagian yang menggairahkan dari badan istri. Hingga, pada saatnya nanti istri mulai terangsang sempurna maka wajib bagi suami untuk memulai ‘bercocok tanam’ pada vagina istri dengan tempo perlahan-perlahan agar istri dapat menikmati ‘pemainan’ suami.


Dan disunnahkah memulai foreplay dengan mencium dada istri seraya berdoa “Wa Alqaitu ‘Alaika Mahabbah Minni (dan aku tanamkan kepadamu cinta dariku)”. Kemudian, memasukkan zakar ke dalam vagina seraya membaca surat al-ikhlas, takbir, dan tahlil serta membaca doa “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Agung, ya Allah jadikanlah untuk kami keturunan yang baik serta lindungilah kami dan segenap rezeki kami dari gangguan setan”.


Tips memilih keturunan laki-laki dan perempuan


Tips agar mendapatkan anak laki-laki menurut para ulama adalah dengan mengambil posisi di sebelah kanan ketika hendak ejakulasi kemudian tidur disebelah kanan istri usai berhubungan seks. Kemudian, kelak ketika istri telah menunjukkan tanda-tanda kehamilan maka suami dianjurkan mengusap perut istri seraya berdoa “Bismillah, Ya Allah aku berjanji untuk memberi nama anakku dengan nama Muhammad, maka takdirkanlah anak yang dikandung ini berkelamin laki-laki”.


Setelah melakukan hubungan seks, suami dan istri dianjurkan untuk membersihkan kemaluan keduanya dengan kain ataupun tissu yang bersih. Dan dianjurkan untuk tidak memakai kain atau tissu yang sama dalam membersihkan kemaluan keduanya karena hal tersebut dapat menimbulkan kebencian diantara keduanya.


Sedangkan, menurut para ulama ada sepuluh ciri-ciri perempuan yang harus dihindari untuk dinikah yaitu; posturnya terlalu pendek ataupun terlalu tinggi, rambutnya tipis, terlalu cerewet, mandul, berwatak keras kepala, bersikap boros dan suka menghamburkan harta, suka mencuri, suka berhias ketika keluar rumah, dan bekas diceraikan orang lain.


Memang masih banyak hal yang tentu tak cukup bila kita jabarkan seluruhnya. Akan tetapi, hal terpenting dalam berhubungan seks adalah niat yang tulus untuk menghasilkan keturunan yang baik yang dapat dibanggakan umat islam. Hikmah dari seluruh uraian para ulama mengenai panduan berhubungan seks adalah adanya rasa kasih sayang serta kepedulian suami agar sang istri dapat menikmati setiap detik dalam hubungan badan yang nantinya akan menimbulkan jalinan kasih yang harmonis.


Untuk selengkapnya dan selebihnya bisa membaca atau mengkaji langsung kitab Fathul Izar


Editor: Abdul Manap
Sumber: alif.id.

Ubudiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×