Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Mengakrabi Profesi Kita

Mengakrabi Profesi Kita
Ilustrasi: Freepik.com.
Ilustrasi: Freepik.com.

Salah satu wujud dari sifat tabah, sabar dan tenang yang ada pada diri manusia adalah mengakrabi profesinya atau bidang garapannya masing-masing. Bila manusia mengakrabi secara sungguh-sungguh terhadap profesinya masing-masing, ia akan memperoleh sukses besar dalam kehidupannya. Sebaliknya bila ia tidak mengakrabi bidang garapannya, pasti akan menjumpai kegagalan yang fatal. Sayyidah ‘Aisyah ra meriwayatkan suatu hadis dari Rasulullah SAW: 


إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ (رواه البخاري ومسلم)


“Allah sangat akrab dan mencintai keakraban dalam segala hal”. (HR. Bukhari, No: 6024, Muslim, No: 2593). Sikap akrab merupakan modal awal dalam meraih keberhasilan komunikasi dan pendekatan berbagai masalah. Allah s.w.t. amat dekat dengan makhluk-Nya. Kita pun harus selalu bertaqarrub kepada-Nya dan bersikap akrab terhadap sesama. 


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ 


“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka katakanlah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaknya mereka itu memenuhi (perintah)-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Q.S. Al-Baqarah, 2 : 186).


Dengan mengakrabi profesi masing-masing, seseorang akan mencapai sukses. Bila dia seorang ilmuwan ia harus akrab dengan kegiatan ilmiah. Businessman harus akrab dengan kegiatan dan sistem bisnisnya, demikian juga seorang birokrat, petani, guru, nelayan dan sebagainya. Keakraban dan ketabahan merupakan dua sifat yang saling mengisi dan melengkapi, keduanya bisa dibedakan namun tidak bisa diceraipisahkan. Dalam suatu syair disebutkan bahwa dengan ketabahan dan keakraban orang akan memperoleh apa yang dicita-citakannya, bahkan besi yang keraspun bisa menjadi lunak بِالصَّبْرِ تَنَالُ مَاتُرِيْدُ وَيَلِيْنُ لَكَ الْحَدِيْدُ. (Dengan kesabaran engkau akan memperoleh segala yang kamu inginkan, bahkan besi yang keraspun bisa menjadi lunak).


Dalam syair lain disebutkan : 


اَلصَّبْرُ كَالسِّبْرِ مُرٌّ فِى مَذَاقَتِهِ لَكِنْ عَوَاقِبُهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ


“Ketabahan dan kesabaran bagaikan pohon jadam atau getah dari pohon bertawali (pohon yang melilit pada pohon lain, yang rasanya pahit dan getir), namun akibat daripadanya lebih manis dari madu”.


Syair tadi mengisyaratkan bahwa sikap tabah dan akrab dirasakan sangat berat untuk mengerjakannya, akan tetapi dapat mengantarkan mereka yang melakukannya pada pencapaian kebahagiaan yang hakiki dalam kehidupan dunia akhirat. Keakraban dan pendekatan yang baik, dapat mengubah hubungan manusia yang tadinya saling bermusuhan dan mencurigai menjadi teman dekat yang sangat mengental. Allah s.w.t. berfirman: 


وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ 


“Tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah keburukan itu dengan cara yang terbaik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antaranya saling bermusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dikaruniakan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Q.S. Fusshilat, 41 : 34).


Ayat itu mengisyaratkan secara jelas, bahwa kita semua akan mampu membangun persaudaraan yang kokoh di tengah-tengah masyarakat, apabila kita bisa melakukan komunikasi sesama mereka dengan penuh kesabaran dan keakraban. Kedua sikap yang terpuji itu dapat menghilangkan saling curiga antara anggota masyarakat dan menghilangkan kebencian yang terjadi di tengah-tengah mereka. Dari tuntunan al-Qur’an dan al-Sunnah diperoleh pelajaran yang sangat luhur, bahwa berhasil atau tidaknya perjuangan, besar atau kecil sangat tergantung pada nilai-nilai keluhuran akhlak dan budi pekerti.


Kegiatan puasa Ramadhan dan ibadah-ibadah lain yang kita kerjakan di dalamnya pada hakekatnya mendorong kita agar memiliki sifat-sifat yang mulia sebagaimana disebutkan di atas. Selanjutnya, kita sering menjumpai pemahaman sabar yang berkembang di masyarakat, diartikan dengan nrimo (menerima apa adanya tanpa ada usaha yang maksimal). Pemahaman seperti itu sebetulnya adalah keliru. 


Kesabaran dimaksud di sini, sesungguhnya adalah sikap yang tidak kenal menyerah dalam menekuni profesinya, meskipun dirasakan sulit dan memberatkan, sampai memperoleh sukses yang gemilang. Seorang pimpinan perusahaan harus bersikap tabah dalam menjalankan perusahaannya sehingga memperoleh kemajuan. Seorang pemimpin masyarakat, harus tabah terus membina masyarakatnya sampai berhasil. Seorang dosen terus tabah dengan profesinya sehingga menjadi seorang guru besar yang berhasil mencetak mahasiswanya menjadi sarjana-sarjana yang bermanfaat bagi masyarakat, dan seterusnya.


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×