Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Sejarah dan Proses Lahirnya JATMAN 

Sejarah dan Proses Lahirnya JATMAN 
Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) (Foto-jejakonline.com)
Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) (Foto-jejakonline.com)

Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) merupakan badan otonom yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang beranggotakan tarekat-tarekat muktabarah di Indonesia. Organisasi ini didirikan pada Juli 1979 M bertepatan dengan Rajab 1399 H. Secara harfiah, JATMAN ini berarti kumpulan para pengamal tarekat muktabarah NU.


Cikal bakal organisasi ini dibentuk di Jombang, Jawa Timur dengan nama Tarekat Nahdlatul Ulama yang diprakarsai oleh KH Muhammad Baidlowi, pemimpin NU di Jombang. Pendirian Tarekat Nahdlatul Ulama ditandatangani Muhammad Baidlowi, Najib Wahab, dan Khatib. 


Organisasi JATMAN kemudian dibawa ke Muktamar ke-26 di Semarang pada tahun 1979. Di dalam Muktamar, para sesepuh tarekat seperti KH Muslih Abdul Rahman, KH Turaichan Adjuri, KH Adlan Ali mengajukan usul pada sidang pleno Syuriyah PBNU agar jam’iyyah tarekat tetap satu langkah dan satu posisi dengan Ahlussunnah wal Jama’ah. Kemudian, lahirlah Jam’iyyah Ahluth Thraiqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah melalui Surat Keputusan PBNU nomor 137/Syur, PB/V/1980.


Sebelumnya, pada tahun 1957 M (Rajab 1399 H), para kiai NU telah mendirikan Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah yang bertujuan memayungi semua tarekat yang digolongkan sebagai tarekat mu’tabarah. Pendirian organisasi baru dengan menambahkan kata “an-Nahdliyah” tersebut disertai dengan dua alasan.


Pertama, para pengamalnya selalu tergerak untuk melaksanakan ibadah dan dzikir kepada Allah Swt, dengan mengikuti haluan Ahlussunnah wal Jama’ah dan madzhab empat, mengamalkan ajaran tasawuf dari para ulama salafush shalih, serta berperan aktif dalam pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Kedua, kata “an-Nahdliyah” juga dimaksudkan untuk membedakan diri dengan organisasi serupa yang bukan Nahdliyah, artinya yang bukan termasuk dalam badan otonom NU. 


Tujuan organisasi ini adalah mengusahakan berlakunya syariat Islam lahir dan batin dengan berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah yang berpegang kepada salah satu madzhab empat; mempergiat dan meningkatkan amal saleh lahir dan batin menurut ajaran ulama shalihin dengan suatu janji setia (bai’ah shalihah), menyelenggarakan pengajian (khususi) dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat (ulumun nafi’ah). 


Dalam hal struktur, organisasi ini mempunyai kepengurusan di tingkat pusat (Idaroh Aliyah), kabupaten atau kota (Idaroh Syu’biyah), kecamatan (Idaroh Ghusniyah), dan di tingkat desa atau kelurahan (Idaroh Syafiyah). (Ensiklopedia NU)

Terkait

Sejarah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×