• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Sabtu, 25 Mei 2024

Sejarah

KOLOM KANG IQBAL

Peringatan Hari Kelahiran: Dari Ritual Kuno ke Pesta Modern

Peringatan Hari Kelahiran: Dari Ritual Kuno ke Pesta Modern
Peringatan Hari Kelahiran: Dari Ritual Kuno ke Pesta Modern
Peringatan Hari Kelahiran: Dari Ritual Kuno ke Pesta Modern

Tiap tahun, mayoritas umat Islam terbiasa mengadakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang umumnya dipahami lahir pada 12 Rabiul Awwal pada Tahun Gajah atau 22 April 571 Masehi. Di Indonesia, pada tahun ini, kelahiran Nabi Muhammad akan diperingati secara nasional pada 28 September 2023. Untuk itu, pemerintah Indonesia menjadikan tanggal tersebut sebagai hari libur nasional seperti pada tahun-tahun sebelumnya.


Apakah peringatan ulang tahun tokoh agama hanya terjadi dalam masyarakat Islam? Apakah peringatan hari lahir merupakan hal yang baru dalam tradisi masyarakat dunia? Mengaca kepada sejarah, sebenarnya peringatan hari lahir bukanlah hal yang baru. Masyarakat manusia sudah memperingati hari lahir sejak zaman kuno sampai era modern ini.


Asal-usul di Zaman Kuno


Perayaan hari kelahiran atau ulang tahun adalah tradisi yang luas dan dihargai di budaya-budaya di seluruh dunia. Ini adalah waktu ketika individu berkumpul untuk menandai perjalanan tahun baru dari kehidupan, berbagi sukacita, dan menciptakan kenangan abadi. Sejarah perayaan ulang tahun adalah perjalanan yang menarik yang mencakup ribuan tahun, mencerminkan evolusi masyarakat dan kebiasaan mereka.


Asal-usul perayaan ulang tahun dapat ditelusuri kembali ke peradaban kuno. Di Mesir kuno, pada 3000 Sebelum Masehi (SM), Firaun dipercaya sebagai makhluk ilahi, bahkan dianggap Tuhan, dan karena itu ulang tahun mereka dirayakan tiap tahun. Ulang tahun spesial dirayakan dengan pesta dan upacara besar pada saat penobatan seorang Firaun. Orang-orang Yunani kuno (sekitar 1200-300 SM) juga merayakan hari kelahiran dan mereka sering menghubungkannya dengan persembahan kepada dewa dan dewi. Mereka biasa membuat persembahan di kuil pada hari spesial mereka.


Perayaan hari kelahiran semakin berkembang pada peradaban Romawi (sekitar Abad 8 SM – Abad 5 M).  Orang Romawi, dengan kekaisaran mereka yang luas dan tradisi yang beragam, berkontribusi secara signifikan pada pengembangan perayaan ulang tahun. Mereka merayakan ulang tahun dengan berbagai kebiasaan, termasuk memberikan hadiah, menyalakan lilin, dan menyelenggarakan pesta. Kebiasaan memberikan ucapan selamat ulang tahun, seperti "bona dies natalis" (bahasa Latin untuk "happy birthday"), berasal dari waktu ini.


Pengaruh Agama Kristen


Selama era Kristen awal, perayaan hari kelahiran mendapat reaksi beragam. Beberapa pemimpin Kristen awal menolak perayaan ulang tahun karena mereka menganggapnya  berasal dari tradisi pagan. Namun, ketika agama Kristen menyebar dan berkembang pada era-era berikutnya, hari kelahiran Yesus Kristus menjadi hari libur agama utama yang disebut Hari Natal atau Christmas. Pergeseran fokus ini dari ulang tahun pribadi ke perayaan tokoh-tokoh agama memainkan peran dalam membentuk tradisi ulang tahun.


Pada Abad Pertengahan, di Eropa terjadi penurunan perayaan hari kelahiran di kalangan orang biasa. Namun, di kalangan bangsawan, peringatan ulang tahun terus berlanjut untuk menandai hari-hari istimewa mereka dengan pesta dan hiburan yang besar dan mewah. Pada masa Renaissance, perayaan ulang tahun mulai mendapatkan kembali popularitasnya di seluruh kelas sosial.


Pada Masa Modern


Pada Abad ke-18, tradisi peringatan ulang tahun mengalami perkembangan lebih jauh. Di sinilah, muncul kue ulang tahun sebagai fitur penting dari perayaan. Di Jerman, ada Kinderfeste atau festival anak-anak, di mana kue ulang tahun dengan lilin ditambahkan pada peringatan ulang tahun seseorang. Tradisi membuat “birthday wish”, yaitu harapan atau doa ulang tahun sebelum meniup lilin, juga dimulai pada saat ini.


Di Amerika Serikat, perayaan ulang tahun mendapatkan momentum pada abad ke-19. Ini bermula dari pengaruh gelombang imigran yang membawa tradisi khas mereka ke Amerika. Pesta ulang tahun (birthday celebration) seperti yang kita kenal hari ini mulai mengalami bentuk baru. Permainan, dekorasi, dan hiburan menjadi bagian integral dari perayaan ulang tahun seseorang .


Abad ke-20 menyaksikan fenomena baru dalam peringatan ulang tahun: komersialisasi ulang tahun. Pebisnis melihat tradisi ini sebagai potensi ekonomi yang sangat besar. Perusahaan kartu ucapan, produsen mainan, dan toko suplai pesta mulai memasarkan produk khusus untuk ulang tahun. Pesta ulang tahun yang ekstravagant dengan dekorasi dan hiburan yang mewah menjadi hal biasa.


Pada masa kini, perayaan hari kelahiran telah mengalami tren baru di kalangan masyarakat: ulang tahun mengalami personalisasi, yakni diperingati sesuai selera individu, personalitas dan latar belakang budaya seseorang. Selain itu, sebagian orang lebih suka pertemuan intim dengan keluarga dan teman-teman dekat ketika memperingati ulang tahun. Bagi kelompok lainnya, mereka memilih pesta yang tidak biasa dengan segala keunikannya. Pesta ulang tahun virtual juga telah menjadi populer. Ini memungkinkan orang untuk terhubung dengan orang-orang terkasih di seluruh dunia lewat teknologi komunikasi digital.


Dari sejarah perayaan ulang tahun ini, kita melihat bukti dari keinginan manusia yang berkelanjutan untuk merayakan sebuah tahapan kehidupan yang dianggap penting dan menciptakan kenangan yang berharga. Dari ritual kuno sampai pesta ulang tahun modern pada hari ini, ulang tahun telah berkembang secara signifikan selama berabad-abad. Meskipun  komersialisasi telah mempengaruhi tradisi ulang tahun pada masa modern ini,  merayakan dan memperingati tahun diri sendiri atau orang lain tetap menjadi tradisi yang sangat berarti dan dihargai di banyak budaya di dunia.


Dalam peringatan hari kelahiran ini, Indonesia tidak terkecuali. Di negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia ini,  peringatan hari kelahiran dengan ragam bentuknya umum diadakan, terutama hari kelahiran tokoh agama seperti peringatan maulid, hari kelahiran Nabi Muhammad oleh masyarakat Muslim pada tiap tahun.


Asep M Iqbal, PH.d, Direktur Centre for Asian Social Science Research (CASSR)


Sejarah Terbaru