Jatman Purwakarta Ungkap Kiprah Syekh H Muhammad Yusuf Sang Mahaguru Ulama Nusantara Abad 19
Senin, 4 Juli 2022 | 17:00 WIB
Purwakarta, NU Online Jabar
Jam'iyah Ahli Toriqoh Al Mu'tabaroh an-Nahdliyah (JATMAN) Idaroh Syu’biyyah Kabupaten Purwakarta menggelar seminar terkait sejarah dan karya Syekh Baing Yusuf yang menghadirkan narasumber seorang Filolog pakar naskah ulama nusantara yaitu Ahmad Ginanjar Sya’ban di Ponpes Al-Muhajirin 3, Minggu (03/7).
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat KH. Abun Bunyamin, Mudir Wustho JATMAN Jawa Barat, KH. Eep Nuruddin.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Ginanjar mengungkapkan bahwa sosok Syekh Rd. Muhammad Yusuf atau Baing Yusuf Purwakarta (w. 1854) merupakan salah seorang seorang ulama besar asal Sunda yang hidup di paruh pertama abad ke-19 dan menjadi kiblat keilmuan para ulama pada zamannya. Sayangnya sosoknya telah dilupakan oleh generasi masa sekarang ini.
Ia juga menjelaskan, Syekh Baing Yusuf adalah guru dari Syekh Nawawi Banten (w. 1897), Syekh Asy’ari Bakom Bogor (w. 1901), Rd. Haji Hasan Cianjur (Mursyid Tarekat Khalidiyah Naqsyabandiah) yang wafat di Singapura (w. 1848), Kiai Abdul Salam Hood, penghulu Purwakarta-Karawang akhir abad 19 M dan tokoh-tokoh penting lainnya, seperti yang dilansir dari jatman.or.id
“Kita bisa mengatakan jika Syekh Baing Yusuf Purwakarta adalah salah satu pilar utama sanad keilmuan dan episentrum tradisi intelektual Islam tradisional di tatar Sunda pada zamannya," tuturnya.
Pria yang akrab disapa Kang Ginanjar tersebut juga menjelaskan, selain Syekh Baing Yusuf Purwakarta, pilar-pilar sanad keilmuan ulama Sunda pada generasi yang bersamaan adalah Kiai Mulabaruk Garut (w. 1850-an), Kiai Ubaidah Sidoresmo Surabaya (w. 1860-an), Kiai Hasan Basori Kiarakoneng (w. 1865), Kiyai Hasan Maulani atau Ki Ageng Lengkong Kuningan (w. 1874), Kiai Shoheh Bunikasih Cianjur (w. 1885) dan lain-lain.
Hal penting lainnya adalah para ulama yang menjadi pilar tradisi keilmuan Islam ini juga memiliki jejaring dengan pasukan ulama-santri Perang Diponegoro (Java Oorlog, 1825-1830).
Dalam kesempatan yang sama, Kang Ginanjar juga menuturkan, Syekh Baing Yusuf memiliki sejumlah karya di antaranya Risalah Tasawuf dan Fikih yang ditulis dalam bahasa Sunda Pegon yang pernah dicetak secara litograf oleh percetakan al-Muhammadi yang berbasis di Bombay (sekarang Mumbai, India) pada tahun 1332 H (1913 Masehi).
Sebagi informasi, dalam kegiatan tersebut juga dihadiri pula oleh jajaran pengurus JATMAN Syu’biyyah dan Ghusniyyah Purwakarta, PCNU Kabupaten Purwakarta serta beberapa pimpinan atau pengasuh pondok pesantren, staf ahli bupati, kepala bidang kebudayaan perpustakaan Purwakarta dan ahli silsilah keluarga Syekh Baing Yusuf generasi ke-5.
Editor: Khoirum Millatin
Terpopuler
1
Khutbah Jumat Terbaru: Bulan Rajab, Momentum untuk Tingkatkan Kualitas Spiritual Diri
2
Resmi, Embarkasi Haji Indramayu Jadi Lokasi Gelaran Peringatan Harlah ke-102 NU dan Muskerwil PWNU Jawa Barat 2025
3
PWNU Jawa Barat Tunjuk KH Anang Jauharudin Jadi Ketua Panitia Harlah ke-102 NU Jabar dan Muskerwil 2025
4
PPG Kemenag Dibuka Mulai Maret untuk 269 Ribu Guru, Ini Kriterianya
5
Relevansi Tema Harlah NU ke 102 dengan Nilai-Nilai Keindonesian
6
Jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PWNU Jawa Barat Terima Kunjungan Pj Gubernur di Kantor, Ini yang Dibahas
Terkini
Lihat Semua