Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Relevansi Tradisi & Ritual Nusantara dengan Islam

Relevansi Tradisi & Ritual Nusantara dengan Islam
Ilustrasi: NUO.
Ilustrasi: NUO.

Setiap masyarakat mempunyai cara tersendiri dalam merepresentasikan perilaku kehidupannya. Hasil dari perilaku yang dibuatnya itu kemudian menjelma menjadi sebuah identitas yang melekat erat sebagai bentuk realisasi dari pikiran, ucapan, dan tindakannya. Selanjutnya, identitas tersebut kemudian menjadi sebuah norma dan aturan sebagai pengarah dalam menjalankan aktivitas kehidupan sehari-harinya.


Hal ini kiranya yang dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat Indonesia (baca: Nusantara) tradisional. Bagaimana ketika norma dan etika dalam kehidupan masyarakat setempat diaktualisasikan dalam bentuk perayaan-perayaan yang sifatnya komunal. 


Sebelum Islam datang ke Nusantara, penduduk pribumi mengenal perayaan-perayaan tradisi yang sifatnya komunal. Perayaan-perayaan itu biasanya dilakukan sebagai wujud penghambaan diri atas apa yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa. 


Berbagai kenikmatan yang diberikan Tuhan, baik berupa hasil alam yang melimpah, umur yang panjang, kesehatan, rizki yang didapat, selalu dihubungkan dengan perayaan-perayaan yang khas. Proses perjalanan kehidupan manusia dari masa melahirkan, kanak-kanak, remaja, dewasa, masa tua, hingga masa mati pun selalu dihubungkan dengan perayaan-perayaan.


Misalnya, tradisi tumpengan dimaksudkan untuk mensyukuri atas nikmat yang telah diraih; tradisi tingkeban, brokohan, puput puser, tedhak siten (turun tanah), dimaksudkan untuk merayakan hari-hari disaat  mengandung; siraman, pangantenan, ngunduh mantu, dimaksudkan untuk merayakan hari pernikahan; sesaji, tulak bala, ruwatan, bersih desa, dimaksudkan agar kehidupan terhindar dari segala marabahaya; nyadran, ruwahan, dimaksudkan untuk mengirim doa bagi manusia (arwah) yang telah meninggal; dan perayaan-perayaan yang lainnya. 


Dari keberadaan perayaan-perayaan yang disebutkan di atas, maka dapat dipahami bahwa masyarakat pribumi Nusantara bisa dibilang sebagai tipe masyarakat yang pandai bersyukur dan mempunyai rasa empati terhadap sesama. Hal ini kiranya sesuai dengan apa yang diungkapkan dalam falsafah Jawa dan Sunda bahwa manusia itu harus bisa “mulih ka jati mulang ka asal” (kembali kepada diri sejati atau rumah sejati) serta dapat “sangkan paraning dumadi” (memikirkan dari mana ia berasal dan akan kemanaa ia kembali).


Sementara, ketika Islam datang ke Nusantara yang secara masif dibawa dan disebarkan oleh para Wali Songo, perayaan-perayaan khas pribumi seolah mendapat legitimasi dari ajaran Islam.


Misalnya, dalam Islam terdapat sebuah keterangan (hadis) bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan Tuhan melalui empat tahapan (nutfah/sperma-alaqah/segumpal darah-mudghah/segumpal daging-dan ruh/nyawa) serta diberikan-Nya dengan empat perkara yang telah ditentukan yaitu rezeki, ajal, amal, dan bahagia atau duka. (HR. Bukhari dan Muslim). Lebih lanjut lagi ditegaskan dalam QS. al-Mukminun [23]: 12-14 bahwa Allah SWT menciptakan manusia itu dengan tujuh tahapan, yaitu dari sulalatin min thin (saripati yang berasal dari tanah), nutfah (mani), ‘alaqah (segumpal darah), mudghah (segumpal daging), ‘idhomaan (tulang), lahman (daging), kemudian menjadi khalqaan (manusia). 


Tradisi tingkeban oleh para Wali Songo dilihatnya sebagai perayaan yang tidak ada dalam budaya Islam. Namun karena maksud dan tujuan kontekstualnya ditujukan untuk keselamatan janin, maka dua keterangan di atas dijadikan alat untuk melegitimasi kebolehan tradisi tingkeban. 


Begitu pula dengan tradisi-tradisi yang lain seperti brokohan (selamatan kelahiran bayi) dalam Islam itu dikenal dengan istilah aqiqah, tumpengan sebagai ungkapan rasa syukur pengejawantahan dari QS Ibrahim [14]: ayat 7 yang artinya “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan! Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku (Allah) akan menambah (nikmat) kepadamu. Namun, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”; sementara sesaji, tulak bala, ruwatan dan bersih desa sebagai permintaan perlindungan agar terbebas dari marabahaya.


Hal ini selaras dengan hadis “sedekah itu dapat menolak bala dan dapat memanjangkan umur”. Adapun untuk nyadran dan ruwahan merupakan pengejawantahan dari ziarah kubur sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW bahwa “sesungguhnya pada ziarah kubur itu ada pelajaran (bagi yang hidup); serta ziarah kubur itu dapat membuat zuhud terhadap dunia dan dapat pula mengingatkan kita pada alam kematian atau akhirat”.


Alhasil, semua tradisi yang disebut dan yang lainnya itu menunjukkan pada bukti-bukti telah terjadinya proses Islamisasi sosial keagamaan yang dimainkan oleh para Wali Songo dalam rangka pembumian ajaran Islam di Nusantara. Tradisi-tradisi di Nusantara tidak dilihatnya sebagai tradisi yang bertentangan dengan Islam. Jika ada bagian dari tradisi itu bertentangan dengan Islam, maka subtansinya yang dirubah. Sementara tampilan fisik tradisinya tidak dirubah.


Sehinggaa dengan demikian, bagi masyarakat muslim Indonesia, tradisi-tradisi yang kini berkembang sebagaimana disebutkan di atas menjadi sesuatu yang dianggapnya tidak lebih dari sebuah ‘baju’, atau sebuah ‘wadah’ yang tidak bertentangan dengan ‘isi’, yaitu Islam itu sendiri. 


Wadah dalam arti wujud fisik luar bisa saja tetap Melayu, Minang, Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Makasar, atau pun yang lainnya. Namun ‘isi’ dan ‘roh’nya akan tetap Islam. Dengan demikian wadahnya boleh berbeda, namun hal itu tidak akan menghalanginya untuk tetap menjadi Islam. Bahkan lebih ‘Islami’ dari pada orang Arab sendiri. Wallahu’alam


Rudi Sirojudin Abas Penulis adalah seorang peneliti kelahiran Garut.

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×