• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 26 Februari 2024

Opini

Perempuan dan Media

Perempuan dan Media
Taniah Ketua Komisariat PMII STAI Dharma Kusuma Indramayu. (Foto: NU Online Jabar/Ozie)
Taniah Ketua Komisariat PMII STAI Dharma Kusuma Indramayu. (Foto: NU Online Jabar/Ozie)

Oleh Taniah
Sebagai perempuan di masa kini, perempuan perlu membuktikan bahwa seorang perempuan pantas untuk berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan. Perempuan saat ini bukan seorang kapitalis namun perempuan yang mampu memajukan industri melalui teknologi digital.


Di sisi lain, pendidikan bukan hanya bersumber dari sekolah, saat ini kita dapat berbagi ilmu melalui media massa. Mengikuti sosialisasi dan pelatihan online merupakan langkah awal memperluas jangkauan pendidikan dengan memanfaatkan teknologi digital. 


Sudah banyak perempuan yang paham akan teknologi, namun kelalaian teknologi seperti meng-upload hal- hal privasi dapat mengakibatkan pemudaran norma, adat dan budaya. Kelalaian ini juga menjadi tantangan pribadi bagi perempuan dalam mengikuti perkembangan teknologi. Namun, tetap menjaga batasan-batasan yang telah diatur.


Perkembangan media berkembang semakin pesat. Sesuatu yang sebelumnya dipandang mustahil di masa lalu, sekarang menjadi sesuatu yang nyata saat ini. Hubungan perempuan dan media hakikatnya adalah hubungan yang kompleks dan problematis. 


Pertama, dalam konteks zaman millenial, seperti ramalan Alfin Tofler, perempuan dalam ranah informasi yang berkembang pesat akibat kemajuan teknologi informasi, hanya menjadi objek pasif dari kepentingan nalar patriarki yang bekerja di belakang media massa. 


Kedua, perempuan dalam visualisasi media massa, hanyalah alat akumulasi modal berdasarkan streotipenya sebagai objek hasrat. Ketiga, perempuan dalam pemberitaan-pemberitaan media massa seringkali menjadi korban akibat reportase yang tidak berperspektif perempuan.


Internet tidak hanya merevolusi cara perempuan dalam berinteraksi yang menembus jarak, ruang, dan waktu. Tetapi ia juga hadir dengan budayanya sendiri memengaruhi watak perempuan dalam berkomunikasi, keakraban dengan suatu yang alami dan nyata, kini telah terganti dengan sesuatu yang tidak nyata.


Kealamian pun bahkan dianggap sebagai kesemuan, namun ilusi dianggap nyata internet dianggap telah menciptakan realitas baru yang dikenal sebagai virtual.


Perempuan dan media sangat menarik untuk dicermati.di satu sisi ada peralihan cara perempuan dalam sumber informasi,bertemu,berbicara,belajar bahkan berdagang melalui media yang menjadi subjek. Bahkan di sisi lain perempuan pun menjadi beragam bentuk


kejahatan yang dilakukan di media tanpa disadari. di sisi lain pun perempuan masih saja menjadi korban kekerasan secara verbal dan visual dalam bentuk pornografi.


Dalam pandangan masyarakat pun peristiwa yang disajikan dalam media merupakan hasil dari konstruksi pekerja media yang memang dimungkinkan dapat memperkuat streotip masyarakat yang sudah ada dalam nilai-nilai di dalamnya.


Memang dalam media ini bukanlah suatu hal yang membuat ketidaksetaraan gender, tergantung bagaimana kita mau menggunakannya,namun media pun banyak hal lain di dalamnya bisa jadi baik dan tidak baik, kita bisa memanfaatkan, Melestarikan bahkan memperburuk ketidakadilan terhadap perempuan dalam masyarakat.


Maka dari itu kita sebagai perempuan dalam perkembangan media ini seharusnya bisa mulai dari diri sendiri dalam menantang kehidupan Media. 


Perempuan harus lebih aktif lagi dalam media,baik di media cetak atau elektronik. Dan bukan hanya kita saja, tapi semua para pengguna media sebisa mungkin harus belajar terlebih dahulu cara penggunaan media dengan baik dan harus meluaskan pola pikirnya tentang suatu topik yang ditampilkan di media, apalagi perempuan yang sangat seksi sekali ketika bermain Media. 


“Terutama perempuan” semakin banyaknya kejahatan kejahatan lewat media dan sebagian besar korbannya kebanyakan dari perempuan, kita sebagai perempuan harus mempunyai tameng berupa ilmu, pola pikir yang luas dan mempertimbangkan apapun yang akan kita lakukan terutama yang akan dimunculkan ke media, karena kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan dilakukan orang lain di luar sana oleh karena itu kita sendirilah yang mengendalikan diri kita untuk menghadapi keadaan di luar sana.


Namun ada Baiknya juga Seorang perempuan harus lebih peduli lagi dengan keamanan di dunia digital dan bijak dalam memilah informasi, khususnya di media sosial. Menjadi sosok perempuan di era teknologi digital merupakan sebuah tantangan, namun jika dimanfaatkan dengan baik maka hal ini dapat menjadi peluang dalam mengangkat derajat perempuan itu sendiri.


Oleh karena itu, untuk seluruh perempuan di negeri ini marilah menjadi “Kartini” di era digital dan melahirkan karya-karya baru yang dapat memajukan keluarga, bangsa, dan negara.


Penulis merupakan Ketua Komisariat PMII STAI Dharma Kusuma Indramayu


Opini Terbaru