Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Keburukan Anak Sang Kiai 

Keburukan Anak Sang Kiai 
Keburukan Anak Sang Kiai. (Ilustrasi: NUO).
Keburukan Anak Sang Kiai. (Ilustrasi: NUO).

Apa yang saya tuliskan di bawah ini bukan hendak mengajak pembacanya agar gampang berburuk sangka, tidak pula bermaksud untuk memukul rata, karena sifatnya yang kasuistik. Namun, apa yang saya tuliskan ini agar kita bisa merenungi sebuah fenomena sosial keagamaan, supaya kita bisa bersikap adil, proporsional, dan tidak terjebak dalam penghormatan yang tidak sepatutnya terhadap sesama manusia yang tidak terjaga dari lalai, salah, dan dosa.


Kita harus belajar memetik hikmah dari setiap peristiwa--yang secara lahir terlihat--buruk. Kita dihadapkan pada sebuah fenomena lahiriyah, bahwa memang tidak sedikit anak pemuka agama Islam (kiai, guru, tuan guru, syaikh, mursyid, ajengan, ustadz, tengku, buya, dll.) --apalagi yang bukan--yang senyatanya suka menyepelekan orang lain, sulit menerima  nasehat (kritik konstruktif) yang meskipun disampaikan oleh para sahabat orang tuanya yang juga sudah sepuh, bahkan tutur kata dan gerak geriknya dirasa kurang santun di hadapan orang yang lebih sepuh.


Adapun soal apa yang tersembunyi di dalam hati mereka bukanlah urusan kita, karena hanya Allah Yang Maha Mengetahui.


Fenomena buruk di atas kian menyata karena anak-anak pemuka agama tersebut sejak kanak-kanak sudah terbiasa menerima puja puji sebelum tiba saatnya, dihormati secara berlebihan, diciumi tangannya, dikabulkan segala permintaannya, terlalu dimanjakan dan ia hidup di bawah bayang "fasilitas kekuasaan" orang tuanya yang disegani oleh orang-orang di sekitarnya. 


Andai saja setiap mereka--pemuka agama--itu mengawasi dan membimbing perjalanan ruhani putra putrinya dengan kebenaran dan cara yang benar, tidak sesekali membela kesalahannya, sedang anak para ulama itu menyadari sejak dini, bahwa ia dihormati karena memuliakan orang tuanya dan ia mampu meneladani akhlak mulia orang tuanya, niscaya mereka semua juga menjadi manusia yang ilmunya bermanfaat, saleh, yang senantiasa rendah hati, tidak haus pujian, tidak gila hormat, tidak menyalahgunakan pengaruh orang tuanya untuk memenuhi segala dorongan syahwatnya, menjaga kehormatan diri, berbaik sangka, menyayangi sesama, hidupnya diarahkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, memprioritaskan keselamatan, menjadi rahmat, dan mengupayakan berkah (bertambahnya kebaikan) baik untuk dirinya sendiri maupun untuk sesamanya.


KH Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriah PBNU 2010-2021

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×