• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 28 Mei 2024

Opini

Identitas Arab Itu Ilusi: Satu Catatan Penting dari Seorang Habib yang Bangga Menyebut Dirinya Indonesia

Identitas Arab Itu Ilusi: Satu Catatan Penting dari Seorang Habib yang Bangga Menyebut Dirinya Indonesia
Identitas Arab Itu Ilusi: Satu Catatan Penting dari Seorang Habib yang Bangga Menyebut Dirinya Indonesia
Identitas Arab Itu Ilusi: Satu Catatan Penting dari Seorang Habib yang Bangga Menyebut Dirinya Indonesia

Sepertinya masih terlintas di benak kita, bahwa beberapa waktu ke belakang kita disuguhkan dengan polemik terkait dengan persoalan kehabiban di Indonesia yang begitu menyita perhatian publik. Polemik kehabiban dipicu setelah adanya temuan ilmiah yang menerangkan bahwa para habaib (keturunan Nabi Muhammad SAW) di Indonesia silsilahnya hanya terhenti pada  Alwi bin Ubaidillah (Bani Alawi), dan tidak tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. 


Saya tidak akan terlalu jauh masuk ke dalam ranah kehabiban, karena memang bukan kapasitas saya untuk membahasnya. Oleh karena itu, maka biarkanlah mereka yang mempunyai kapasitas untuk dapat menjelaskan terkait kehabiban yang tentunya didukung dengan argumen-argumen yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. 


Pada kesempatan ini, saya hanya menyampaikan sebuah catatan ilmiah yang ditulis oleh seseorang yang tampaknya seorang habib, namun dengan sengaja enggan menampakkan kehabibannya, malah dengan yakin dan bangga menampakkan keindonesiaannya dari pada kehabibannya. 


Musa Kazhim Alhabsyi orangnya. Di tengah-tengah sebagian orang tampak berusaha untuk membumikan Arabisasi di Indonesia, ia malah dengan sangat lantang dan berani menyampaikan bahwa identitas Arab itu ilusi. Baginya, identitas Arab yang sesungguhnya adalah bukan terkait dengan etnik, melainkan terkait dengan kemampuan dalam berbahasa Arab. 


Menurut Musa Kazhim Alhabsyi, secara sederhana identitas Arab itu adalah suatu kategori bahasa, bukan satu jenis ras tertentu, apalagi ras yang paling unggul. Arab itu menurutnya meliputi berbagai bangsa dan ras yang berbeda-beda seperti halnya bangsa dan ras yang lain. Oleh karena itu, menegaskan identitas Arab terhadap satu komunitas seolah-olah ia sebagai suatu identitas monolitik merupakan suatu kemunduran dan kesalahan. 


Meskipun baru membaca sampai bagian pengantar, ada banyak hal yang saya dapatkan terkait dengan identitas kehabiban dan kearaban. Misalnya, kecenderungan meng-Arab dan meng-Habibkan kepada kalangan keturunan Yaman di Indonesia khususnya Bani Alawi merupakan hal yang baru yang dapat dikatakan sebagai sebuah kemunduran. Hal ini disebabkan karena pada zaman-zaman sebelumnya, berabad-abad lamanya, orang-orang keturunan Yaman (termasuk di dalamnya para walisongo) sesungguhnya telah membaur bersama pribumi. 


Selain itu, peng-Arab-an yang selama ini terjadi sebenarnya berawal dari propaganda pemerintah kolonial Belanda. Pada masa penjajahan, pemerintah kolonial Beladana berusaha untuk memisahkan keturunan Arab dan Pribumi dengan tujuan agar keturunan Arab (Yaman) tidak berpihak kepada Pribumi. 


Buku “Identitas Arab Itu Ilusi, Saya Habib Saya Indonesia” yang ditulis Musa Kazhim Alhabsyi menjadi penting untuk dibaca, karena dengannya akan menjadi jelas terkait pemahaman tentang siapa dan apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan Arab, serta apa kesamaannya dan perbedaannya dengan Yaman dan Hadramaut. Buku ini juga menjadi sebuah bahan introspeksi bagi para habaib untuk tidak menjadikan identitasnya itu sebagai bahan legitimasi bahwa kehabiban menjadi tolok ukur kemuliaan seseorang. 


Buku “Identitas Arab Itu Ilusi, Saya Habib Saya Indonesia” saya kira tidak dimaksudkan untuk mendeskreditkan dan mendegradasikan identitas kehabiban yang sudah ada. Para keturunana Nabi yang memiliki kapasitas keulamaan-yakni, memiliki kedalaman ilmu dan ketinggian maqam keruhanian- tetap akan muncul dan diakui masyarakat secara alami meskipun penegasan atas kehabibannya itu tidak dipublikasikan. Seperti yang disebutkan dalam buku ini-dan dibenarkan oleh para tokoh besar para sayid sendiri-bahwa kesayidan hanya akan relevan jika didukung dengan ciri-ciri kebaikan agama, termasuk ilmu, spritualitas, dan akhlak mulia. Karena, pada hakikatnya, kebaikan seorang Muslim-siapa pun dia- hanya dilihat dari kriteria ketakwaannya kepada Allah SWT. 


Kriteria-kriteria ketakwaan itu pun tak bisa diukur hanya dengan penampilan ras, dinasti, atau simbolik saja. 


Lantas, bagaimana apabila identitas simbolik terkait dengan kehabiban seseorang dihilangkan tidak akan timbul kesulitan dalam menjalankan syariat agama (menurut mazhab Syafi’i) bahwa keturunan Nabi yang miskin tidak diperbolehkan menerima zakat (kecuali dari sesama keturunan Nabi)? Dan juga (menurut mazhab Syafi’i) pula bahwa syarifah (perempuan di kalangan keturunan Nabi) tidak boleh menikah dengan kalangan non-sayid? Jalan keluarnya adalah melalui praktik atau tradisi ferivikasi dan validasi terkait silsilah atau nasab Nabi sehingga kerancuan atau pelanggaran terhadap perintah syariat (menurut mazhab tertentu) dapat dihindari. 


Selamat Membaca.


Judul Buku: Identitas Arab Itu Ilusi, Saya Habib Saya Indonesia!
Penulis: Musa Kazhim Alhabsyi
Penerbit: PT Mizan Pustaka, Bandung
Cetakan: 2022
Tebal: 216 Halaman
ISBN: 978-602-441-279-1


Rudi Sirojudin Abas, salah seorang peneliti kelahiran Garut.


Opini Terbaru